Silau Dalam Kilau

BERAWAL saat bau asap rokok dan alkohol menyergap hidung, saat pintu terbuka dan kaki melangkah masuk, ke ruang temaram, hingar-bingar. Tidak ada cahaya yang membuat mata bisa mengenali siapa di sekitar. Sesekali di antara kerlip cahaya hijau, kuning atau merah dari lampu disko, membayang wajah, meski tiada begitu jelas. Semua kemaruk, asyik dengan dunianya, dalam fatamargana. Goyangan badan, hentakan kaki atau kepala yang menggeleng-geleng, sesekali juga terlihat siluetnya. Bahkan pada beberapa titik ada yang asyik berpelukan, dalam hentakan musik, kepala serta badan tiada henti bergerak.

Gadis itu, Nurni, sejenak tergagap. Tapi tangannya dalam genggaman erat lelaki yang berdiri di sampingnya dan membawa masuk, mengambil tempat duduk paling sudut. Di sana, sudah ada beberapa pasangan lain, terlihat tak berimbang. Lelaki hampir semua sudah baya dan gandengannya gadis muda, segar, menggelayut manja. Minuman beralkohol dengan harga mahal berbotol-botol di meja bulat dan asbak penuh puntung rokok. Mereka tertawa ketika Nurni duduk.

“Barang baru?” telinga Nurni mendengar salah seorang di antara mereka bertanya.

“Ehh, bukan, ini pasangan aku. ya ‘kan Neng? Mulai hari ini dia akan menemani ke mana pun aku. Cantik ‘kan?” Lelaki baya itu berkulit hitam dengan tinggi tak lebih 160 cm. Lelaki itu bergelang akar bahar dibalut emas dan kepalanya mengkilat oleh rambut yang disemir, diberi minyak rambut. Dia yang tadi menggandeng Nurni, berbicara sambil memeluk bahu gadis yang terlihat masih polos itu. Nurni hanya senyum kecut.

Saat dia disodori minuman keras dalam gelas kaca bening, Nurni menolak. Belum terbiasa dan ini dunia yang baru saja dikenalnya. Dia hanya menemani si lelaki yang beberapa bulan terakhir telah menjadi pendonor hidupnya. Mulai biaya kuliah, kos mewah hingga satu motor scoopy baru warna ungu muda, mempermudah aktifitasnya. Kemewahan yang tidak pernah dia bayangkan.

“Dia cuma minum coca-cola,” kata lelaki itu, sambil membuka satu kaleng coca-cola.

“HHmmm…,” Nurni mendengar deheman dari gadis yang duduk di seberangnya.  Deheman yang dia tidak paham maknanya. Tak lama pasangan itu beranjak, masuk lingkaran besar manusia yang tidak jelas rupanya dalam cahaya ruang diskotik. Nurni melihat mereka juga bergoyang, menggeleng, sesekali bergelayut manja di bahu pasangannya. Sejenak Nurni begong dan merasa aneh, tidak ada penatnya orang-orang ini. Hampir dua jam di ruangan itu, sejak pukul 24.00 dan sekarang sudah pikul 02.00 WIB, dinihari, mata mereka makin menyala dan goyangan mereka makin kencang. Dentuman musik makin keras.

“Neng, temani aku ke kamar mandi,” laki-laki yang dia panggil Om, menarik lembut tangan Nurni.

“Ya, Om.” Nurni berdiri lalu berjalan ke arah sudut samping diskotik, ke toilet. Sebelum pergi lelaki itu memberi kode ke temannya yang asyik berjoget dan menunjuk meja mereka. Nurni hanya menganggap itu biasa saja, karena meja itu kosong. Mungkin laki-laki yang dia panggil Om itu memberitahukan kalau mereka sejenak beranjak.

Tak sampai 10 menit, Nurni kembali ke meja tadi. Si Om menyodorkan kaleng coca-cola, Nurni menyeruputnya. Kerongkongannya terasa agak kering, mungkin oleh asap rokok yang dia hirup, sejak awal masuk tadi. Hitungan 10 atau 15 menit, Nurni merasakan keanehan dalam tubuhnya, serasa melayang dan ingin bergoyang. Nurni bingung. Setengah jam kemudian si Om paham. Dia peluk Nurni dan dibawanya ke lingkaran teman-temannya. Sejenak dunia Nurni bertukar rupa, dari hening ke heboh.

Dari awalnya bengong melihat tingkah aneh manusia-manusia di ruangan itu, akhirnya Nurni ikut melakukan apa yang mereka lakukan. Reflek, Nurni memutar kepala, berjingkrak dan menghentak-hentakkan kaki. Tepuk tangan dari teman-teman satu meja tadi meruahkan bahagia. Dia sangat gembira. Dalam pelukan si Om, Nurni merasa menjadi ratu, menjadi bidadari dan menikmati malam itu dengan kebingaran yang bagi Nurni tiba-tiba menjadi begitu indah. Akalnya sudah tidak lagi mencerna apa-apa, hanya gembira.

“Neng, kamu hebat. Aku makin sayang. Begini terus dong, temani Om,” lelaki itu mengangkat tubuh Nurni, membawanya ke depan speaker dan Nurni makin menggila dalam lantunan musik. Bahkan saat disodorkan si Om gelas dengan minuman beraroma alkohol, Nurni merasa santai saja, biasa saja. Minuman itu malah makin menaikkan adrenalinnya. Dia menjadi ratu panggung malam itu. Menikmati sanjungan karena goyangannya hebat dan menikmati pelukan si Om, semakin erat semakin membuatnya kalap dalam hentakan kaki dan kepala.

Nurni tidak mengetahui, saat menemani si Om ke kamar mandi, salah satu dari gadis yang ada di meja bersamanya tadi telah memasukkan serpihan pil ekstasi ke dalam kaleng coca-colanya. Bahkan gadis itu tega, langsung memasukkan setengah butir yang sudah dihancurkan pakai tangannya. Itu yang membuat Nurni menggila dan dia tidak lagi dalam kontrol pikirnya melainkan dalam kontrol narkoba jenis ekstasi, yang menyebabkan tubuhnya terus bergoyang, hingga azan subuh hampir datang.

Nurni terkulai, tubuhnya lunglai dan bajunya basah oleh keringat, saat si Om membawanya keluar ruang dan menuruni lift, turun ke bawah ke lobi hotel yang berdekatan dengan diskotik. Nurni senang saat dibawa ke kamar dan dalam lelah dia merasa bahagia, dalam dekapan si Om yang tak pernah lepas.

Itu adalah awal yang kemudian mengubah dunia Nurni, melupakan studi dan hanyut dalam pelukan ekstasi dan minuman keras. Si Om ada selalu dan uang bukan lagi soal bagi Nurni, selalu ada, karena si Om sebagai pengusaha sawit adalah lelaki yang sangat berpunya.

Bahkan si Om kerap memperkenalkan Nurni sebagai istrinya dan Nurni sumringah sekali. Meski sebenarnya dia bukan istri yang dinikahi, hanya istri dalam kerlip dunia malam. Si Om mengontrakkannya sebuah rumah mungil di daerah yang bebas dari kontrol. Daerah kuning masyarakat menyebutnya. Di sana banyak tinggal pasangan seperti Nurni dan si Om. Menjalani hidup seperti suami istri, tapi si lelaki hanya terlihat kala malam saja. Subuh menjelang dia sudah hilang. Tapi tidak ada yang mempersoalkan. Ya, lingkungan itu lingkungan perumahan tempat perempuaan simpanan diberikan fasilitas oleh pasangannya, fasilitas rumah tinggal, yang biasanya cuma kontrak statusnya bukan kepemilikan, seperti juga Nurni.

Scoopy Nurni sudah berganti mobil sedan kecil cantik berwarna biru muda, mobil yang jadi impian banyak gadis teman kampusnya. mobil keren untuk gadis remaja, bermerk dinding Jazz. Di antara sedan kecil lainnya Jazz adalah mobil yang cukup mahal, tanda pemilik cukup sukses mencari uang. Sejenak saja Nurni belajar dan dengan Jazz biru muda itu dia ke mana-mana, mulai naik kelas, menjadi gadis muda kalangan the have. Cincin berlian melingkar dijarinya dan gelang emas cantik melingkar di tangannya. Semua pemberian si Om. Nurni lupa asal, Nurni lupa cita-cita, baginya berkecukupan seperti saat ini sudah sangat menyenangkan.

Nurni, dia datang dari desa yang berada di tengah pulau di kabupaten yang masih terpencil. Kabupaten yang baru dimekarkan dari kabupaten induknya. Orang tuanya hanya penakik sagu, mata pencarian sebagian besar masyarakat di desanya. Kampung mereka terbelakang, ke mana-mana naik sampan. Selain sagu jadi andalan untuk mendapatkan uang, mencari ikan di payau-payau yang ada di sekeliling kampung, juga menjadi penunjang ekonomi.

Kaum ibu biasanya membantu mencari lokan, kepiting, udang dan juga langkitang. Sekolah hanya ada SD saja dan SMP serta SMA. Anak kampung Nurni pergi sekolah ke ibukota kabupaten yang mereka tempuh setengah jam naik sampan kecil. Anak-anak ahli bermain di air dan sampan itu seperti rumah kedua. Tapi banyak akhirnya yang putus sekolah. Atau hanya sampai tamat SMP saja. Beruntung Nurni, dia bisa menyelesaikan pendidikan SMK-nya.

Nasib baik, Nurni bertemu istri bupati yang sedang berkunjung ke desanya dan tertarik dengan Nurni yang kelihatan pintar dan santun. Istri pejabat itu menawarkan agar mau kuliah. Nurni mengatakan, itu tidak mungkin karena untuk makan sehari-hari saja keluarga mereka susah payah memenuhinya. Nurni tidak bisa membayangkan kuliah di ibukota provinsi. Dari mana orang tuanya akan menyediakan uang masuk universitas, menyediakan uang untuk kos dan makan bulan ke bulan hingga keperluan buku dan diktat-diktat untuk bisa menjadi sarjana seperti yang dikatakan istri bupati.

“Tidak mungkin, Bu. Penghasilan orang tua hanya cukup untuk makan dan sekolah adik-adik yang masih SMP dan SMA. Biar saya di kampung saja, membantu ibu mencari lokan,” jawab Nurni kepada istri bupati.

“Begini aja Nak, kamu ikut ujian masuk perguruan tinggi negeri. Nanti dibantu guru sekolahmu. Jika kamu lulus universitas negeri, saya akan membantumu untuk kuliah. Anggap ibu angkat begitu,” kata istri bupati.

Nasib baik berpihak ke Nurni dan dia diterima di Fakultas Pendidikan, Jurusan Matematika. Sesuai janji istri bupati, Nurni berangkaat ke ibukota propinsi. Dicarikan rumah kos, dibiayai masuk kuliah dan dibantu biaya tiap bulan. Nurni, satu tahun pertama atau dua semester menjalaninya dengan nyaman.

Bupati Kepulauaan M tertangkap OTT KPK karena kasus jual-beli jabatan. Bupati ditangkap bersama orang kepercayaan dan dua kepala dinas.”

Suatu malam di ruang tamu rumah kost Nurni tersentak. Di hadapannya, di layar kaca televisi terpampang wajah bupati daerahnya, dengan tangan diborgol, berbaju orange dan tertunduk, saat KPK menggelar keterangan pers.

Seketika Nurni merasa dunianya runtuh. Bagaimana mungkin istri bupati itu masih akan ingat dirinya jika kasus suaminya sudah seperti itu? Selain jadi tahanan, . sebentar lagi jabatannya tentu tidak akan ada lagi. Menyelamatkan anak-anaknya saja dan mampu menghindari rasa malu, sudah hebat bagi istri bupati itu. Nurni terjatuh dalam ngilu.

Benar saja, dua bulan sesudah berita di televisi itu nomor istri bupati tidak bisa lagi dia hubungi. Artinya, uang bantuan untuk Nurni juga terhenti. Sempat dia coba bekerja menjadi tukang gosok pakaian di sebuah laundry kiloan, tapi hasilnya tidak sebanding dengan rasa capek yang dia tahankan. Lalu orang tuanya menjual sedikit emas simpanan, bisa untuk Nurni hidup tiga bulan. Setelah itu dia bisa kerja apa, di kota yang begitu banyak sarjana menganggur? Dia belum punya ijazah. Baru mau masuk semester tiga.

Dalam kondisi putus asa, Nurni gadis desa tapi dikarunia wajah cantik dengan bulu mata lentik dan bibir ranum bak asam diulas, bertutur kata lembut, dibawa temannya ke sebuah pusat main biliar di suatu mall. Berkenalan dengan pemiliknya, si Om yang juga pengusaha sawit. Dan diperkerjakan sebagai racker, wanita yang bertugas membantu mengambilkan, menata, dan mengatur bola di meja biliar. Sebentar dia jadi ratu di ruang biliar itu. Mulai mengenal tips dari para lelaki yang bermain biliar. Nurni mulai merasa butuh banyak uang agar penampilannya selalu memikat. Mulai mengenal make-up, bulu mata palsu hingga busana bermerk keluaran korea atau china.

Si Om pemilik bi.liar menangkap perubahan itu dan menawarkan uang lebih. Dari merasa disayang, dianggap anak sampai akhirnya berganti jadi gadis simpanan si Om, yang segala kebutuhannya dipenuhi. Nurni terlambat menyadari untuk segera lari dari dunia itu dan kembali ke kampung halaman, ke pelukan ayah ibu. Nurni malah mengarang cerita bohong, diterima bekerja di sebuah perusahaan dengan gaji cukup dan mampu membantu ekonomi keluarga.

Bohong satu berlanjut ke bohong selanjutnya dan ayah ibu Nurni juga buta kota, buta perkembangan zaman, karena hampir tidak pernah meninggalkan desa. Hanya bangga menceritakan anaknya sukses di ibukota provinsi.

Nurni silau dalam puja’puji orang sekampungnya. Nurni silau oleh mata iri teman sekampusnya yang memandangnya sebagai gadis banyak uang dan hidup senang. Dia telah masuk dalam cengkeraman si Om. Jika awalnya Nurni hanya disimpan di rumah, pelan Nurni dibawa ke dunia dugem, dunia gemerlapan, dunia yang bertaburkan alkohol, narkoba dan hiruk pikuk diskotik hingga bar.

Para penikmat narkoba itu makin dalam menikmati MDMA, zat yang terkandung dalam narkoba, zat yang membuat penggunanya merasa sangat euforia, bahagia, energik, dan ingin terus bergerak, terus bergoyang, terus berjoget. MDMA juga memberikan efek halusinasi dan mengubah persepsi waktu dan sensorik.

Mereka, para pengguna tidak menyadari, zat ini juga dapat menyebabkan demam, kejang, dan bahkan kematian. Menyebabkan halusinasi visual, kebingungan, dan ketakutan yang intens terhadap orang-orang dengan sifat paranoid di sekitar mereka. Jika dikonsumsi dalam jangka panjang akan menyebabkan depresi dan kecemasan. Karena itu pengguna narkoba tidak bisa berhenti, terus dan terus hingga kecanduan. Mereka berlindung dari segala cemas, depresi, halusinasi dan rasa takut dengan terus mengomumsi barang terlarang itu. Saat tidak menggunakan mereka menjadi aneh, suka marah, tidak percaya diri dan halusinasi.

Nurni terjun bebas ke dalam dunia kelam, atas nama kesenangan. Kontrol dari orang tua tidak lagi ada, karena uang berkuasa. Jangankan datang ke kota Nurni, bertanya kerjanya sebenarnya apa, sudah tidak bisa. Nurni hanya menjelaskan, dia kerja di perusahaan asing. Terima saja kiriman tiap bulan dan tak usah banyak tanya. Orangtuanya diam. Adik-adiknya senang, karena mereka bisa memiliki hape, sepeda bahkan sepeda motor, di desa yang biasanya hanya jalan kaki ke mana-mana.

Sialnya, dalam dunia wanita simpanan  tidak ada perundingan. Jika si lelaki mau dia akan datang. Tapi si perempuan mau belum tentu si lelaki datang. Dalam urusan apa saja. Begitu juga Nurni, jika dulu setiap hari si Om datang ke rumahnya, pelan tapi pasti mulai jarang. Bisa jadi karena ulahnya tercium anak istri atau dia kepincut gadis muda lain yang masih lugu seperti Nurni awal dulu. Nurni mulai sepi. Uangnya mulai berkurang.

Dalam kondisi itu Nurni butuh lelaki yang mampu memenuhi kebutuhannya, lahir batin, karena dalam pengaruh narkoba hampir setiap hari dia dan si Om selalu berakhir di ranjang.

Dan Nurni bertemu lelaki sebayanya, Sultan. Lelaki gagah dan bermata sayu, yang sejenak saja Nurni lumat dalam dekapannya. Si Om terlupa karena hari ke hari tiada kabar berita dan seperti perjanjian tidak tertulis, wanita simpanan tidak boleh banyak tanya apalagi mencari kabar, ke mana sang lelaki, kenapa meninggalkannya. Itu bisa sangat bahaya. Bukan hanya buat Nurni juga buat si Om.

Sultan dari dunia kelam dan Nurni kembali terjebak dalam lingkaran yang awalnya dia tidak paham. T.etapi kesenangan akan dugem memberanikan dirinya bersama Sultan melakukan transaksi narkoba, dengan menjadi kurir. Mobil masih milik Nurni dan dengan mobil itu mereka mulai merajalela, dari kurir kecil ke kurir menengah hingga besar. Nurni telah lupa awal dia berada, asal dia darimana. Nurni juga lupa, semakin lama menikmati narkoba semakin tidak bisa lepas dirinya dari benda itu. Semakin banyak uang yang dibutuhkan. Seperti lingkaran setan dan Nurni hilang jiwa akan jalan pulang, pada harapan yang dulu dia bawa dari desa.

Malam yang berhujan ketika Nurni, Sultan dan teman-temannya pesta pora di sebuah pub, karena ada salah satu di antara mereka sedang ulang tahun. Pesta penuh aroma minuman keras dan ekstasi, dengan Sultan sebagai raja pesta karena dia yang membayari semua. Nurni bahagia dalam puji-puja. Hingga pagi hampir menjelang mereka larut dalam kesemuan kebahagiaan. Nurni berpisah di ujung malam dengan Sultan, karena lelaki itu sudah pergi duluan, ada yang sedang menunggunya untuk mengambil barang. Mengambil narkoba.

Masih dalam pengaruh alkohol dan ekstasi Nurni melaju di jalanan kotanya di pagi yang lengang. Melaju dari jalan utama ke jalan pintas, menuju rumah. Tiada banyak orang dan Nurni dengan.earphone di telinga masih bergoyang-goyang di belakang setir mobil Jazz birunya.

Nurni merasa makin melayang, menekan pedal gas dan makin senang. Sampai di dekat pasar, pada sebuah belokan, Nurni merasakan mobilnya menghantam sesuatu. Tapi dia riang saja dan terus melaju. Telinganya yang pekak oleh earphone dan halusinasinya oleh ekstasi membuat dia merasa tidak apa-apa. Seperti menabrak sebatang kayu kecil saja. Tak mendengar begitu dahsyat benturan mobilnya dengan sepeda motor yang dibawa seorang perempuan paruh baya, penjual sayur di pasar pagi itu.

Nurni kaget ketika banyak orang, dengan mobil dan sepeda motor menghadangnya.  dua kilometer jaraknya dari dia merasa menabrak batang kayu kecil tadi. Hari masih remang-remang karena pagi baru datang. Wajah para penghadang beringas, siap=siap memukul. Mobilnya sudah penyok dipukuli. Bingung dia keluar mobil dan tangan-tangan yang sudah terangkat untuk memukul terhenti, karena yang keluar gadis muda imut dengan wajah polos, seolah tanpa salah. Tapi sesekali kepalanya goyang, bibirnya kenyat-kenyut. Polisi pun datang.

Nurni dibawa ke lokasi dia menabrak tadi, matanya menyaksikan seorang manusia yang badannya tertutup terpal. Ada sepeda motor yang sudah hancur, darah di mana-mana, sayuran di mana-mana. Dia masih menyeringai, seolah tak mengerti. Saat terpal itu dibuka, Nurni menyaksikan mayat wanita paruh baya berlumur darah, kepalanya pecah, karena Nurni telah menabraknya. Masih juga gadis itu senyum, seperti tak terjadi apa-apa.

“Dia dalam pengaruh narkoba. Geledah mobilnya,” kata seorang polisi. Tak lama Nurni diborgol, masih dalam senyum, ekstasi belum sirna dari tubuhnya. Dalam mobilnya juga ada pil ekstasi yang belum sempat diambil Sultan. Nurni dibawa ke penjara Polda, dikerangkeng. Dua hari masih dalam kondisi yang sama. Tidak ada yang datang menjenguknya. Bahkan sekedar mengantar baju atau celana dalam ganti. Nurni bahkan tak merasai asam bau tubuhnya mulai menganggu tahanan lain. Polisi wanita memberinya satu daster usang.

Hari kedua Nurni baru sadar seutuhnya apa yang sudah terjadi. Dia lemas di balik jeruji. Tidak ada yang peduli. Sultan tentu saja lari, demikian juga teman-teman satu gengnya, hilang tanpa jejak. Saat kesadarannya pulih penuh, Nurni terhempas dalam sesal yang sangat terlambat. Dia tak lagi ratu pesta tapi tahanan tabrak lari dan narkoba. Dia juga sering dibully tahanan lain, karena dianggap kejam, membiarkan orang yang ditabraknya tergeletak, dan melarikan diri. Bahkan mobilnya menyeret tubuh tak berdaya itu sampai 200 meter, sebelum akhirnya tersangkut di tiang lampu jalan.

Dan Nurni hanya bisu, kelu, ketika orang tuanya datang saat dia harus menandatangani BAP, beberapa hari kemudian. Pelan dia membaca “Gadis ini Kurir dan dijerat dengan Pasal 114 ayat (2) juncto Pasal 132 ayat (1), Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika, dengan ancaman hukuman mati, seumur hidup, atau penjara minimal 6 tahun.”

Nurni tidak lagi sanggup melihat airmata ayah ibunya. Dia lunglai, akalnya tidak lagi sempurna mencerna. Dia akan berumah dalam penjara dan kenyataan itu membuatnya kelu, linu.***

●Februari 2026

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *