BATAS antara cinta dan kesumat itu setipis kulit ari. Dilukai lalu bertaut lagi. Dirindui tapi terkelupas lagi. Berulang dan berulang, merajang hati sepanjang zaman.**
LELAKI itu, Rukam, datang dari masa lalu, dari 360 purnama, masih putih abu-abu. Pernah, 120 purnama silam lelaki itu mencari Ampanai, perempuan cantik dari masa lalu Rukam, yang justru hampir tak mengingat kisah dan rasa itu. Karena bagi Ampanai hidup terus berputar dan hati berotasi, bukan pengulangan-pengulangan kisah.
“Jalanku berliku dan tak ingin kuagi. Biar jadi milikku,” kata Ana, panggilan Ampanai, saat Rukam menjumpainya.
“Dan aku pun mengerti pastinya kau tak sendiri. Aneh jika kau mencari masa lalu, mana setiamu,” lanjutnya, menghujam hulu hati Rukam. Lalu mereka berpisah di ujung senja. Berwindu-windu kemudian, kembali saling lupa. Purnama ke purnama terus berlari, terus berganti.
Yang Ampanai tidak tau, Rukam selalu memantau jalannya. Lelaki itu juga tidak merasa mengkhianati istrinya, bukan tidak setia, karena memang tidak pernah dalam 20 tahun pernikahan mereka, dia bersama dengan perempuan lain, secara fisik. Hanya hatinya saja yang kerap terguncang, setiap teringat Ampanai, cinta dari masa lalu. Hanya dalam jiwa saja. Dan Rukam bukan tidak pernah mencoba membunuh Ampanai dalam jiwa, tetapi selalu saja wajah perempuan itu muncul, terutama kala purnama.
“Purnama adalah kamu Ana. Purnama saksi kala aku menyatakan cinta dan purnama juga saksi saat kau pergi, dari kampung kecil kita dan tak pernah kembali lagi. Pergi tanpa pernah mengabari aku yang selalu menunggu. Pergi tanpa pernah mengingat kisah yang terjalin antara kau dan aku. Lalu 36 purnama kemudian aku mendengar kabar kau disunting orang. Pecah hati ku, mendarahi jalan panjang yang lengang,” kerap Rukam termenung.
Rukam juga mengetahui, Ampanai tidak terus dalam ikatan itu, ikatan pernikahan yang dulu pernah dia janjikan. Ampanai terluka karena dikhianati. Bahkan setelah luka itu, berkali-kali Ampanai mencoba menautkan hati pada hati lain, pada hati laki-laki lain, tapi tetap saja menuai luka. Ampanai tetap sendirian memikul segala beban. Rukam memantau dari radar rindunya yang tak pernah pupus. Sesekali ada rasa bersalah pada sang istri. Tapi Rukam tidak bisa berhenti. Terus menjaga rasa itu.
Sementara Ampanai sudah memilih mengabdikan diri pada sepi, dalam sunyi panjang yang hakiki. Mana mungkin ada Rukam lagi, meski dalam hati. “Mungkin aku memang tidak diberi tulang rusuk agar bisa dilindungi, dijaga dan dikasihi. Tapi diberi tulang punggung yang kuat, bahu yang kekar, agar bisa merengkuh beban,” Ampanai mengambil kesimpulan akan jalan hidupnya.
Tangis Ampanai telah lama hilang dan Ampanai menjelma kunang-kunang, membuat cahaya untuk jalannya sendiri. Jangan tanya betapa pahit, betapa sakit, dalam sukma. Tiada ada yang menawarkan pelita hanya bara yang menghanguskan jantung. Lalu Ampanai berlari membawa hati sambil terus mengajari buah hatinya terbang dan mandiri. Hatinya beku dan rasanya telah mati.
Tetapi suatu pagi, mungkin 48 purnama setelah pertemuan dengan Rukam, Ampanai merasa kaku, ketika membaca begitu banyak kata duka cita yang lewat di lini masa media sosialnya. Perempuan yang diberi Rukam tulang rusuk dan dijaga Rukam dengan sangat baik, istrinya, pergi, pergi ke rumah abadi. Ampanai bahkan tak berani sekedar berucap duka. Hanya ingat pergi dan lari, bukan mendekati.
“Cinta hanya sekali sesudah itu imitasi, makanya aku terus mencari,” kalimat itu mengiang, terucap dari Rukam, lama sekali, dalam jumpa 120 purnama itu dan saat tulang rusuk Rukam masih setia mendampinginya.
Lalu tak lama setelah masa berkabung, Rukam datang ke kota Ampanai, berkabar dan mengajak sekedar bertemu. Ampanai tidak bisa menolak. Hatinya tak sekejam itu. Lama, menit berlalu dan hampir 90 menit di depan pintu mall Rukam menunggu. Lalu saat Ampanai datang mereka hanya sempat berjalan ke tempat parkir, karena teman-teman Rukam sudah menunggu.
“Sungguh, aku telah berniat tidak akan menghubungimu. Kutimbang-timbang dan terus berjalan di kotamu. Tapi begitulah, terpencet juga nomormu. Selalu begitu. Kesadaranku tak ingin menjumpaimu tapi bawah sadarku menuntun jari untuk menghubungimu.” Kalimat Rukam sejenak sempat mengusik kenang masa lalu Ampanai.
“Waktu bergulir begitu saja dan aku juga tidak pernah berpikir tentang kita. Tugasku masih ada. Itu yang utama. Rantau telah memakan jiwa raga dan hanya ada kata kerja dan kerja. Titisan darahku masih ada yang belum bisa terbang,” jawab Ampanai, lugas, menghujam beling ke hati Rukam.
●
Ternyata waktu berjalan tidak bisa diperkirakan akan membawa cerita apa, kisah yang mana. Tak lama berlalu tiba-tiba gerak alam mengarahkan Ampanai kembali pada Rukam. Dia harus datang ke kota di mana Rukam menetap, untuk sebuah urusan kerja, kota yang sebenarnya tidak asing bagi Ampanai. Begitu saja dia menghubungi Rukam, minta ditemani ke mana-mana dan jadilah Rukam sopir yang setia selama Ampanai di kota Rukam, satu pekan.
“Temani aku. Mari menua bersama. Aku duda ditinggal mati istri, tidak ada halangan untuk menikahimu,” lirih suara Rukam saat mereka makan sate di pinggiran sebuah toko, di hari ketiga kedatangan Ampanai.
“Beri aku waktu 24 purnama. Aku harus menyelesaikan tugasku. Kau pun harus menyelesaikan tugasmu, terhadap jiwa yang karena kita mereka ada. Jangan buat hati mereka luka,” kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut Ampanai. Beberapa hari bersama dan ketelatenan Rukam menemaninya, membuat hatinya sedikit ingat cinta lama mereka, saat berjalan berdua pergi dan pulang sekolah, di kota kecil mereka, yang belum ada angkutan umum kala itu.
Ya, tiba-tiba semua mengalir begitu saja. Rukam jadi orang paling setia mengantar dari satu tempat ke tempat lain, sampai saatnya tiba, Ampanai harus kembali.
“Aku tunggu 24 purnama itu,” telinga Ampanai menangkap kalimat Rukam, di ujung senja.
“Jaga saja hatiku. Selesaikan tugasmu. Aku tidak mau memakan hak piatu, karena aku adalah ibu. Aku juga tak mau kau memakan hak anakku,” Ampanai berucap sambil berlalu. Sejenak dia ingat percakapan senja kemaren.
“Jika ada yang ingin merawat hatimu dan jalan berdampingan, apa yang kau mau?” entah mengapa Rukam bertanya.
“Dia harus mampu mengambil alih bebanlu,” Ampanai menjawab.
“Aku bisa. Apa lagi?”
“Dia harus punya bahu yang kekar untuk bisa kusandari ”
“Bahuku kekar. Apalagi?”
“Dia harus sejajar denganku untuk mendampingi, bukan ikut membebani.”
“Aku bisa. Apalagi?”
“Tentunya dia juga harus sepertiku, tak menua secara raga meski sudah menua secara usia.”
“Aku tidak terlihat tua kan? Masih sama denganmu.” Dan percakapan konyol itu berakhir dengan tawa lepas.
Ampanai coba berkata pada hati: jika memang ada pelabuhan yang mendamaikan, kenapa harus lari? Ampanai berpikir untuk membiarkan alam bekerja atas restu Illahi. Jika takdirnya adalah jalan bersama Rukam, mengapa harus ragu? Tapi tak perlu terburu-buru. 24 purnama biarlah berlalu. Untuk berpikir dan mengajuk, sejauh mana Rukam utuh untuknya.
Dalam dingin malam di kota yang berhujan ini, Ampanai duduk sendirian di loby tempat dia menginap. Termangu dan coba mengingat ulang, apa percakapannya dengan Rukam.
“Tubuhku tak tahan panas, tapi juga alergi dingin dan debu, kerap kali bergantung pada obat. Karena itu aku ingin menua di kaki Marapi, udaranya sejuk sepanjang hari,” bicara di samping Rukam, sebenarnya Ampanai hanya ingin berkesah pada diri.
Ampanai melihat tatap Rukam tak mengerti. Sejenak mengerling lalu fokus kembali pada setir mobil, membunyikan musik dan diam, menatap lurus ke jalan.
“Sebuah pondok dari bambu pun jadi, tapi dengan halaman penuh batang mangga, matoa, cempedak hingga rambutan. Halaman samping ada kolam ikan dan halaman belakang kandang ayam serta angsa putih yang berlarian. Indah bukan?” Ampanai mengoceh.
Rukam mengangguk. Ah, selalu begitu, sejak dulu, sejak putih abu-abu, Ampanai adalah pengendali kisah.
“Bisakah kau mewujudkan mimpiku?”
“Bisa, sangat bisa Ana, Ampanaiku…” jawab Rukam.
Sejenak bisu dan Ampanai melihat kemewahan dalam kesederhanaan mimpi itu. Mimpi yang lama terpendam dan tak yakin dilaksanakan. Sampai Rukam menemukan Ampanai dan Ampanai tersesat ke kota Rukam yang ternyata berdiri kokoh Marapi. Rumah Rukam dengan dua gadis cantik sebagai penghuni, beberapa kilo saja dari kaki Marapi.
Takdir atau jalan mimpikah yang menuntun? Kenapa rumah Rukam di sini, dekat kaki Marapi? Berpuluh tahun mimpi itu Ampanai simpan dalam sanubari. Tiba-tiba saja hadir Rukam dan membawa ke sisi Marapi. Marapi bercahaya, pantulan mentari senja mempesonakannya. Sejuk udara, sungguh, Ampanai sangat suka. Pelan, dia hirup aroma rumput dan ilalang, dari semak di kiri kanan jalan, berliku, menakjubkan mata.
“Mengapa harus 24 Purnama?” Tiba-tiba telinga Ampanai menangkap sayup ucap Rukam yang masih fokus pada stir mobil dan jalan meliuk, berliku. Sedikit salah, jurang menunggu.
“Kau belum mengerti aku,” dalam satu helaan, nafas disemburkan Ampanai ke arah jalanan. Kota ini tidak membutuhkan AC mobil hidup, karena hawa sejuk dan nyaman. Membuka kaca jendela sedikit, sejuk itu mengaliri tubuh dan menimbulkan sedikit gigil.
Dalam diam Ampanai mengingat-ingat, dulu ini juga jalannya, bersama lelaki yang begitu menggelorakan cintanya. Berkelana ke puncak Marapi sambil membaca puisi. Tapi kemudian laki-laki itu mematahkan hatinya. Cinta yang diberi utuh dibalas pengkhianatan. juga dengan masa lalunya, masa putih abu-abu. Sejak itu Ampanai melupakan Marapi. Tetapi kenapa saat ini dia harus menyangkutkan kisah lagi di sini?
“Aku adalah pemilik sah hidupku. Terbiasa menjadi hero membuatku begitu ego. Jika aku telah memutuskan tiada yang bisa menghalangi. Rambu-rambuku hanya Tuhan. Jika yang kuputuskan tidak melanggar laranganNya, aku tetap berjalan lurus ke depan, ke keputusan yang dibuat hatiku,” Ampanai menggerutu dan mulai memperlihatkan aslinya, tidak tunduk, bahkan juga pada cinta.
“Sayangku tak pernah habis, Sejak dulu. Cinta yang kupendamkan kini di hadapan. Kenapa harus ragu?” Rukam bertutur, seperti angin, mendesis di telinga Ampanai.
“Hidup kita berbeda. Kau terikat pada banyak hal untuk sebuah keputusan. Terikat pada apa kata mereka. Itu akan jadi renjana. Aku hanya terikat pada kata hati ku.”
“Akan kuwujudkan rumah di kaki Marapi itu. Tanganku masih kuat untuk meneruka tanah. Kakiku masih tegap untuk mengejar angsa. Aku pun tak peduli apa kata mereka, jika itu yang kau suka.” Kalimat itu mengalir begitu saja dari bibir Rukam.
Ampanai kembali tertawa dan menatap Marapi dengan begitu bahagia. Melihat rona cinta berpendaran di sana. Melihat Rukam tersenyum, dia ngakak sekuatnya, lepas.
“Siapa yang peduli? Siapa yang bisa menghalangi? Aku hanya ingin kau mengerti betapa cinta ini terus tumbuh, melebihi masa lalu. Sekarang pun aku sanggup menghalalkan mu.’
“Aku tak mau melukai hati anak-anakmu dan hati anak-anakku. Tunggulah 24 purnama itu, untuk mereka menyiapkan hati, sambil pelan tapi pasti memberi kabar, akan ada hati lain dalam hidup mereka.”
“Tak ada kulupakan tentang masa lalu. Aku ingat sedetilnya kisah kita, sebelum kau pergi meninggalkanku. Saat waktunya tiba dan aku sudah mandiri untuk meminang mu, kau sudah milik orang lain. Aku luka tapi aku diam, karena cinta hanya ingin melihatmu bahagia.”
“Kau tau kenapa aku pergi?”
“Tak usah ingat kisah lalu. Kini tetaplah bersamaku. Jangan pergi lagi. Mari menua berdua di kaki Merapi. Aku wujudkan mimpimu, perempuan kecintaanku,” Rukam menatap Ampanai, sejenak.
“Kau menjagaku di kota ini. Kau juga membuat tawa merekah lagi. Tapi tetap, harus 24 purnama menanti,” Ampanai serasa bermain api, tapi kalimat itu meluncur begitu saja. Lelaki yang di sampingnya ini, yang dengan hati=hati membawa mobil karena ada Ampanai di dalamnya, tak pernah jera, tak pernah lelah, mengejarnya.
“Selama itu?”
“Mana yang lebih lama dari 360 purnama?’
“Kau selalu punya jawab.
“Karena aku bukan perempuan biasa.”
“Karena itu aku makin cinta.”
“Eh iya, jika mukaku telah berkerut sesuai usiaku, kalau pinggangku sudah sakit-sakit karena usiaku atau rambutku memutih sesuai usiaku, apa kau masih mau?”
“Ah, kau selalu aneh-aneh. Tapi aku suka itu, perempuanku.”
“Ini tanya serius, jawab jujur dan tulus. Jika aku memutuskan pindah ke kaki Marapi, anak-anakku bagaimana? Anak-anakmu bagaimana?” Tanya itu membuat Rukam terdongak. Tanpa pikir panjang dan terbawa aturan dalam ajaran agama yang dia yakini, tiba-tiba terlompat kata yang akhirnya memporandakan kisah yang baru saja akan terjalin kembali.
“Kamu kan punya rumah di rantau, mereka juga kuliah di sana, ya tetap di sana. Kan itu lebih baik. Anak-anakku tetap di kota ini.”
Ampanai tersedak. Tapi masih ingin bertanya.
“Menurutmu jika aku menikah dan memutuskan tidak bekerja, nafkah dan biaya mereka, anak-anak, itu darimana?”
“Menurut ajaran agama kita, anak-anak adalah tanggungjawab bapaknya, bapak kandungnya. Meski terjadi perceraian, anak-anak harus tetap dibiayai ayah kandung mereka. Itu wajib dalam agama kita. Iya kan?”
Muka Ampanai seketika menegang. Urat-uratnya serasa mau keluar. Ini pembicaraan apa? Ini cinta macam apa? Lalu, bersandar pada agama lelaki di depannya ini membuang tanggungjawab. Ampanai seketika patah, tapi segera tumbuh dengan amarah. Menyesal dia tadi bicara tentang mimpinya. Untuk apa hidup bahagia jika dia harus melukai anak-anaknya? Untuk apa rumah di kaki Marapi jika jarak dirinya dan anak-anaknya ribuan kilometer? Mereka belum berkeluarga. Masih dalam asuhan dan tanggungjawab dirinya.
“Bagiku setiap tarikan nafas adalah hidup anak-anakku. Jangan beri aku dalih apa pun. Kisah kita berakhir di titik ini. Benar-benar berakhir. Jangan ingat lagi 360 purnama itu,” Ampanai bicara pelan, tapi seperti palu gada menghempaskan jiwa Rukam. Apakah dia salah ucap?
“Maafkan. Aku belum selesai bicara. Bisa kita rundingkan baik-baik. Bebanmu aku paham. Bisa kita tarik ulur kan?” Rukam memegang tangan Ampanai dan seketika perempuan yang sedang murkan itu menepiskannya.
Lalu sepi, sepi yang nyeri. Baginya sudah titik, tidak perlu ada koma. Apalagi pembicaraan tarik ulur. Jika ada laki-laki lain dalam hidupnya haruslah untuk anak-anaknya dan membagi beban dirinya dengan laki-laki itu. Bagaimana pun dia perempuan, kadang punggungnya juga tidak terlalu kuat menahan beban. Rukam, lelaki yang nyaris dia berikan kembali hati, seenaknya saja menghempaskannya pada hal paling hakiki dalam hidupnya.
“Cinta memang tidak pernah ada. Cinta itu hanya kepentingan untuk memuaskan diri, untuk membahagiakan diri. Dusta jika cinta ingin yang dicintai bahagia,” Ampanai bicara dalam hati. Esoknya, Ampanai berkemas dan kembali ke kotanya, tanpa mengabari Rukam. Bagi Ampanai, selesai lah sudah segala kisah.
Rukam, Lelaki itu rindu, rindu yang ngilu. Menatap rimbunan perdu, berharap muncul bayangan gadis bermata sayu, duduk sendiri di tangga kayu. Dia tak bisa meraih, kini dan juga dulu. Bukan seperti merpati, jinak meski terbang saat ditangkap, tapi masih bisa dia kejar. Perempuan itu seperti balam jambi, hinggap tinggi di pucuk meranti. Hanya suaranya yang merdu mendayu tapi tak bisa dipikat.
Setelah tidak menemui Ampanai di penginapannya, Rukam berpikir Ampanai kembali ke kota kecil tempat mereka dulu tumbuh meremaja. Kota panas di pinggir laut. Rukam masih berharap karena kesal Ampanai pulang ke rumah masa kecilnya, karena lebih dekat, hanya dua jam perjalanan dari kaki Marapi. Sementara rantau tempat Ampanai bermukim ratusan kilometer dari Marapi.
Pulang ke masa lalu
Pada sawah, ladang dan munggu
Kadang memercik rindu
Daun sagu atau pun bambu
Seolah musik saat limbubu
Jalan setapak yang dulu
Atau pun pohon duku
Hilang, bersama waktu
Aspal dan kendaraan yang menderu
Menggiring kenang pada ngilu
Kau hilang dalam lautan pilu
Tiba-tiba dia jadi puitis dan ingin menangis. Dia tak lagi ingat nasehat emak, lelaki pantang menangis, karena tangis milik hati yang rapuh, milik perempuan. Dia lelaki, harus kuat, harus tegar, siap berperang, menghadapi kehidupan, menghadapi kenyataan. Tapi sungguh, dia telah menangis, di sore yang mengejar malam, dalam desau daun Rumbia yang dihoyak angin.
“Kenapa kau pergi lagi. Aku salah apa?” Rukam itu bicara sendiri, sambil tegak menyender di mobilnya, di pinggir jalan yang dikelilingi hutan ilalang. Bunganya berayun ke kiri dan ke kanan, membentuk gelombang, memunculkan ilusi, menyuburkan imajinasi.
Dalam ayunan bunga ilalang itu, dia lihat seorang gadis duduk termangu, di tangga ke 7 rumah kayu.
Tangannya yang mungil memainkan bunga ilalang, sesekali menggigit ujung tangkainya dan gadis itu meringis, mungkin tangkai tu terlalu jauh masuk gusi. Gadis itu tidak cantik, tapi manis, manis yang memikat. Dengan muka oval dan dagu lancip, mata bulat berhidung bangir, dia seperti Puti Linduang Bulan yang diceritakan. Perempuan yang sekilas lemah tapi menyimpan bara jiwa, memancar, menghanguskan pertahanan anak muda.
“Kau di mana Ana. Berbilang purnama, tak jua bisa kuraih. Kau luka tapi tak mau kujaga,” Dia bergumam, lelaki yang tiba-tiba jiwanya oleng, oleh kehilangan.
Hari berganti waktu berlalu. Tidak pernah lagi ada balasan. Hanya sunyi hanya sepi. Kegundahan hati oleh rasa sayang dan rasa salah, membuat Rukam selalu resah. Bayangannya, bayangan perempuan yang serasa sudah digenggaman, tak mau padam, di ruang mata. 360 purnama luka, ataukah selama dia masih melihat purnama masih akan tetap luka?
“Luka bukan hanya milik wanita, luka juga milik pria,” gumamnya.**
●Maret 2015
