Negeri di Balik Matahari

Biografi Dokter Salman

Sekapur Sirih

SUATU hari di bulan September tahun 2016, saat subuh baru saja usai dan terang mulai mewarnai langit, seorang laki-laki terlihat berjalan pelan-pelan menuju sebuah rumah di Pasa Rabaa, Panyalaian, Padang Panjang. Ujung jari kakinya masih merasai sejuk embun yang belum sempurna hilang dari rerumputan. Sejenak dia tertegun begitu menginjakkan kaki di halaman sebuah rumah berlantai dua, terbuat dari papan, besar dan masih terlihat kokoh dari luar.

Laki-laki itu, Salman, merasakan segala kenangan memenuhi jiwa. Kenangan akan masa lalu, masa kanak-kanak, di rumah ini, rumah masa kecil, tempat dia menerima segala limpahan kasih sayang dari orang tua. Tak terasa matanya sabak, ketika anak kunci dimasukan ke gerendel pintu, membukanya dan masuk ke dalam rumah. Sejenak tertegun menatapi ruang kosong, hampa dan tak ada apa pun di sana, Salman segera menuju lantai dua.

Pada sebuah jendela di bagian depan arah ke jalan raya, Salman berdiri sejenak, lalu pelan-pelan membuka jendela tersebut. Deritnya karena usia telah merentakan engsel-engsel, seperti rintihan jiwa Salman, akan masa lalu, akan kenangan, akan kalimat-kalimat ibunya yang dia panggil Umi dan cerita-cerita tetangga tentang Umi yang merindukan dirinya.

Menatap ke luar, lurus ke arah Gunung Merapi yang mulai terang disinari matahari, Salman menghirup nafas. Di sini, di muka jendela ini, beberapa puluh tahun lalu, Umi selalu berdiri, menatap ke arah Gunung Merapi, ke arah matahari yang segera akan naik menyinari dunia, seolah-olah di balik matahari itu ada anak laki-lakinya yang sudah lama pergi merantau, menuntut ilmu ke negeri seberang.

Hatinya dipenuhi kerinduan terhadap anak sulungnya, sibiran tulangnya, yang bertahun-tahun tiada kabar berita, sejak minta izin untuk melanjutkan kuliah ke negeri jauh yang entah dimana tempatnya. Bagi Umi, anaknya itu merantau ke negeri di balik matahari, karena sungguh sangat tidak terjangkau oleh tangannya. Dari jendela ini, setiap usai salat subuh dia menggumamkan do’a pada Yang Maha Mencipta, yang Maha Mengetahui, agar kerinduan hatinya sebagai seorang ibu didengar jiwa Salman, sehingga hatinya tergerak pulang.

Salman menghirup udara pagi yang sejuk, agar dadanya yang tiba-tiba sesak oleh kenangan sedikit melonggar. Matanya menyapu jalan raya dan los Pasa Rabaa, hanya beberapa depa saja dari halaman rumah. Juga menatap jalan setapak yang berada di bawah jendela, yang kini sudah diaspal, kemudian menatap masjid tempat dia selalu shalat berjamaah, pincuran tempat dia mandi hingga rumah di mana huruf-huruf dalam Al-Quran dieja lalu dilantunkan dalam nada yang indah, rumah tempat dia belajar mengaji. Ya, dari lantai dua ini semua tempat-tempat penuh kenangan itu masih terlihat jelas.

Inilah tanah kelahirannya, kampung halamannya, yang telah memberikan ruh kebaikan ke dalam jiwa Salman, sehingga dia mampu menjalani hidup sebagai manusia yang bercita-cita tinggi tapi tidak lupa tempat berdiri, menjadi pribadi yang elok dan taat pada ajaran agama, meski pun terbang jauh ke Rusia, negeri yang saat itu menganut paham komunis. Di sana Salman menuntut ilmu sebagai mahasiswa kedokteran. Didikan orang tua dan suasana kampung telah membentuk kepribadiannya.

Salman menatap dengan mata segala yang masih utuh tersisa, meski berubah dalam rupa, karena zaman membuat rumah kayu berganti batu, jalan tanah berganti aspal, tetapi dalam jiwanya, dalam mata hatinya, masih terlihat nyata segala kenangan itu. Telah lama dia kembali dari negeri di balik matahari dengan membawa gelar dokter spesialis bedah yang diinginkan dan mengabdi dengan ilmu yang dia dapatkan. Dalam diam Salman mengenang Umi, mengenang Ayah dan juga adik satu-satunya, Emma, yang juga sudah tiada. Salman tetaplah putera Pasa Rabaa, meski kakinya sudah melangkah keliling dunia.

Pasa Rabaa sendiri merupakan bagian dari Nagari Panyalaian, termasuk ke dalam wilayah kecamatan Sepuluh Koto, Kabupaten Tanah Datar, Provinsi Sumatera Barat. Pasa Rabaa terletak di pinggir jalan raya antara Bukittinggi-Padang Panjang, kira-kira 16 Km dari Bukittinggi dan hanya 5 Km dari pusat Kota Padang Panjang. Desa ini bernama Pasa Rabaa karena memang ada sebuah pasar yang hanya ada tiap hari Rabu (Rabaa-Bahasa Minang).

Di Pasa Rabaa ada tiga buah los memanjang arah ke kaki Gunung Singgalang dari jalan raya, yang menjadi tempat masyarakat sekitar berjualan hasil pertanian, sayur-sayuran hingga ikan dan ayam. Di depan, beberapa meter saja dari jalan raya, berdiri kantor walinagari Panyalaian dengan megah, bertingkat dua dan berjenjang banyak. Ketika Salman kecil, los ini terbuat dari kayu dan dibiarkan lapang begitu saja. Kini kayu pun berganti bata dan los tersebut meski terlihat lebih kokoh, terasa lebih sempit, karena adanya pembatas.

Jika hari Rabu datang, Pasa Rabaa tumpah ruah oleh masyarakat, baik pedagang maupun pembeli. Mereka datang dari berbagai desa sekitar, termasuk juga para pedagang dari Bukittinggi dan Padang Panjang, membawa hasil pertanian mereka. Di belakang Pasa Rabaa tinggallah masyarakat desa yang sebagian besar petani dan pedagang. Desa Pasa Rabaa sendiri terletak tidak berapa jauh dari kaki Gunung Merapi. Tak heran jika desa ini terasa sejuk jika siang hari dan mendekati subuh terasa sangat dingin sekali.

Kondisi Pasa Rabaa saat ini tidak beda jauh dengan kondisi tahun 1940-an, saat Salman kecil, hanya saja los yang dulu kayu, kini berganti batu. Jalan setapak di samping los menuju kaki Gunung Singgalang yang dulu tanah, kini telah diaspal dan rumah rumah penduduk masih tetap seperti dahulu berjejer di sisi kiri dan kanan, dari arah jalan raya menuju kaki Gunung Singgalang. Mobil dan motor sudah lalu lalang di jalan yang terasa sempit tersebut. Sebagian sawah berganti rumah.

Persis di belakang los pertama, di pinggir jalan antara jalan raya arah ke kaki Gunung Singgalang, berdirilah sebuah rumah kayu besar, berlantai dua, milik Kak Ana, nama lengkapnya Rohana, penjual ‘katupek gulai’ yang sangat terkenal di zamannya, bahkan hingga berpuluh tahun kemudian. Gulai katupeknya khas, cubadak (nangka) yang dicampur dengan rebung, sementara ‘katupeknya’ padat dan gurih, karena dari beras lokal yang masih baru. Pada masanya, tak ada yang tidak kenal dengan ‘katupek gulai’ Kak Ana. Kak Ana ini adalah Umi Salman.

Rumah tersebut biasa-biasa saja, karena masih ada rumah lain yang lebih megah bangunannya. Rumah ini dibangun Hamid, ayah Salman, seorang tukang kayu. Rumah ini menjadi istimewa, karena dari rumah ini lahir seorang laki-laki yang diberi nama Salman. Melewati masa-masa sulit pada tahun-tahun awal pertumbuhannya sebagai anak Desa Pasa Rabaa, di tengah gejolak perang, Salman berhasil mencapai impiannya menjadi dokter ahli bedah, di Rusia.

Dari Pasa Rabaa, dari rahim seorang penjual ‘katupek gulai’ yang secara ekonomi biasa-biasa saja, tentu pencapaian Salman menjadi luar biasa. Zaman ketika banyak pemuda seusianya masih menjadi petani atau pedagang, pilihan Salman untuk sekolah tentu menjadi menarik, apalagi sampai kuliah ke luar negeri, ke Rusia. Paham politiknya yang netral dan pemahamannya tentang pentingnya keutuhan NKRI, membuat Salman tidak terjebak politik praktis, tidak berpihak kepada kepentingan kecuali kepada kehidupan masyarakat yang tenang dan nyaman. Karena itu Salman sukses dalam pendidikan.

Dia juga berhasil melewati fase-fase sulit saat kuliah di Rusia. Bahkan saat peristiwa G30S PKI meletus, Salman juga tidak terjebak ke dalam permainan politik, yang membuat banyak mahasiswa Indonesia saat itu harus kehilangan kewarganegaraannya dan tidak bisa pulang kembali ke Indonesia, karena ideologi mereka sudah berbeda, karena mereka berpihak. Tetapi Salman tetap cinta negara dan tetap pada agamanya. Karena itu dia selamat.

Tak heran jika saat pulang kembali untuk pertama kali ke Pasa Rabaa pada tahun 1967 dari Rusia, ketika suasana masih panas oleh peristiwa G30S PKI, Salman tidak menemui kendala, dia tetap diterima sebagai Salman, warga Desa Pasa Rabaa. Bagi Salman, tujuannya ke luar negeri jelas, menuntut ilmu agar dia bisa menjadi dokter seperti yang diidam-idamkan, Secara keseluruhan, perjalanan hidup Salman, prinsip hidup dan pencapaiannya, adalah kisah yang patut diteladani oleh generasi berikutnya.***

 

Luzi Diamanda
Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *