Negeri di Balik Matahari

BAB I

Kelahiran

DUA Tahun sebelum Jepang menguasai Indonesia setelah mereka menaklukkan Belanda, tepatnya tanggal 14 Juli tahun 1940, saya dilahirkan. Saya diberi nama Salman oleh ayah, nama yang singkat. Tetapi nama ini mengandung makna amat dalam, karena Salman yang berasal dari Bahasa Arab itu artinya Penakluk. Mungkin ayah ingin anak laki-lakinya menjadi seorang yang hebat, seorang penakluk.

Ayah saya bernama Hamid dan ibu Rohana. Kampung saya di Pasa Rabaa, Nagari Panyalaian, Tanah Datar, sekitar 4 km dari Padang Panjang arah ke Bukittinggi. Pada waktu itu saya adalah bayi pertama dari Panyalaian yang dilahirkan di rumah sakit di Bukittinggi. Saya ditangani dokter dan bidan. Biasanya persalinan dilakukan di rumah dan ditangani oleh dukun.

Ayah pernah bercerita tentang kepanikannya ketika saya akan dilahirkan. Waktu usia kandungan ibu –saya memanggilnya Umi– sudah 9 bulan, mendadak perut Umi sakit dan terasa hendak melahirkan, janin yang ada di rahim beliau hendak ke luar. Ayah panik karena ingat anak pertama yang meninggal saat baru saja dilahirkan dengan bantuan seorang dukun. Di kampung waktu itu belum ada Puskesmas, apalagi klinik bersalin. Jadi lumrah perempuan-perempuan di Pasa Rabaa melahirkan dengan bantuan dukun.

Tetapi kali ini Ayah tidak ingin kehilangan anak lagi. Keputusan pun segera diambil, membawa Umi ke rumah sakit. Lalu Ayah memapah Umi yang perutnya terus sakit ke stasiun kereta api Pasa Rabaa, tak berapa jauh dari rumah. Ayah hendak membawa Umi sesegera mungkin ke rumah sakit dan adanya cuma di Bukittinggi. Zaman itu alat transportasi dari Padang Panjang ke Bukittinggi yang berjarak sekitar 16 km, hanyalah kereta api.

Akhirnya di sebuah rumah sakit di Bukittinggi, Umi atas izin Allah melahirkan saya. Ayah dan Umi bersyukur mendapatkan anak laki-laki yang paras mukanya elok dan juga dalam kondisi sehat. Ayah segera mengazankan bayi laki-lakinya tersebut. Suka cita ayah tak terkira, karena memang ayah mendambakan seorang anak laki-laki. Tentu juga Umi demikian, karena rasa sedihnya kehilangan anak pertama akhirnya terobati dengan hadirnya saya.

Saat Saya lahir Indonesia belum merdeka. Zaman penjajahan, kondisi Pasa Rabaa sama dengan kampung-kampung lain di Padang Panjang, belum tersentuh pembangunan. Meski begitu, karena Pasa Rabaa posisinya di pinggir jalan besar antarkota, jalan utamanya sudah beraspal. Secara ekonomi, di bawah pendudukan Jepang, rata-rata masyarakat Pasa Rabaa hidup di bawah garis kemiskinan. Jika hendak ke mana-mana masyarakat melakukannya dengan berjalan kaki. Transportasi antar daerah hanya kereta api.

Waktu itu, kereta api dijalankan dengan sistem uap. Sumber uapnya dari pembakaran kayu atau batubara. Ketika berjalan di kawasan pendakian, kecepatan kereta api hanya 10 km per jam. Naik kereta api dari Pasa Rabaa ke Bukittinggi dua jam lamanya. Selama dua jam Ayah membawa Umi yang kondisi perutnya dalam keadaan sakit hendak melahirkan. Mulanya ayah sempat cemas, jangan-jangan Umi melahirkan di atas kereta api. Tetapi kecemasan itu tidak terjadi karena Umi bisa sampai ke rumah sakit dan melahirkan di rumah sakit.***

Katupek Gulai’ Kak Ana

DI BAWAH kekuasaan Jepang, ekonomi orangtua saya, sebagaimana kebanyakan penduduk di Pasa Rabaa, sangat tidak baik. Ayah hanya memiliki kepandaian bertukang. Ayah dikenal sebagai tukang kayu. Rezeki baru ada jika ada yang memanggil Ayah bekerja.
Masalahnya, di zaman perang dan hampir semua orang miskin, sangat jarang orang membuat rumah, meski keahlian ayah sebagai tukang kayu lumayan terkenal. Bahkan keahlian ini membuat nama Ayah dikenal hingga ke propinsi tetangga, seperti Riau dan Jambi. Tetapi tentu tidak setiap saat pula ada panggilan untuk mengerjakan bangunan di daerah tetangga tersebut, karena kondisinya tak jauh beda pula dengan Pasa Rabaa, kemiskinan merajalela oleh perang.

Tetapi Ayah tidak pernah putus asa. Dia menjalani hidup ini dengan ikhlas. Hanya saja karena sudah memiliki anak tentu kebutuhan ekonomi juga meningkat, maka Ayah berniat mencari peruntungan di daerah lain. Mana tahu keadaannya lebih bagus, daripada tetap diam dan tidak ada pekerjaan di Pasa Rabaa. Saya dapat cerita dari Umi, ketika saya berusia 3 bulan Ayah meminta izin ke Umi untuk pergi merantau.

Terbersitnya keinginan merantau di pikiran Ayah tidak lain untuk mencoba peruntungan. Untuk mengubah kondisi ekonomi keluarga. Umi, meski terasa berat di hati, mengizinkan Ayah pergi. Rantau yang dipilih adalah Jambi. Daerah yang akan didatangi Ayah tidak dekat. Kala itu terasa sangat jauh karena Jambi terletak di bagian tengah pulau Sumatra. Jarak Padang Panjang ke Jambi tidak kurang dari 700 km.

Ketika akan berangkat, Ayah meninggalkan bekal yang hanya cukup untuk membeli 3 liter (sekitar 2,4 kilogram) beras. Tetapi Umi tak mengeluh. Umi melepas Ayah dengan doa dan ikhlas memegang uang yang tidak banyak itu. Umi tinggal bersama nenek dan saya yang masih kecil. Umi berpikir apa yang akan dilakukan agar bisa menghidupi saya dan Nenek sepeninggal Ayah. Apalagi uang yang ada di tangan Umi hanya bisa untuk makan dua hari saja. Akhirnya Umi mendapat ide, berjualan ‘katupek gulai’ di halaman rumah, di belakang los Pasar Rabaa.

Rumah Umi terletak sekitar 50 meter dari jalan raya Padang Panjang-Bukittinggi. Di pinggir jalan, sebelum rumah Umi ada los yang digunakan untuk pasar, dua kali dalam seminggu, pada hari Rabu dan Sabtu. Makanya kampung saya tersebut dikenal dengan nama Pasar Rabaa karena ramainya pada hari Rabu (Rabaa). Jika hari pasar los itu ramai. Rumah Umi persis di belakang los dan di pinggir jalan jika datang dari arah kaki gunung Singgalang atau dari desa Nagari Koto Laweh arah ke jalan raya. Lokasi rumah Umi persis di tempat masyarakat sekitar lalu lalang saat hari pasar datang.

Setelah mendapatkan ide tersebut Umi pun bergegas melakukannya. Umi membagi tiga uang dari Ayah tersebut, gunanya untuk tiga kebutuhan; sepertiga dibelikan beras untuk bahan ‘katupek’, sepertiga untuk beli ‘cubadak’ atau nangka dan rebung serta bahan lain untuk gulai ‘katupek’ dan sepertiga lagi dibelikan minyak. Keesokan harinya atau saat hari pasar, Umi pun sudah mulai menjual ‘katupek gulai’ di halaman rumah. Harga satu piring katupek gulai Umi sekitar 25 sen, ini setara dengan belanja saya saat sekolah rakyat.

Selain posisi rumah yang menguntungkan, masakan Umi ternyata juga enak dan disukai. Tak heran dalam sekejap ‘katupek gulai’ Umi pun laris dan terkenal. Untuk membedakan katupek gulai Umi dengan katupek lainnya, masyarakat kemudian menyebutnya dengan nama ‘katupek gulai kak Ana’ sesuai nama panggilan Umi. Nama panjang Umi Rohana. Dari hasil berjualan ‘katupek gulai’ Umi bisa menghidupi keluarga kecilnya. Selain saya di rumah juga ada inyiak (nenek-ibunya Umi). Ternyata semakin lama ‘katupek gulai kak Ana’ semakin terkenal, hingga bisa mencapai 350 buah ketupat habis dalam satu hari.

Karena ‘katupek gulai’ ini pula saya waktu zaman susah, zaman Jepang, ketika orang jarang makan nasi dan kadang makan ubi dan memakai baju goni, saya tidak merasakan hal tersebut. Otomatis karena Umi berjualan saya bisa makan nasi dari beras dan Umi bisa pula membelikan saya pakaian dari dasar kain. Saya beruntung, karena Umi punya pikiran untuk berusaha, untuk berjualan, membuat saya juga tidak sampai mengalami nasib seluruh badan dihinggapi tungau atau kutu, karena dasar kain baju dari goni yang jarang dicuci.***

Pasa Rabaa

PADA zaman pendudukan Jepang yang dimulai sejak awal Maret tahun 1942, kondisi Kota Padang Panjang, termasuk Pasa Rabaa, sangat memprihatinkan. Tersimpan dalam memori saya betapa keadaan penduduk sangat miskin. Peperangan dan penjajahan menyebabkan masyarakat tak bisa berusaha untuk mencari nafkah. Pakaian terbuat dari bahan goni, bahan untuk karung beras, yang tebal dan panas di badan saat dipakai. Jika ada yang berpakaian berbahan kain, kondisinya sudah lusuh dan compang-camping.

Karena dasarnya yang tebal, menyebabkan masyarakat jarang mencuci baju, sebab akan susah kering dan baju pengganti juga tidak ada. Akibatnya baju yang dari bahan dasar karung beras tersebut menjadi sarang tumo, sejenis kutu, yang membuat badan pemakai gatal-gatal. Bau dan debu melekat di baju, membuat sangat tidak nyaman bagi pemakainya.

Saya juga ingat, di kampung pernah muncul wabah ulat bulu dan kutu yang menyebabkan penyakit gatal-gatal merajalela. Ini akibat kemiskinan yang hampir merata membuat masyarakat tidak mampu membeli sabun untuk mencuci baju. Minyak tanah yang bisa digunakan untuk membunuh kutu, pada masa itu juga belum ada. Saya bersyukur karena keluarga kami sudah menggunakan baju berbahan kain, sehingga tidak merasakan bagaimana gatalnya diserang tumo.

Kemiskinan membuat masyarakat di kampung saya jarang bisa menikmati makan nasi. Menu sehari-hari lebih banyak pelo (ubi jalar) sebagai pengganti nasi. Penduduk yang bisa makan nasi setiap hari, sudah termasuk kaya. Nasi menjadi barang mewah sebagaimana halnya daging, karena daging hampir tak pernah ada. Sampai suatu ketika, datang ikan sepat kering yang harganya lumayan murah. Sepat kering ini digoreng pakai cabe dan menjadi sambal makan nasi atau pelo yang istimewa dan mewah bagi warga.

Keluarga kami cukup beruntung karena tidak sampai mengenakan baju berbahan goni dan untuk makanan pokok sehari-hari masih nasi. Hal ini disebabkan usaha berjualan ‘katupek gulai’ yang dijalani umi bisa mencukupi kebutuhan ekonomi keluarga.

Rumah Umi di masa saya kecil memiliki dinding dari bahan bambu yang dianyam, dilapisi adukan pasir dicampur kapur. Bukan semen. Waktu itu belum ada semen di Pasa Rabaa. Kapur untuk bahan campuran pasir diambil ke Bukit Tui, Padang Panjang, yang lokasinya tak berapa jauh dari rumah. Bangunan rumah ini cukup tahan. Di zaman Jepang besi dan logam tidak boleh ada di rumah, semua harus diserahkan kepada tentara Jepang.

Waktu saya kecil, di desa saya di Pasa Rabaa banyak pohon jarak. Masyarakat disuruh menanam jarak oleh tentara Jepang, karena buahnya diambil sebagai bahan baku pengganti solar. Solar ini yang digunakan oleh tentara Jepang untuk kendaraan bermotor. Pemandangan sehari-hari di Pasa Rabaa saya ingat, mobil truk atapnya dari rumbia. Truk itu dibawa dan ditumpangi tentara Jepang. Mereka sering hilir mudik di kampung saya. Pada jam-jam tertentu ada bunyi suara kereta api yang khas terdengar, tuiiit..tuiit…tuiit..tuitt..tuiit

Listrik sudah ada, dipasang di pinggir jalan kampung. Tidak semua rumah dapat arus listrik. Tidak lebih 20 rumah yang dapat aliran listrik, itu pun rumah yang berada di pinggir jalan besar. Setiap rumah dapat arus 45 watt. Siang hari arus listrik dimatikan. Rumah yang tidak dapat aliran listrik, untuk penerangan di malam hari berupa lampu yang dibuat dari kain yang digulung dan dimasukkan ke mulut botol sebagai sumbu lalu diberi minyak kelapa dan dibakar. Cahaya yang ditimbulkan redup. Tidak begitu terang. Rumah kami termasuk yang dapat aliran listrik sehingga suasana rumah di waktu malam agak terang.

Setelah kemerdekaan diproklamirkan Soekarno-Hatta, suasana tidak langsung baik dan aman. Di Pasa Rabaa yang terletak di jalan utama Padang Panjang- Bukittinggi sering terjadi kontak senjata antara tentara Indonesia dengan Belanda. Masyarakat yang dianggap melawan dan pro Soekarno dicap ekstrimis, dicari, diperangi dan dibunuh. Antara tahun 1946-1947, suasana tidak aman. Penduduk Pasa Rabaa mengungsi ke desa di kaki Gunung Singgalang, Di pengungsian makan minum pengungsi tetap ada, karena dibantu oleh masyarakat dimana pengungsi menompang. Hanya sekolah anak-anak terhenti selama dalam pengungsian ini.***

Keingintahuan yang Kuat

MEMASUKI usia remaja saya tidak suka keluyuran atau ‘hilia-mudiak’ untuk hal-hal yang tidak jelas, seperti kebanyakan remaja lainnya. Saya hanya punya rasa ingin tahu yang agak berlebihan terhadap hal-hal baru. Ada dorongan dalam diri saya untuk mengetahui dan mencoba sesuatu yang baru, sesuatu yang membuat niat mempelajarinya muncul dan saya berani mencobanya meski belum paham benar. Misalnya, soal listrik dan juga mencoba sepeda bermesin, sepeda motor.

Soal keingintahuan untuk mencoba hal baru, meski belum paham bagaimana cara melakukannya begitu kuat. Hal ini terjadi ketika di rumah Umi sering dititipkan sebuah sepeda motor. Pemiliknya Amran, Saya memanggilnya Mak Aran. Rumah istri Mak Aran di desa Subarang yang terletak di lereng Gunung Merapi, sekitar 1 Km arah depan Pasa Rabaa.

Waktu itu dari Pasa Rabaa menuju Desa Subarang belum ada jalan, hanya ada pematang sawah yang dijadikan tempat lalu lintas oleh masyarakat. Sementara Mak Aran yang kerjanya berjualan di kota Padang dan termasuk orang kaya di Panyalaian sudah punya sepeda motor, tetapi sepeda motornya ini tidak bisa melalui pematang sawah jika Mak Aran hendak pulang ke rumah istrinya.

Mak Aran yang saat ini merupakan pemilik Universitas Baiturahmah di Kota Padang akhirnya menumpangkan sepeda motornya di rumah Umi setiap kali hendak pulang ke rumah istrinya. Sepeda motor Mak Aran diletakkan di sebuah kandang yang dibuat khusus untuk sepeda motor Mak Aran, terletak di samping rumah dan pintunya digembok oleh Mak Aran. Tetapi dari jendela rumah saya bisa melihat dan mengamati sepeda motor Mak Aran tersebut.

Saat pertama kali sepeda motor Mak Aran dititipkan, saya sudah tergoda untuk menaiki benda tersebut. Tetapi saya berusaha menahan diri. Kala itu sepeda motor termasuk benda yang harganya sangat mahal dan Mak Aran adalah satu-satunya orang yang sudah memilikinya di kampung kami.

Perbandingannya, sepeda saja tidak terbeli oleh orang kampung termasuk oleh Umi, apalagi sebuah sepeda motor. Dari mengamati, keinginan untuk mencoba sepeda motor itu semakin kuat. Naik sepeda saja saya belum pernah apalagi naik sepeda motor, tapi ada rasa mendesak dalam hati untuk menaiki dan menjalankan sepeda motor milik Mak Aran tersebut.

Suatu hari Mak Aran pulang dari Padang dan sepeda motornya dititipkan di rumah Umi. Saya mengintip dari jendela. Keinginan menaiki sepeda motor begitu kuat dalam hati. Ketika Mak Aran sudah pergi menuju rumahnya, diam-diam saya masuk melalui jendela rumah ke tempat sepeda motor diletakkan. Ruangan tempat sepeda motor itu kecil, hanya pas-pasan untuk meletakkan sepeda motor itu saja. Masuk dari luar tidak bisa, karena pintu masuknya sudah dikunci dan digembok oleh Mak Aran.

Sampai di dalam, saya naiki sepeda motor Mak Aran, sebuah motor besar, buatan Cekoslowakia, merknya Jawa. Dengan seutas kawat, tepatnya penjepit kertas, saya utak-atik kunci sepeda motor itu. Tiba-tiba sepeda motor itu hidup dan melompat, menghantam dinding. Saya terjatuh bersama sepeda motor. Dinding tempat sepeda motor jebol, tapi karena persnelingnya tak masuk, sesaat saya jatuh sepeda motor itu pun berhenti sendiri. Tentu saja saya kena marah oleh Umi. Mak Aran yang akhirnya mengetahui hal tersebut tidak memarahi. Mak Aran ketawa saja, tapi Mak Aran tidak pula ingin mengajari saya bagaimana memakai sepeda motor.

Dua kali hal yang sama saya lakukan, bukan cuma di rumah Umi, juga di rumah Etek (panggilan untuk saudara perempuan ibu) yang bernama Kasidah. Etek Kasidah adalah adik Umi yang tinggal di Padang Panjang. Rumah Etek Kasidah tak jauh dari tempat saya menuntut ilmu di SMP Negeri Padang Panjang. Setiap pagi sebelum sampai ke sekolah saya akan ke rumah Etek Kasidah dulu, mengambil sepatu, memakainya, baru ke sekolah. Nanti pulang sekolah hal yang sama juga saya lakukan, membuka sepatu dan menitipkannya di rumah Etek Kasidah. Pulang dan pergi ke sekolah saya tidak memakai alas kaki alias ‘kaki ayam’ karena saya takut sepatu saya cepat rusak, karena harganya mahal dan merupakan barang mewah saat itu.

Suatu hari, saat mau menitipkan sepatu sepulang dari sekolah, saya melihat sepeda motor Mak Aran di rumah Etek Kasidah. Keinginan mencobanya kembali muncul. Untuk kedua kalinya sepeda motor Mak Aran saya buat meloncat. Saya utak-atik lagi kuncinya. Kembali saya dan sepeda motor jatuh ke lantai. Untungnya saya tidak terluka. Mak Aran dan Etek Kasidah terkejut tapi tidak marah, mungkin Mak Aran mengerti keingintahuan saya. Bagaimana saya tidak akan tergiur, kala itu pemilik sepeda motor adalah orang yang sudah kaya, perbandingannya, mereka yang memiliki sepeda motor mungkin sama dengan seseorang yang sudah memiliki satu buah mobil mercy pada saat ini. Saya juga heran kenapa Mak Aran tidak marah.

Selain itu saya juga punya minat dan suka mengamati soal kelistrikan. Bahkan hal ini saya cobakan di rumah Umi yang hanya dapat arus listrik sebesar 45 watt dan dihidupkan malam hari saja. Saya penasaran dan berpikir bagaimana bisa membuat rumah terang benderang jika malam datang. Artinya, jika listriknya tetap 45 watt hal ini tentu tidak akan terwujud. Maka saya beranikan diri memeriksa alur arus listrik dan kabel-kabelnya, dengan memanjat ke atas loteng rumah, memeriksa bagaimana listrik masuk ke dalam rumah. Akhirnya saya mengetahui bagaimana lalu lintas listrik masuk ke rumah. Saya pun berniat mengambil arus listrik agar bisa menghidupkan banyak lampu di dalam rumah. Akhirnya dari pengamatan tersebut saya bisa melakukannya, mengambil atau tepatnya mencuri arus listrik.

Caranya, saya langsung mengambil arus dari saklar yang dibuat baru, saat arus belum masuk ke sekring. Biasanya dari tonggak listrik arus masuk ke sekring dulu sebelum dibagi di dalam rumah. Saya naik ke loteng untuk menyambungkan kawat bekas ke kawat yang belum masuk ke sekring dan dipindahkan ke bawah ke saklar baru dan saklar tersebut saya letakkan di balik lemari agar tidak kelihatan. Kalau siang hari saklar tersebut di off-kan dan malam di-on-kan. Akhirnya rumah saya menjadi terang benderang dengan tambahan beberapa bola lampu. Meski jatah daya hanya 45 watt.

Keberanian mencoba sesuatu yang baru ini juga saya lakukan untuk menghidupkan listrik di Pasa Rabaa yang tiba-tiba padam total. Saat itu saya sudah duduk di kelas 2 SMP. Saya lalu mencari tahu penyebabnya. Ternyata di salah satu tiang listrik yang berada di tepi jalan besar ada sekring pada sebuah kabel putus dan terlihat dari bawah. Saya memanjat tiang listrik tersebut dan skeringnya saya bypass dengan cara memasang kabel tambahan. Antara kabel dan kabel disambung tanpa melalui skering, sehingga arus kembali lancar. Akhirnya listrik mengalir lagi, lampu pun hidup kembali di Pasa Rabaa. Saya paham apa yang saya lakukan ini sangat berbahaya karena bisa kena sentrum. Tetapi saya juga paham cara agar tidak kena sentrum. Masyarakat tidak marah malah senang karena rumah mereka terang kembali.

Soal listrik ini saya juga sudah berpikiran mendapatkan listrik 120 volt dengan cara menggunakan dinamo sepeda. Dinamo adalah pembangkit listrik kecil yang dipasang pada garpu sepeda bagian depan. Kekuatan satu dinamo sepeda sebesar 12 volt. Jika dihubungkan 10 buah dinamo lalu diputar dengan roda sepeda akan menghasilkan arus listrik 120 volt. Roda sepeda ini diputar dengan air dari pincuran yang letaknya sekitar 500 meter dari rumah. Jika hal itu dilakukan, listrik akan nyala dan terang, tapi harus membeli dinamo sepeda dan kawat untuk penyambungnya. Sayangnya waktu itu saya tidak punya uang untuk membeli kabel sepanjang 500 meter untuk menyambungkan dari roda sepeda ke pincuran. Kalau saya minta ke Umi pasti tidak diberi karena Umi tidak mengerti. Akhirnya pikiran tersebut tidak sempat saya wujudkan. ***

Cemas Tak Lulus Sekolah Rakyat

SELAIN sangat suka dengan mata pelajaran sejarah dan ilmu bumi, sejak masih kelas awal di Sekolah Rakyat, saya juga lancar mengerjakan soal-soal berhitung dan ilmu ukur. Selama sekolah di SR rasanya tidak ada kendala dalam mengerjakan tugas ilmu ukur ini.

Lalu datanglah saatnya untuk ikut ujian akhir di Sekolah Rakyat. Saking bersemangatnya hendak ujian dan lulus dengan nilai terbaik, bersama Buyung, teman satu kelas, saya belajar dengan sungguh-sungguh, tidak hanya di sekolah juga di rumah. Kami ingin lulus dengan nilai terbaik supaya dapat melanjutkan ke SMP Negeri Padang Panjang.

Kami belajar tak ingat waktu setiap harinya. Dimulai pukul 19.00 Wib atau sesudah shalat Isya dan berakhir pukul 02.00 Wib dinihari. Kami belajar sambil menahan kantuk. Beberapa hari menjelang ujian cara belajar seperti ini rutin saya lakukan berdua Buyung, di rumah saya, yang sudah ada aliran listriknya. Rasanya semua mata pelajaran sudah dihafal, Termasuk soal-soal ilmu ukur kami kerjakan, tidak ada yang tertinggal dan saya yakin akan lulus, demikian juga dengan Buyung.

Tetapi entah mengapa saat ujian ilmu ukur otak saya seperti buntu, tidak bisa apa-apa. Padahal soal ujian itu adalah pelajaran yang sudah dipelajari sebelumnya. Kerja saya hanya bolak-balik membaca soal, tidak menulis satu pun jawaban. Lalu kertas kosong itu yang saya kembalikan ke guru pengawas. Usai ujian, saya yakin bakal gagal. Ini adalah saat terpedih dalam hidup saya, ketakutan tidak lulus, kecemasan dan putus asa menjadi satu, kala itu saya benar-benar seperti orang linglung, berkurung di rumah dan tak berani ke mana-mana.

Setelah ujian, saya mengurung diri di rumah. Ketakutan tidak lulus begitu menghantui. Kalau lima soal tak dapat satu pun itu artinya nilai nol. Jangankan nol ada nilai 2 saja dalam salah satu mata pelajaran yang diuji, seorang siswa tidak akan diluluskan. Sedih dan kecewa dengan diri sendiri membuat saya tak berani bermain dengan teman sebaya.

Umi yang heran melihat tingkah saya, beberapa kali menyuruh saya pergi ke luar, menemui teman-teman dan bermain. Tetapi saya menolak dan memilih bermuram durja di rumah. Berhari-hari seperti itu. Bayangan kegagalan begitu menakutkan.

Sampai akhirnya datang hari kelulusan diumumkan, dengan cara menuliskan nomor peserta ujian di papan sekolah. Saya tak berani ke sekolah. Beberapa teman datang ke rumah, termasuk Mahyudin dan Buyung, mereka mengajak saya ke sekolah melihat pengumuman kelulusan. Saya tidak mau.

Ternyata tidak berapa lama kemudian, Buyung datang dengan tergesa dan gembira, Buyung mengatakan bahwa saya lulus dan meminta saya melihat sendiri pengumumannya ke sekolah. Saya justru merasa Buyung mempermainkan saya karena mana mungkin saya bisa lulus, jika soal ilmu ukur tidak satu pun yang saya jawab.

Kemudian datang lagi kawan lain ke rumah mengabarkan kelulusan saya, hingga akhirnya sampai lima orang. Mereka meyakinkan supaya saya datang ke sekolah melihat papan pengumuman karena ada nama saya tertera di deretan mereka yang lulus. Umi akhirnya juga menyuruh saya untuk berangkat ke sekolah.

Dengan ketidakyakinan saya pun pergi ke sekolah, melihat ke papan pengumuman. Benar ada nama saya. Masih tak percaya hingga saya harus bertanya ke teman-teman yang ada di sana, benarkah itu nama saya dan teman-teman menjawab benar. Rasanya saya seperti hidup kembali mengetahui kalau saya lulus.

Saat menerima ijazah, saya melihat nilai ilmu ukur cuma 6 dan nilai berhitung juga 6. Saya yakin benar kalau dalam mata ujian berhitung tidak ada salah satu pun, artinya nilainya harus 10. Perkiraan saya, nilai ujian berhitung itulah yang dibagi ke nilai ilmu ukur sehingga saya bisa juga lulus. Rasanya senang sekali, bahagia sekali, karena saya lulus dan itu artinya saya bisa melanjutkan ke SMP. Umi juga senang.***

Manggaro’ Burung

DI MASA kecil, di luar waktu sekolah, saya senang berada di dapur melihat dan menemani Umi menyiapkan dan memasak katupek yang akan dijual. Kadang saya ikut pula memotong-motong nangka muda sebagai bahan utama gulai katupek. Jika kayu untuk memasak habis, Umi menyuruh saya mencari kayu bakar. Saya dengan bersemangat mencari kayu dan ranting kering untuk kebutuhan Umi memasak, bersama inyiak.

Jika datang musim menjelang panen padi, saya akan ke sawah, mengusir burung pipit pemakan padi. Saya ingat, kerja mengusir burung di sawah itu disebut ‘manggaro’. Musim ‘manggaro’ datang, suasana persawahan di Pasa Rabaa sangat menyenangkan. Di setiap tumpak sawah masyarakat mendirikan pondok kecil. Lalu di sawah yang padinya mulai menguning akan dibuat ‘orang-orangan’ dengan bingkai bambu. Kemudian dipasangi baju bekas, diberi topi lebar sehingga terlihat seperti ‘manusia’. ‘Orang-orangan’ tersebut dimaksud untuk membuat burung takut hinggap di padi.

Selain itu juga dipancangkan beberapa tonggak bambu dan di antara tonggak direntangkan tali, digantungi kaleng-kaleng bekas. Salah satu ujung tali jadi pengendali yang ditempatkan di pondok. Jika burung nekat hinggap ke padi, tidak takut dengan ‘orang-orangan, dari pondok ditarik tali yang langsung secara serentak mengeluarkan bunyi dari kaleng yang bergoyang dan ‘orang-orangan’ sawah juga bergerak membuat burung takut dan segera terbang, menghindar.

Saya senang melakukannya, ‘manggaro’ menjadi keasyikan tersendiri. Sendirian di antara padi yang menguning, mendengar suara burung dan mengamati bagaimana mereka terbang lalu hinggap di antara bulir padi, kemudian terbang lagi ketika tali ‘orang-orangan sawah’ ditarik, seperti simfoni alam yang mengalunkan keindahan ke dalam jiwa. Kadang, meski tak terlalu sering, saya juga main dengan teman sebaya di kampung kami. Mainan masa itu seperti cakbur, patok lele atau juga sembalakon, adalah mainan perintang waktu, di luar sekolah, mengaji dan membantu Umi.

Saat padi mulai berbuah hingga padi masak siap panen, selain burung, tikus termasuk binatang yang harus diwaspadai masyarakat. Tikus bersarang dan membuat lobang persembunyian di pematang sawah lalu akan memakan padi, bahkan sampai ke batang-batangnya, membuat padi yang baru berbuah bisa habis, demikian juga padi yang mulai menguning. Selain burung, tikus juga diburu masyarakat. Biasanya tikus beraksi malam hari. Saya bersama teman seusia juga suka berburu dan mencari tikus di sawah. Caranya dengan memeriksa lobang-lobang di pematang sawah tempat tikus bersarang, lalu mencongkelnya dengan kayu. Tikus yang ditemukan dibunuh dengan cara dibakar.

Kehidupan ekonomi orangtua saya, selain terpenuhi karena Umi berjualan ‘katupek gulai’ juga terbantu dengan adanya sawah. Padi yang dihasilkan dari sawah tersebut tidak banyak, karena sawah yang dimiliki Umi juga tidak luas, tetapi bisa untuk makan kami sehari-hari. Ketika itu sawah juga menjadi lambang keberadaan seseorang, semakin banyak sawah tandanya semakin berada orang tersebut.

Sebagai anak satu-satunya dari Ayah dan Umi ketika itu, saya sudah hidup bersahaja dan hemat, meski pun Umi bisa memberikan saya jajan untuk ke sekolah. Tetapi saya tidak menghabiskannya begitu saja. Antara sekolah, rumah dan tempat Umi berjualan ‘katupek gulai’ jaraknya tak terlalu jauh. Meski Umi membekali saya belanja sekolah sebesar 2,5 sen atau setara dengan harta sepiring ‘katupek gulai’, saya menyimpan saja uang tersebut. Waktu istirahat, saya akan berlari-kari kecil dari sekolah ke tempat Umi berjualan dan makan ‘katupek gulai’ cukuplah bagi saya.

Jika sudah kenyang makan ‘katupek gulai’ Umi, saya kembali lagi ke sekolah. Hampir setiap hari saya melakukan hal tersebut. Bukan karena Umi yang menyuruh saya hemat tetapi memang sudah sejak dari hati saya tertanam bahwa hemat adalah pangkal kaya, boros pangkal miskin. Jadi hemat adalah hal yang baik untuk masa depan. Saya juga tak suka ‘memanggak’ atau memamerkan sesuatu yang bisa dibeli dengan uang, semisal mainan atau juga baju dan sepatu, bagi saya apa adanya itu terasa lebih baik dan nyaman.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *