Perempuan Itu Memenggal Kepala Suaminya

Perempuan Itu Memenggal Kepala Suaminya

PEREMPUAN itu duduk di depanku, wajahnya masai, kusam, memperlihatkan garis-garis tanda menua, meski lebih 10 tahun di bawahku usianya. Aku melengos ketika melihat butiran air mata mulai jatuh ke pipinya. Kami duduk di sebuah kafe di sudut kota, tempat yang sepi dari lalu lalang orang banyak. Sesekali hiruk motor dengan knalpot brong memekakkan telinga. Atau gitar yang dipetik sumbang oleh pengamen menjadikan pembicaraan harus tertahan.

Tiba-tiba hatiku mendidih oleh amarah, mengumpat lelaki yang telah melukainya. Memberikan bara dalam jiwanya, hingga hangus, hingga kerontang. Semestinya perempuan ini saat ini sudah menjadi wanita karir dengan jabatan minimal menejer, dengan segala kemampuan yang ada dalam dirinya, jika terus bekerja. Tetapi dia berkorban karir demi membangun rumah tangga yang bahagia, menjadi ratu di rumahnya sendiri, sesuai permintaan lelaki yang dia cintai, yang membawanya ke hadapan penghulu dan menjandikannya seorang istri.

“Jadi aku mesti apa, Uni?” perempuan itu terisak.

“Pertahankan rumah tanggamu, Jingga. Jangan biarkan pelakor menang. Urus dirimu, pergi ke salon. Senangkan hatimu dan teruslah tertawa. Rangkul anak-anakmu dan cari kekuatan dalam kasih sayang mereka,” pelan, seperti berbisik, aku mengucapkan kata-kata itu. Kata-kata yang sangggup aku ucapkan, tetapi tidak aku lakukan juga, dulu, dulu sekali, karena aku memilih pergi dan menghancurkan rumah tangga oleh kesumat yang tak bisa reda.

Aku melihat diriku dan itu berbeda sekali dengan wanita ini, perempuan yang bernama Violet Jingga. Tidak ada air mata dan dengan perkasa aku pergi, membawa seluruh buah hati dan mengambil alih sendirian, segala tanggung jawab. Aku beringas, dengan segala hal yang mengapungkan perdamaian, dengan laki=laki yang telah menduakan hatiku, meski aku tidak pernah ada bukti, apakah dia juga menduakan ragaku. Aku hanya tau pasti hatiku, sakit dan tidak bisa memaafkan.

“Aku tadi berpikir Uni akan menyuruhku bercerai,” perempuan itu memandangku, seolah ingin protes.

“Kita beda, Jingga. Ingat itu. Aku perempuan karir, bekerja, punya penghasilan sendiri. Aku mampu mengambil alih tanggungjawab sendirian. Kamu ibu rumah tangga, biasa menerima, tidak mengerti buasnya dunia di luar rumah mu. Jadi ikut saranku, bertahanlah. Jangan menyerah, demi anak-anakmu,” aku terbata, melihat lemahnya dia. Entah sudah berapa banyak air mata dalam satu jam kami bersama. Bagaimana bisa dia hidup tanpa pegangan? Amarah dan hiba membuncah jiwa ku.

“Jadi aku harus apa, Uni?”

“Jadilah seperti dulu, saat masih cantik dan segar. Wangilah selalu. Layani suamimu seolah tak terjadi apa-apa.”

“Bagaimana aku bisa melayaninya, Uni? Aku jijik. Dia sudah mengakui semua, dia sudah berpuluh kali tidur dengan perempuan itu. Aku sakit dan kaku setiap dia inginkan aku,” dan air mata makin deras ke pipinya

Lelaki itu, sungguh keparat, tega menyakiti wanita sepolos dan sebaik ini. Wanita yang telah memberinya dua anak dan telah lebih 15 tahun dia abdikan diri untuk suaminya. Perempuan yang hanya punya ruang antara dapur, kasur dan sumur. Bahkan ruang tamu pun sering tertutup untuknya, ketika teman-teman sang suami datang.

“Sekarang aku yang bertanya, maumu apa, Jingga?”

“Aku mau rumah tanggaku seperti dulu lagi. Suamiku seperti dulu lagi. Tanpa perempuan itu. Jika ada perempuan itu lebih baik aku pulang ke kampung, bertani. Rumah dan tanah orang tua masih ada.” Perempuan itu menerawang.

“Anak-anakmu?” Dia menangis lagi mendengar tanyaku. Aku mulai kesal.

“Eh, mikirlah. Kamu pikir bisa selesai dengan tangis semua? Apa kamu pikir anak-anak itu akan diurus bapaknya jika kalian berpisah? Yang ada anakmu terlantar, hilang bapak hilang emak. Lalu putus asa. Kalau mereka bunuh diri gimana? Jangan ego.”

“Jadi aku gimana?”

“Rebut kembali suamimu, dengar itu, rebut kembali suamimu. Bukan demimu, tapi demi hidup dan sekolah anak-anakmu. Lupakan cinta, lupakan luka, masa depan anakmu yang utama.” Aku nyerocos, kesal lihat tangisnya.

“Oh iya, aku lupa, suamimu bilang apa?”

“Dulu dia mengaku khilaf, minta maaf dan tidak akan mengulangi lagi. Ternyata dia ulangi lagi, ketahuan lagi. Dia dengan perempuan itu lagi. Sakit Uni, sakit.”

Sejenak aku tergugu. Aku mengalaminya terlebih dahulu. Lelaki ku, cinta dan ayah anak-anakku, sama dengan suami perempuan yang terluka di depanku ini. Perempuan yang sama, perempuan yang datang dari masa lalunya. Beberapa kali aku menangkap telepon, pesan singkat atau pun pesan dari teman sekantor, dari perempuan itu. Dan lelakiku, aku tau akan memilih aku, tapi tetap menerima perempuan itu, entah cinta yang terpendam atau rasa kasih yang tak usang. Dan alu tidak bisa menerimanya.

“Saranku tetap, pertahankan rumah tanggamu. Tidak semua perempuan bisa menjadi ibu dan ayah. Apalagi perempuan cengeng kayak kamu.” Dia tertunduk. Hatiku hiba, sekaligus kesal. Perempuan ini amat lemah dan coba bertahan dalam rasa sakit. Dia gamang akan hidup yang harus dijalani jika berpisah tapi tidak bisa menerima dikhianati. Rasanya aku ingin menampar muka laki-laki yang menyakitinya, hingga babak belur, hingga berdarah-darah.

“Besok kamu minta uang sama suamimu, agak banyak. Pandailah cari alasan untuk apa. Lalu berdaganglah. Kulihat haoe-mu cukup bagus. Mulai dagang dari yang murah dulu, jilbab misalnya. Kalau kuat, jualan lontong di depan rumahmu. Mulai mandiri. Persiapkan diri. Tidak ada yang terlambat.”

Dia menatapku, nanap. “Iya Uni, benar. Aku tak kepikir. Aku akan jualan biar punya uang. Jika udah bisa cari uang, dia yang akan aku buang. Aku penggal kepalanya dari jiwa. Untuk apa hidup sama pendusta, pendosa.” Suaranya terdengar agak riang, saat menyebut kata ‘buang’. Mungkin sejenak dia terhibur membayangkan suaminya dia usir, turun dari rumah dan kehilangan kasih sayang anak-anak mereka.

Aku ternganga. Salahkah saranku tadi? Kulihat matanya yang sembab mulai bercahaya. Bahkan dia tersenyum. Aku takut dan nyeri. Ah, perempuan, jika hatinya telah terluka, suka tidak terduga.

“Baiklah. Sudah bisa aku pergi? Aku ada janji habis Ashar ini. Makan minum ini biar aku yang bayar.”

“Iya Uni. Tapi cerita kita belum berakhir. Tetaplah ada kalau aku butuh bercerita ya. Aku pasti berdagang. Gak dia beri aku masih bisa ngutang.”

Aku mengangguk. Lalu aku beranjak ke kasir sebelum pergi. Esok lusa atau satu purnama ke depan, aku ingin tau juga, dia sudah berbuat apa?

Kami berpisah di persimpangan senja, saat melam mulai menampakkan muka. Aku masih sempat menyelipkan uang seratus ribu tiga lembar ke tangan anaknya, yang cengar-cengir saja selama perbincangan aku dan ibunya. Bocah yang berwajah tampan dengan alis tebal dan sorot matanya adalah sorot mata sang ibu, sayu, merayu. Usianya baru 8 tahun, baru duduk di kelas tiga Sekolah Dasar. Dia bungsu dari dua bersaudara.

Anak itu terlihat kurang terurus sehingga ketampanan wajahnya tidak terlihat jelas. Tapi masih manja masih suka menyender ke badan ibunya, masih suka memegang ketek ibunya, yang selama percakapan agak mengangguku. Harusnya anak laki-laki seusia itu sudah tidak kolokan lagi. Harusnya bermain dengan sesama teman seusia bukan ikut kemana saja sang ibu pergi. Mungkin karena ibunya adalah ibu rumah tangga, jadi pola didiknya agak berbeda dengan aku yang wanita karir.

Sebagai orang tua tunggal aku memang mendidik anak-anak sedikit keras agar cepat mandiri, bisa mengurus diri sendiri dan tidak manja, tidak pula gampang menangis saat tersakiti. Mereka harus kuat secara mental agar tidak gampang tersandung di kehidupan yang keras, apalagi untuk perempuan. Ya, kebetulan anakku perempuan semua, tiga orang. Mereka tumbuh kuat dan tak pernah merasa bahwa mereka kekurangan kasih sayang sang ayah.

Aku ingat Violet Jingga, nama perempuan yang tadi bicara tentang lukanya padaku. Dulu dia juniorku dalam dunia kerja ini. Aku yang mengetes dia saat masuk dan dia diterima menjadi asisten sekretaris. Kala itu aku sudah dalam posisi menejer. Jingga anak yang rajin, cerdas dan rapi dalam bekerja. Dia bisa diandalkan untuk utusan administrasi. Aku suka padanya karena penurut dan pekerjaannya tidak pernah tidak selesai.

Aku menyarankan dia kuliah malam agar ilmunya bertambah dan karirinya terus naik. Saran itu dia ikuti dan dalam rentang waktu tidak terlalu lama, gelar sarjana dia dapatkan. Pas empat tahun. Dari asisten sekretaris dia naik pangkat menjadi pengawas. Gayanya mulai beda, makin keren, tapi dia sangat hormat padaku dan sudah menganggap seperti ibu baginya. Suka duka selalu dia tumpahkan padaku.

Sampai suatu ketika dia datang padaku dan menyatakan ingin mundur dari pekerjaan, karena akan berumah tangga. Pria yang jadi pilihannya adalah teman sekantor, tapi lebih rendah secara jabatan. Pria hitam manis yang suka tersenyum dan bercanda, berkumis tipis dan berhidung mancung. Secara keseluruhan dia ganteng, tak salah kalau Jingga jatuh cinta padanya.

“Mengapa harus mundur? Kantor ini tidak memiliki aturan tidak boleh menikah sekantor. Diizinkan suami istri. Sebaiknya pikirlah yang matang. Mengapa harus mengorbankan diri untuk sebuah perkawinan yang belum juga dimulai? Zaman terus berubah maju dan uang menjadi sangat perlu zaman ini, apalagi jika sudah berumah tangga. Kamu dan dia memiliki rumah pun belum.” aku coba memberi saran.

“Tapi dia memintaku berhenti kerja Uni, karena dia malu punya istri jabatannya lebih tinggi. Nanti dia jadi bahan tertawaan kawan-kawan.” Penjelasannya terasa konyol.

“Ahh, itu ego lelakinya saja tanpa pertimbangan yang matang. Bicaralah baik-baik. Kamu begitu susah mendapatkan posisi ini. Jangan tinggalkan begitu saja, harusnya pernikahan tidak menghancurkan karirmu.”

“Gak bisa, Uni. Sudah kami bicarakan. Putusannya tetap. Atau dia yang akan berhenti. Itu lebih susah lagi. Karena pasti dia lebih susah cari kerja baru dengan pendidikan dan pengalamannya yang masih minim.”

“Jadi kamu berkorban banyak untuk pernikahan ini? Kalau itu pilihannya jalani dengan baik, jangan sampai ada sesal. Jika kamu sudah memiliki anak tidak akan ada kesempatan lagi untuk bekerja, karena pastinya kantor-kantor tidak terlalu suka menerima pegawai yang memilki bayi. Karena akan dianggap menghambat produktifitas. Aku hanya ingin yang terbaik buatmu karena kamu punya potensi untuk maju di kantor ini.”

“Terima kasih, Uni. Tapi putusan aku sudah bulat. Aku mungkin akan berbahagia dengan cara yang lain, menjadi istri, bukan sekedar wanita karir.”

Sebenarnya aku ingin mengatakan padanya, permintaan mundur itu bukan karena sang suami begitu mencintainya dan ingin memanjakannya dengan hanya menjadi ratu di rumah tangga mereka. Tetapi karena suaminya merasa rendah diri, takut ditertawakan rekan-rekan sesama pria, karena jabatan sang istri lebih tinggi dari dirinya.

Alasan yang tidak logis, tetapi banyak terjadi dan lelaki membungkusnya dengan kata ingin memanjakan, saat meminta istrinya berhenti bekerja. Padahal dia sedang memuaskan egonya sendiri, melupakan rasa hati pasangan. Melupakan bahwa sebenarnya sang suami akan sangat terbantu secara ekonomi jika istrinya bekerja, karena dia hanyalah karyawan saja, bukan pengusaha atau direktur di sebuah kantor.

Sejak itu komunikasi terputus dan aku berpikir, Jingga benar-benar sedang berbahagia dalam pernikahannya, menikmati perannya sebagai ibu rumah tangga. Meski aku juga ada dengar selentingan di kantor, jika suami Jingga mulai main mata dengan anak-anak marketing, karena posisinya adalah koordinator di marketing. Tapi aku tidak menggubrisnya karena merasa itu bukan urusanku. Meski secara struktural suami Jingga adalah bawahanku, tapi urusan pribadi dia, urusan rumah tangganya, bukan menjadi uruskan kantor. Kecuali jika kerjanya atau main matanya dengan anak marketing membuat resah tim, tentulah dia baru bisa aku panggil.

Bahkan suatu kali aku pernah mendengar secara tidak sengaja suami Jingga menceritakan istrinya yang mulai cerewet, yang hanya pandai dasteran, yang tidak lagi pandai mengurus badan. Rumah berantakan dan kerap suara tangis anak-anak menjadi musik yang hingar di rumah mereka. Lalu dia memilih pulang lebih lama, duduk di kantin kantor sampai malam dan tertawa tawa bersama tim marketingnya. Bukannya pulang, memeluk anak-anaknya, agar Jingga bisa berbenah diri, berbenah rumah. Tentu juga Jingga butuh rileks, butuh rehat dan butuh teman bercerita saat dia lelah. Tapi yang terjadi, suaminya makin jauh dan makin jauh.

Sampai akhirnya Jingga menelpon, minta bertemu dan menceritakan kisahnya yang pilu. Tapi Jingga tidak minta aku memanggil suaminya atau pun memberikan sanksi, karena untuk itu harus ada bukti kesalahan dalam pekerjaan, bukan kesalahan dalam rumah tangga. Atau jika Jingga berani dan dia menyerang ke kantor, menyerang anak marketing yang jadi pelipur lara suaminya, baru juga bisa suami Jingga aku panggil, karena sudah menganggu ketenteraman kerja dengan ulahnya. Tapi Jingga tidak mau melakukan itu, memilih menangis dan bertemu aku untuk meminta saran.

Usai pertemuan dengan Jingga aku kerap terdiam, termangu. Tidak bisa tidak apa yang dia alami juga menganggu nuraniku. Hanya saja aku tidak bisa ikut campur, karena urusan rumah tangga menjadi urusan pemilik rumah tangga itu, selayaknya persoalan mereka diselesaikan mereka sendiri, kecuali ada KDRT yang membahayakan Jingga.

Aku juga termangu, kasus Jingga yang disakiti bukanlah karena dia hanya ibu rumah tangga saja, karena beberapa teman ku wanita yang sukses di karir, berpenampilan rapi dan wangi, menarik dan berpenghasilan yang sangat membantu ekonomi suami, juga mengalami hal serupa. Mereka juga diduakan. Alasannya lain lagi, karena lelaki menganggap istrinya terlalu dominan, tidak melayani di rumah, membiarkan pembantu yang mengurus persoalan makanan dan rumah mereka, termasuk mengurus anak-anak.

Ah, aku sedikit pusing, ini persoalan yang sudah turun temurun, selalu begitu dari dulu. Budaya patriarki mendominan lelaki dengan keangkuhan posisi dan perempuan selalu menjadi pihak yang tersudutkan. Bukan hanya oleh pasangannya, juga oleh keluarga dan lingkungan, jika ada perselingkuhan suami, perempuan adalah masalahnya.

Setelah itu berbulan-bulan Jingga tidak menemuiku dan aku menganggapnya sudah aman. Dia sudah berdamai dengan keadaannya. Aku sedikit senang. Karena setiap hari aku juga melihat suaminya mulai tidak terlalu lama di kantor usai jam pulang datang. Aku berpikir mereka telah berdamai dan Jingga sudah nyaman. Mungkin dia sudah mengikuti saranku, merengkuh kembali suaminya, memperbaiki hubungan mereka, sekaligus membentuk dirinya sebagai perempuan yang mandiri.

Sampai hari itu kota kami heboh. Media online, media sosial, memberitakan peristiwa tragis. Seorang istri memenggal leher suaminya, tidak sampai putus tapi cukup untuk membuat nyawanya hilang, berpisah dengan raga. Sang istri melakukannya saat malam sunyi, saat suara hingar bingar kota mulai senyap. Dan aku terpana, ketika membaca nama pasangan itu, dia adalah Violet Jingga dan suaminyalah yang terbunuh, oleh tangannya sendiri.

Dan pagi hari di ruang kerja aku menyalakan televisi, melihat breaking news. Aku terduduk tanpa suara, nyeri dan ngilu, serasa mau rubuh. Aku melihat wajah Jingga di sana, memegang sebilah pisau dapur, masih berlumuran darah. Suara-suara heboh, pikuk dan pihak-pihak yang coba membujuknya agar menyerahkan pisau itu. Tapi Jingga tertawa-tawa, senang, dengan rambut kusut masai. Dia berjalan berkeliling di antara aparat yang coba makin merapat. Jingga terus menari-nari.

“Sang istri menemukan suaminya malam kejadian bersama pelakor di kamar hotel di kota mereka. Terjadi keributan, tapi sang suami malah mengusir dan memaki-maki istrinya dan menyuruh pergi. Sang istri melihat pelakor itu tersenyum penuh kemenangan. Sang istri pulang dengan wajah penuh air mata,” begitu sekilas narasi pembaca berita di televisi.

Lalu reporter itu mewawancarai perempuan baya yang mengaku tetangga Jingga. Malam itu Jingga menitipkan dua anaknya dengan bersimbah air mata. Dia hanya mengatakan akan menyusul suaminya untuk membuat perhitungan, karena saat dia menjumpai suaminya justru dia yang diusir. Sang tetangga tidak menyangka akan begini akhirnya. Sang tetangga menyesal tidak menanyakan kenapa Jingga menangis, kenapa pipi Jingga bengkak bekas tamparan dan mau kemana Jingga larut malam begini. Dia hanya mengetahui pagi hari, setelah polisi mendatangi rumah Jingga. Melihat Jingga menggila dengan tawa dan tetesan darah di mana-mana.

Lalu aparat kepolisian menjelaskan di televisi bagaimana pembunuhan itu terjadi. Ternyata usai menitipkan anaknya sama tetangga, Jingga kembali ke hotel tersebut dan kembali membuat kegaduhan, sehingga mereka disuruh keluar dari hotel. Sang suami mulai sedikit melunak melihat Jingga yang beringas, memekik-mekik dan berteriak-teriak, seperti orang kesurupan. Dia memilih pulang, membawa Jingga dan menyuruh si pelakor pulang naik taksi online. Dia pun membujuk Jingga agar tenang dan memeluk perempuan itu erat, membawanya kembali pulang.

Setelah menjemput dua anak mereka di tetangga, rumah itu pun sunyi senyap. Tidak ada pertengkaran, tidak ada sikap berontak Jingga. Sang suami pun beranjak tidur setelah menenangkan anak-anaknya, memeluk Jingga dan membujuknya untuk tidur. Menurutnya, hening Jingga tanda pasrah dan diam Jingga tanda persoalan sudah selesai. Hingga pekik kesakitan di dinihari itu membuncah kompleks dan Jingga bernyanyi-nyanyi di halaman rumah memegang pisau berlumuran darah. Tetangga terpekik, saat menyaksikan dalam kamar, kepala sang suami nyaris putus dan kamar dipenuhi genangan darah.***

●Januari 2026

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *