Pelan menepi,
tapi tidak dari Mu
Hanya meriapkan sedikit
miang duniawi dari raga
jelaga hitam dari jiwa
agar luruh
Menepi,
Dalam indah hari-hari bersendiri, bersemedi
Meski belum sempurna pupus
Hanya sejenak henti,
teman atau pun segelas kopi
di kafe
sudut kota
semisal mie Aceh
dan rujak di tenda biru
hanya sekejap saja, sejenak saja, lalu pergi, dihindari
Memahami kisah masa lalu
tapi tak melupakannya
biar hendap, biar hening
karena jalan hebat
juga karena kisah lara
karena jatuh bangun jiwa
menepi
Hanya ingin penuh pada do’a
siang, pagi atau pun dini hari
Menepi
tapi tak dari Mu Tuhan,
Pemelihara mereka yang mencari Mu.**
