Elang Rimba

AKU menatapmu, diam-diam, dari balik rumpun bunga yang merindang. Kau menatap arah berlawanan, tentunya aku mengerti, kau menunggu. Ada sesuatu yang mengaliri jiwa, entah rindu entah ngilu. Kau selalu begitu, menunggu. Setelah janji yang tak bisa kupenuhi semalam dan aku mendatangimu pagi ini, memenuhi janji.

Mungkin kau selesai sarapan dan tegak dengan gayamu, tentu aku suka. Urakan, dengan kaos hitam dan jeans kumal, kau keren di mataku. Aku melihatmu berbeda pagi ini, lelaki yang penuh ambisi pada jalannya, berkelana dan terkadang kasar, meski bukan padaku, tetapi kau sabar, menunggu, menungguku.

Saat firasatmu menangkap ada yang memperhatikan, kau menoleh dan aku pun maju, menemuimu. Dalam diam, kita bersisian, berjalan dan tentu tanpa kata, tanpa tanya, cukup hati yang berbicara. Ini tahun ke berapa? Sejak pertama kita mengelana di kota tanpa jeda, kota yang mempertemukan juga, 9, 10 atau 11? Ah, itu tidak penting.

“Kau pun terlambat kali ngasi kabar kalau datang,” aku menggumam, pelan.

“Mana pula kupikir kau akan pergi. Kan kau selalu di sini, di tempat yang aku selalu gampang menemui,” katamu, juga pelan.

Aku suka, karena kau tak pernah bertanya dengan nada cemburu apalagi ingin sangat amat tau, aku ke mana, dengan siapa, mengapa. Kau memahamiku sangat baik, karena aku adalah makhluk yang tidak suka dengan penekanan, penguasaan apalagi merampas kemerdekaan hati dan jalanku. Kau paham itu. Kau hanya diam mengikuti jalanku, tetapi sigap menangkap tanganku saat aku hampir jatuh. Kau juga siap mendegar segala ocehku kala lagi marah.

Lalu kita, seperti biasa, akan bercerita, amat panjang, bukan tentang kita ya bukan tentang kita, tapi tentang perjuangan, meski dengan cara kita, menegakkan kebenaran yang menurut kita harus ditegakkan, tentang politik yang centang-perenang, tentang karir yang dinodai kepentingan tentang dunia yang terus berobah, tetapi nilai-nilai kemanusiaan dan idealisme tidak akan berubah, tetap pada sumbu yang sama, tentang hidup rakyat yang lebih baik, merdeka, berkeadilan dan berkesejahteraan..

Ketika suara habis, kita hanya akan saling pandang, kemudian sesaat akan sibuk dengan gadget masing-masing. Entah apa yang kita tulis atau entah pesan siapa yang sedang kita jawab, masih tetap dengan keadaan yang sama, tanpa pertanyaan apalagi penekanan. Kita berdua tetapi kita saling memerdekakan hidup masing-masing.

Tentu tidak akan ada percakapan tentang masa depan, karena kita telah jatuh bangun dalam prahara masa lalu, meski selalu saling ada dalam setiap prahara itu, meski tak saling bertanya, tak saling menyapa, hanya diam dan menatap dari jauh. Tapi begitu prahara itu akan menghancurkan, apa pun resiko, kita sama, akan saling mengulurkan tangan.

Kadang dunia mempermainkan hidup sampai tingkat yang kita tidak sanggup menahankannya. Bukan hanya nyeri pilu tapi juga amarah dan dendam kesumat. Tetapi kita harus melaluinya karena ada tanggungjawab yang tidak boleh di

sia-siakan, tanggung jawab pada hidup dan kehidupan, pada bumi, pada alam karena sebagai makhluk Tuhan tentu manusia tidak boleh menyerah, putus asa apalagi depresi hanya karena prahara. Lalu diam, tapi takut bunuh diri. Akhirnya sembunyi dari hiruk pikuk dunia. Tapi sungguh, itu tindakan pengejut.

Dan kita sama, tidak akan mengizinkan kata pengecut mampir dalam larik tulisan tentang sejarah hidup, yang meski pun tidak akan tertulis tetap akan jadi perbincangan dari mulut ke mulut. Betapa meruginya mereka yang putus asa dan untuk kata ini, putus asa, kau dan aku adalah pemenangnya, karena kita selalu optimis dan tidak putus asa, karena kita terus berbuat, terus bekerja.

Aku memandangmu, Elang Rimba, yang kulikmu dulu tiada didengar dan aku mengikuti proses itu. Sekarang kau adalah rajanya Elang Rimba dan aku juga suka, karena aku ada dalam proses itu, meski menyaksikan dalam diam, dalam hening, dalam jiwa yang bergetar sesaat, ketika namamu melintas, lalu hening, lalu sepi, tapi ada dan akan selalu ada.

“Aku akan selalu datang, selalu ada,” kau bicara pelan, entah pada jiwa mu entah pada diri ku, ketika saatnya pertemuan ini harus berakhir, karena tugas sudah memanggil. Dan aku tidak mengucapkan terima kasih meski baru saja tangan mu menggapai tangan ku, ketika dunia hampir saja memporandakan kekuatan ku.

“Mungkin aku akan berangkat, dalam beberapa hari ke depan,” aku juga pelan berucap.

“Hati-hati dan katakan saja jika ada yang kurang,” jawab mu dan ini selalu aku suka. Lalu kau sejenak menceracau, memuji ku dan pilihan-pilihan yang dilakukan, sampai jalan ku tiba pada titik ini. Aku suka karena kau selalu membanggakan ku.

Aku memahami hati mu tidak berdusta meski mengucapkannya hanya sesekali, tetapi rentetan peristiwa yang sudah lebih satu windu terlalui adalah jalan panjang jiwa untuk menyadari, kau ada untuk jiwa ku.

Elang Rimba, episode hidup, jika waktu masih diizinkan, tentu masih akan panjang dan aku tetap tertawa, bahagia, pada jalan ku dan diam-diam, seperti yang kau lakukan padaku, aku juga memberikanmu kekuatan, hanya sebuah semangat, semampuku. Tapi aku pun tidak akan meratap, ketika tiba-tiba belantara langit menelanmu dan kau hilang dalam pandang, dalam bayang, karena bisa saja belantara bumi juga akan menelanku, hingga hilang dari tatapmu, dari jangkauan mu.

Biarkan saja jiwa yang berbicara dan terus sama-sama menjaga ketika rapuh datang, bahwa kau adalah kekuatan dan aku adalah kekuatan. Seperti udara, seperti bumi, tiada kan menyatu tapi tiada kan bisa hilang salah satu. Ada tapi tiada, tiada tapi ada. Kita akan terus pada jalan yang sama, bekeja untuk kehidupan bukan hanya berkhayal apalagi sekedar berdendang, nyaring, di kedai kopi tapi tidak melakukan apa-apa, hanya bisa menyalahkan apa-apa.

Catatan Perempuan Luka

Perempuan luka, seperti biasa, bangun kesiangan. Selalu begitu, karena habis subuh baru matanya bisa terpejam. Malam adalah teman yang setia sekaligus teman yang menuba, membuncah segala resah. Malam memeluk nyerinya dalam hening, sunyi yang hakiki. Berteman malam adalah cara membasuh luka, imsomnianya pelan membangkitkan amnesia dan melupakan pahit masa lalu adalah terapi agar jiwa tidak rapuh.

“Amnesia dapat terjadi karena hal-hal di luar penyakit yang mendasari, meliputi penuaan, stres, atau kurang tidur,” suatu waktu tulisan itu terbaca ketika rasa sakit membunuh kinerja. Dan tulisan itu menginspirasi untuk menjadikan malam sahabat abadi. Satu per satu kenangan pahit berlalu, lupa, menguap.

Membayang wajah itu, wajah lelaki yang sudah 156 purnama selalu ada untuknya. Lelaki yang sudah ikut mengawal anak-anaknya, anak-anak yang hanya mengenal kasih sayang seorang ibu saja, saat kesulitan, baik urusan administrasi di sekolah, bangku kuliah atau pun materi. Lelaki yang tak pernah merayu tapi perlindungannya, sikapnya, tindakannya, adalah cinta. Lelaki yang sempat menggetarkan ruang kosong sepotong hati yang terus bersahabat dengan malam.

“Aku mencintai ibu tiga naga,” suatu kali iseng perempuan luka bertanya pada Elang Rimba, setelah lelaki dengan susah payah mengawal urusan salah satu gadisnya. Mengapa lelaki itu, Elang Rimba, selalu begitu, selalu ada. Perempuan luka terdongak, kaget. Usia telah membuatnya arif, lelaki ini hatinya untuk perempuan luka. Tapi akal sehat membuat perempuan luka berpura-pura tidak tau.

“Soal apakah kita akan bisa bersama atau tidak, serahkan pada takdir, pada Tuhan,” lelaki urakan itu melankolis sekali, terasa begitu romantis.

“Jangan bohongi hatimu,” lelaki itu terus bertutur.

“Cinta hanyalah soal rasa, hidup soal nyata. Cinta tidak butuh logika tapi hidup adalah logika. Cinta adalah apa kata saya tapi hidup adalah apa kata orang. Maka aku harus membunuh hati. Hidupku adalah kenyataan pada pilihan logika dan pada apa kata orang. Cinta tak harus memenangkan tapi menenangkan,” pelan perempuan luka menjawab.

“Soal kau janda? Aku juga duda,” dia keras kepala.

“Karena aku sudah terlalu tua untukmu. Kau bahkan lebih kecil dari adik bungsuku. 11 tahun jarak di antara kita. Itu adalah neraka jika kita bersama. Masyarakat akan mencapku sebagai perempuan gatal. Jadilah adik yang baik saja untukku.”

“Jika jalan seiring kau masih sepadan kok untukku,” dan perempuan luka melarikan tatapan, takut luruh, takut runtuh. Dia, Elang Rimba, selalu menyebut namanya dengan kagum, ibu tiga naga.

“Itu karena kau terlalu cepat menua,” perempuan luka coba tersenyum.

“Khadijah juga lebih tua 15 tahun dari Rasulullah SAW,” Elang Rimba menjawab dengan hati-hati, mungkin dengan membawa agama, perempuan di depannya ini bisa luluh.

“Itu tidak bisa disamakan. Sama sekali tidak bisa disamakan.”

Lalu Elang Rimba menatap perempuan luka nanap, mengalirkan magma yang membuncah jiwa. Tapi terbiasa selamat karena berpikir rasional, Lalu perempuan luka menghindari tatapan itu. Hatinya saja yang membantin.

Elang Rimba, jalanmu yang tak rata semoga menjadi ‘semangat’ agar tak lena bahwa di dunia tiada yang sempurna, selalu ada cara agar bisa menuju hidup yang lebih bermakna, menuju senja kala, jika waktunya tiba.

Elang Rimba, wujudkan mimpi mandiri lepas dari pengusaha yang tiada rasa, tiada menghargai jasa dan hanya pandai beretorika tetapi menghisap darah karyawan dengan cara sangat santun dan bermuka dua. Jika bisa, mulai saja, tak perlu ragu jika jalan itu diawali dengan do’a.

Bagi perempuan luka yang imejnya harus selalu dijaga di tengah masyarakat karena posisinya sebagai penulis wanita cukup dikenal, keberadaan Elang Rimba tidak mungkin dijadikan nyata. Mereka tidak mungkin bersama. Norma yang berlaku dalam masyarakat membatasi pilihannya. Meski di sanubari ada Elang Rimba dan lelaki itu siap menyambut tangannya jika menjawab Iya, tapi perempuan luka selalu berkata tidak.

Bagi kebanyakan orang, bukan hanya di kota perempuan luka menetap, juga hampir di seluruh wilayah, termasuk ibu kota yang sudah jauh lebih terbuka, lebih moderen, perempuan tetap menjadi pihak yang salah dan dia akan dicap gatal, saat dalam status janda memutuskan menikah dengan lelaki muda, jauh lebih muda, mungkin 10 tahun atau lebih jarak usia, dia akan jadi cercaan diam-diam, digunjingkan diam-diam. Perempuan luka tidak mau cap itu nanti menganggu hidup anak-anaknya.

Ya, perempuan luka adalah ibu yang sendiri, melanlang buana di kotanya, kota yang memberi rezeki, seorang diri, ketika bahtera rumah tangganya pecah. Dia bercerai dengan bapak dari anak-anaknya, karena mempertahankan harga diri. Mereka berdua, saling adu ego dan saling mempertahankan harga diri. Sang suami, setelah terkena PHK dari tempatnya bekerja, menjadi lelaki asing yang seolah tidak dia kenal. Awalnya dia pahami itu sebagai rasa rendah diri, rasa putus asa, karena menumpang hidup pada perempuan luka. Tapi lama-lama sikap itu menghancurkan mereka.

Menyembunyikan rasa rendah diri dan tak berguna karena kehilangan kerja, sang suami justru bersikap agresif, cepat marah dan cemburu buta. Setiap kali perempuan luka pulang terlambat atau pergi ke luar kota karena pekerjaan, pertengkaran hebat akan muncul. Perempuan luka selalu merasa diintimidasi, karena dikatakan tidak ingat suami, bersenang-senang di luar dan bisa jadi itu dengan laki-laki lain. Bahkan jika pertengkaran memuncak, tak jarang tangan sang suami mampir di pipinya. Sakit sekali, lebih sakit dalam jiwa.

Sementara sebagai wanita yang mencari hidup untuk keluarganya, perempuan luka juga egonya berlipat ganda, dibanding dulu waktu keduanya masih sama-sama bekerja. Perempuan luka kerap dalam pertengkaran mengungkit perannya sebagai kepala keluarga. Tak jarang dia meradang, memaki dan membalas dengan angkuh setiap perkataan sang suami.

Sampai akhirnya mereka berdua terlibat perang dingin, saling diam dan pisah ranjang. Dalam kondisi seperti itu sang suami mencari pelampiasan, tergoda perempuan lain dan merasa hidupnya lebih nyaman, lebih berarti dengan perempuan baru. Tanpa pernah sadar, itu hanya angan kosong dan berakhir fatal. Perempuan luka tidak mau diduakan dan putuslah talak satu di pengadilan agama, dengan tiga anak dalam genaggamannya, dalam asuhan dan tanggungjwab perempuan luka.

Elang rimba memacu mobil jip Rockynya di jalanan yang penuh lobang, melarikan resah hati oleh pertemuan dengan perempuan luka semalam. Menuju kotanya, Bangkinang, 60 kilometer jarak dari jota tempat dia bertemu perempuan luka, Pekanbaru, ada jalan utama yang mulus diaspal dan dua jalur, mempermudah kendaraan melaju kencang. Tapi dia memilih jalan berliku, jalan tikus, yang hanya dilalui jika jalan utama macet atau terputus, jalan melalui kebun sawit yang tidak rata. Bukan hanya berlobang tapi sebagian masih jalan tanah kuning, licin kala hujan.

Di jalan berbatu-batu itu dia tetap melaju, 120 kilometer per jam, membuat mobil itu terguncang-guncang dan dia kerap terangkat dari tempat duduknya di belakang setir. Untungnya ban mobil telah dia tukar dengan double gardan, sehingga masih bisa seimbang di jalan yang kiri kanannya hanya ada sawit. Sesekali dia akan bertemu truk-truk pembawa buah sawit menuju pabrik. Tak jarang nyaris mereka bersenggolan oleh sempitnya jalan. Tapi Elang Rimba tak juga ingin pelan.

Elang Rimba begitu kagum pada perempuan luka, guru pertama yang mengajarinya cara menulis dengan baik dan benar. Ya, dia memilih karir sebagai jurnalis ketika pekerjaan lain susah didapatkan. Meski sarjana ekonomi, tidak menghalanginya menyusun kata. Awalnya coba-coba sampai akhirnya perempuan luka menuntunya menjadi jurnalis yang handal, berani, bersikap jelas dan ditakuti, khususnya oleh pejabat-pejabat di kotanya. Elang Rimba tidak gentar melakukan investigasi untuk kasus-kasus korupsi dan media tempat dia bekerja juga memberi ruang, karena tulisan Elang Rimba dengan cepat disukai pembaca. Namanya tenar dan namanya bikin gentar, saat muncul dalam acara-acara pemerintahan.

Karena itu pula perusahaan media tempat dia bekerja menuai uang banyak. Berita-berita Elang Rimba kemudian minta distop oleh kepala daerah, sekda atau kepala dinas di kabupaten tempat dia bermukim dan berganti dengan ratusan juta kontrak kerjasama. Awalnya Elang Rimba menikmati saja, karena ada fee untuknya 20 persen dalam nilai kontrak tersebut. Tapi lama-lama kontrak itu menghancurkan namanya, bukan lagi ditakuti, malah ditertawakan. Dia dianggap membuat berita buas tentang korupsi hanya intrik mendapat kontrak. Lalu dia akan mencari perempuan luka, bercerita, merasa sengsara oleh pilihan karirnya.

Dalam situasi seperti itu perempuan luka memberi jalan keluar, dia disarankan melanjutkan studinya, mengambil S2 Komunikasi. Jika ilmunya cukup perempuan luka menyarankannya menjadi kolumnis saja, membedah posisi jurnalis yang makin lama makin terjepit oleh kemajuan zaman. Bahkan suratkabar harian tergesar oleh menjamurnya media online. Dia mengikuti saran perempuan luka, hingga diwisuda dan banyak media online memuat tulisannya. Saat namanya makin harum, Perempuan luka terus mendorongnya untuk lanjut ke S3 agar bisa jadi ahli komunikasi. Dia ikut saran itu dan sudah satu tahun menjalani studinya.

Seiring makin dikenal namanya sebagai penulis yang kritis dan studinya jalan terus, media tempat dia bekerja juga memberikan posisi bagus, bukan lagi jurnalis di lapangan, dia dipercaya menjadi koordinator wartawan. Kembali apa yang telah lama hilang dia temukan, mengejar kasus-kasus korupsi. Atas saran perempuan luka, memang akhirnya kasus-kasus yang dibahas adalah kasus yang sudah sampai ketangan penegak hukum, bukan lagi investigasi. Karena memuat berita dari penegak hukum tidak ada alasan untuk menurunkan berita itu dari medianya.

“Perempaun luka, karena dirimu aku jadi seperti ini. Tanpa dirimu sepi intelektualku akan menuju mati. Kenapa kita tidak bisa selalu bersama?” dalam hentakan mobil yang menabrak pelepah sawit, dia bergumam.

Elang Rimba ingat mantan istrinya, perempuan yang terpaksa dia nikahi saat masih kuliah dulu, karena cinta terlalu menggebu dan perempuan itu hamil. Tapi rumah tangga tanpa modal ekonomi yang cukup itu,.karena dia masih kuliah dan belum bekerja akhirnya kandas juga. Sang istri kembali ke orang tuanya, menitipkan anak mereka dan pergi ke luar negeri melanjutkan kuliah hingga sukses, bahkan setelah itu sukses juga dalam karir sebagai akuntan publik. Ya, mereka dulu dalam jurusan yang sama, fakultas ekonomi. Tapi jalan mereka telah berbeda.

Dalam kegagalan rumah tangga, dalam ketiadaan lowongan kerja, di sanalah dia menemukan perempuan luka, perempuan yang sejak detik pertama dia jumpa, sudah membelenggu hatinya. Bahkan perempuan itu yang sudah 50 tahun masih seperti 35 tahun, masih segar, menarik, cantik dan pintar. Sosok yang dikagumi banyak pria dalam lingkungan kereja mereka.

Perempuan yang kemudian membangkitkan kembali cahaya dalam hati Elang Rimba. Tapi perempuan itu terlalu kukuh, merasa sanggup sendirian menghadapi segalanya. Sadar tidak bisa memilikinya, Elang Rimba pun memilih menjadi penyokongnya diam-diam, membantu urusan yang mungkin tidak terselesaikan oleh perempuan luka, terutama urusan anak-anaknya. Sialnya, perempuan luka selalu memperkenalkan Elabg Rimba sebagai adik, paman anak-anaknya. Suka tak suka, asal bisa kerap berjumpa perempuan luka, Elang Rimba menerima saja kenyataan itu.

Senja berganti malam dan jalanan yang terlihat memudar oleh rimbunnya pokok sawit. Jika awalnya masih ada aspal meski penuh lobang, makin lama aspal makin hilang, berganti jalan setapak licin berwarna kuning, tapi tetap dilalui turk-truk pembawa CPO utu. Sampai di sebuah belokan, Elang Rimba tidak melihat portal penghambat kendaraan terpasang, karena sudah malam. Mobil Rockynya menghantam portal itu dan beberapa kali terbalik. Darah di mana-mana dan ketika tubuhnya diangkat ke ambulan vonis itu nyata, nyawanya sudah tiada. Elang Rimba pergi dalam bayangan perempuan luka yang tak tergapai oleh cintanya.

Pada sisi lain, di depan televisi daerah, perempuan luka terpana. Tadi ada pesan di HP-nya dari polisi, tentang kecelakaan Elang Rimba. Dia dihubungi karena di HP itu perempuan luka yang terakhir dihubungi. Dia bergegas berkemas, mencari nomor taksi dan ingin segera berlari ke rumah sakit daerah, tempat Elang Rimba dibawa. Perempuan luka masih berharap, kecelakaan itu tidak fatal dan dia masih bisa menikmati tawa Elang Rimba, esok atau lusa.

“Kecelakaan tunggal mobil Rocky, seorang jurnalis yang bernama Elang Rimba telah berakibat fatal. Nyawa sang jurnalis tidak tertolong dan kini pihak keamanan dan keluarga sedang di Rumah Sakit Daerah untuk tindakan selanjutnya,” ucapan pembawa berita menghanguskan kesadaran perempuan luka, terduduk, ngilu.

Tiba-tiab dia sadar sepenuh jiwa, dia membutuhkan lelaki itu lebih dari sekedar penyangga hidupnya, tetapi penyambung ruhnya, karena lelaki itu, Elang Rimba, dia mampu bertahan dan kuat di kota yang jauh dari kampung halamannya ini. Tiba-tiba dia sadar, dia juga jatuh cinta pada Elang Rimba. Tapi segalanya telah sirna. Malam berangkak pasti. Perempuan luka menangis dalam taksi yang membawanya ke rumah sakit, di mana Elang Rimba telah terbujur kaku, selamanya.**

●22 Januari 2026

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *