BULAN setengah lingkaran hilang timbul ditelan awan. Angin lembut menggesek daun-daunan, meraup malam dalam kesenyapan. Suara jengkrik dari bawah tanah, menjadi irama lain kesenyapan. Sedang bayang-bayang pohon asam tertimpa bulan, melengkapinya, meraup malam dalam keasingan.
Dalam keasingan malam, seorang wanita 50-an, duduk termangu di tonggak batang kelapa depan pondoknya, menatap lekat bulan seten gah lingkaran. Ada binar aneh di matanya, binar yang jadi misteri ketika hilang timbul bulan membuat malam kelam dan temaram.
Bibirnya berukir senyum, tapi bukan kegembiraan. Ketika semilir angin berubah dalam sekejap jadi kencang, dan membawa awan menu tup bulan, senyumnya jadi tawa. Selalu setelah melepaskan suara yang kuat, memecah hening malam, bibirnya komat-kamit, layaknya dukun membaca mantera.
“Loookkk…”
“Loookkk…”
Komat-kamit sang wanita terhenti, dia berpaling sesaat, ke belakang, kemudian diam dan kembali menengadah, menyenyumi bulan.
“Loookkk…”
“Lapar…..”
“Loookkk…”
“Lapar…..”
Rarau itu, rarau dalam malam, menghibakan hati siapa saja. Rarau murni yang keluar dari mulut seorang kanak-kanak. Senyum wanita itu jadi kecut dan dia berdiri, masih sempat berpaling pada bulan. Sejenak, seperti mengheningkan cipta, dia tertunduk di depan pondok kayu ukuran 2 x 3 meter, tak jauh dari tunggul kelapa tempat dia duduk tadi. Sebelum derit pintu karena tolakannya terdengar, kembali dia palingkan wajah pada bulan.
“Lok, makan. Laparrr!” Seorang bocah 13-an, beringsut, mendekati sang wanita. Tanpa suara, wanita itu melangkah menuju meja kecil di sudut ruang, membuka tudung saji mengambil sepiring nasi putih. Mencecapinya dengan garam, kemudian menyodorkan pada sang bocah.
“Ndak, saya mau ikan.”
Piring itu ditolak si bocah dan kakinya yang ternyata lumpuh, mendetam-dentam, dalam malam.
“Mak Adang ang indak pulang, pitih indak ado.”
Tak lagi menghiraukan sang bocah, wanita itu kembali turun, melangkahi jenjang papan, menuju halaman. Lalu kembali duduk di tunggul kelapa. Wanita itu, Lok, menjadikan bulan sebuah keasi kan.
MALAM ini malam yang lain, ketika bulan penuh empat belas. Lok tak lagi duduk di tunggul itu. Teriakan riang anak-anak main semba lakon, dengung suara perempuan bergunjing dan dentam batu domino di kedai Sidi Marajo, tak mengusiknya. Dalam pondok pengap, kesibukan lain mewarnai malam. Kain-kain dalam satu ikatan tertumpuk di sudut. Kasur dan tempat tidur di sudut lain, piring, tudung saji serta kompor, di sudut lain pula.
“Cup, kita akan pindah.” Suara yang seperti dengung itu terdengar lamat. Dan ingsut kanak yang dipanggil Cup, dengan kedua kaki mengecil, menyaingi lamat itu.
“Ke mana, Lok?”
“Ke rumah kita. Rumah kita sendiri.”
Kemudian dari celah dinding pondok, sang wanita mengintai bulan. Senyumnya melebar dan komat-kamitnya menderas.
“Ini malam empat belas, ini malam karunia. Nar, di mana kau? Uda, di mana kau?” Wanita itu mengakak, mengguncang pondok yang tak kuat.
“Lok, Lok, takut, takut.”
Seperti disentakkan, dia berpaling. Sejenak, dalam dua kali helaan nafas, dia pun mendekat, memeluk dan mengusap rambut Ucup, memberikan kekuatan.
“Lok, kenapa lagi?” Sebuah hardikan mengagetkan mereka berdua. Seorang laki-laki muda, naik tergesa. Kemudian tanpa bertanya, membuka semua bungkusan, menebarkannya dengan amarah tertahan.
“Lok, kita tak punya rumah. Kita tak punya sanak, kita tak punya uang. Mau ke mana, Lok? Ini rumah kita, rumah sewa. Kenapa, Lok? Kenapa?”
Dalam amarah yang meluap sang lelaki menatap Lok, seperti hendak menelannya.
“Lok gilo.”
Dalam sekali hentak laki-laki muda itu berbalik turun, dan menghilang dalam malam. Lok terdiam, menatap bayang-bayang anak laki-lakinya yang ditelan malam. Kemudian dia kembali menatap bulan, lekat-lekat. Di sana, di mata tua itu, ada air yang tergenang, tapi tak bergulir turun.
“Lok gilo, Lok gilo…”
Dan senyap malam meledak dalam teriak anak-anak. Kini pondok itu dikerubungi. Ibu-ibu saling berbisik, anak-anak melompat-lompat dan Lok tertunduk, dalam.
“Bulan naik, memang bulannya orang gila. Jika bulan naik orang gila pun mulai bangkit.”
Suara itu dibisikkan dalam malam, tapi Lok seperti menangkapnya. Dalam sebuah palingan dia memperlihatkan wajah tegang, hanya sesaat untuk kemudian tertunduk kembali, dalam. Pelan-pelan, amat pelan malah, Lok bangkit, kembali membenahi barang-barang yang berserakan.
Dalam malam Lok kini tak menatap bulan, tapi bolak-balik membongkar barang-barang. Senyumnya tak lagi ada. Wajah Lok datar, tanpa ekspresi. Kemudian, ketika penat terasa, Lok terduduk. Mengecilkan lampu togok dan memeluk lutut. Hanya sesaat, ketika angin menyibak daun pintu dan cahaya bulan masuk ke dalam, Lok bangkit lagi. Perlahan dia melangkah, menuruni anak tangga dan duduk di tunggul kelapa.
“Loookkk…!”
“Loookkk…!”
Suara itu memecah malam, tapi Lok diam; menatap bulan. Kini tak lagi ada senyum, tapi Lok melepaskan tawa dalam sebuah suara, suara yang mirip ratapan. Lok berbuai-buai dalam malam, ketika orang-orang tak lagi peduli dan terlelap dalam tidur masing- masing.
KINI malam, bulan membentuk sabit, berjalan pelan-pelan mengikuti langkah kaki Lok. Dengan kepala tertunduk Lok menelusuri pasir pantai. Angin yang mulai dingin dan suara ombak yang terdengar keras, tak membuatnya berpaling.
“Lok, pulang. Pulang!”
Suara itu mengagetkan sekaligus memalukan Lok. Dia yakin, Sapar, anak lelaki satu-satunya berlari di belakang. Lok lari, terseok dan hilang dalam malam. Tapi Lok tak pulang. Lok terduduk lemah, di atas batu besar, di pinggir jalan. Sesaat, ketika menatap bulan, mata Lok kembali bersinar. Dan senyum Lok mengembang, komat-kamit Lok terdengar.
“Nar, jemput Lok, ya. Sekarang juga.”
Dalam malam, di bulat sabit, Lok melihat Nar. Dalam malam, di bulan sabit, Lok melihat Muchtar, ayah Nar dan dalam malam di bulan sabit, Lok melihat puluhan ribu berlipat-lipat, dalam kantong Sapar. Hilang timbul ingatan Lok, hilang timbul bayang-bayang itu, hilang timbul komat-kamit Lok. Ketika bulan makin menurun, Lok cemas. Dan satu-satu bayang- bayang itu makin jelas.
DUAPULUH tahun yang lalu, Lok ingat, Muchtar meninggal ditabrak kereta api, meninggalkan dia, Nar dan Sapar. Lok meratap, meraung-raung. Dengan bekerja sebagai buruh cuci, Nar dan Sapar dewasa juga. Lok penat bolak-balik, mengurus pensiunan suaminya yang pegawai kecil, tukang sapu di sebuah SD.
Lok ingat juga ketika Nar pulang menangis, meratap dan merarau. Anak gadisnya itu yang memang sedikit bodoh, tak bisa apa-apa dan kerap jadi bahan tertawaan, mengadu, telah diperkosa orang. Dan berdua dengan Sapar, dua bulan kemudian, dia cari dukun untuk menggugurkan janin dalam perut Nar. Tapi ketika bulan berganti bulan, janin itu makin membesar. Lok pasrah saja. Dan lahir Ucup, sang cucu, dengan kaki kecil.
DALAM bulan, malam ini, Lok kembali menyaksikan Ucup yang tahun demi tahun tumbuh sebagai bahan tertawaan. Lok menyaksikan pula dalam bulan, ketika dengan sabar dia gendong Ucup, dari hari ke hari, sampai hari ini. Dan saat Nar diusung dalam keranda, lima tahun setelah kelahiran Ucup, nyata nampak oleh Lok. Ketika dia meratap-ratap, menelungkup dan mencakari tanah merah yang menimbun Nar, Lok merasakan sakit seketika tangan Sapar yang menariknya.
“Nar, Nar, jemput Lok, jemput Ucup.”
Bayang itu menghilang ketika bulan ditelan awan. Dan Lok terseok, melangkah pergi, meninggalkan batu besar. Menatapi pintu pondok dan mendengar dengkur halus, Lok tak jadi melangkah masuk. Lok kembali berbalik, duduk di jembatan. Bulan sabit hadir lagi, membuat senyum Lok kembali mengembang.
Bayang-bayang yang tadi terputus, hadir lagi. Lok menyaksikan Ucup yang ditendang, dijahili, oleh anak-anak sesama besarnya. Lok melihat muka masam Raina, yang punya rumah, ketika berak Ucup bertebar-tebar. Dan Lok seperti menampak lagi, ketika dengan wajah marah Raina mengusirnya, karena masih tiap bulan belum bayar sewa rumah. Dia lihat juga Sapar yang selalu pulang malam, memberi uang seribu rupiah untuk makan.
“Nar, Nar…”
Lok terdiam dan bayangan itu kembali menghilang. Seiring hilangn ya bulan ketika angin meniupkan awan.
KEMBALI bulan empat belas. Lok duduk juga di jembatan. Lok tak tersenyum. Dalam bulan dia lihat Sapar, anak laki-lakinya memegang sepuluh ribu berlipat-lipat.
“Lok, pensiun bapak keluar. Ini rapelnya, lima ratus ribu.”
Lok terlonjak dalam bahagia, dan dia lihat kembali dalam bulan. Terbayang oleh Lok sewa rumah akan dilunasi, makan sedikit berubah dan kaki Ucup bisa diobat. Lok ingat antingnya yang dijual Sapar, dua tahun lalu. Katanya untuk bayar sewa rumah. Itu satu-satunya peninggalan sang suami dan Lok mencintainya seperti mencintai alharhum. Dan Sapar berjanji, menggantinya kembali.
“Uang ini biar saya yang pegang, nanti hilang sama Lok.”
Dalam bulan, kembali dia lihat ketika Sapar memasukkan uang itu ke dalam dompetnya dan wajah masam Lok, ketika angannya ternyata hilang. Lok kembali menatap bulan lekat-lekat, takut seluruh bayangan itu akan hilang kembali. Lok tersenyum, karena bulan utuh dan itu berarti bayang-bayang masa lalunya juga tergambar utuh, di sana; di bulan. Lok melihat ratapan Ucup, ketika tak sanggup menahan lapar.
Ternyata setelah uang itu dibawa Sapar, seminggu dia tak pulang ke rumah. Lok melihat pula wajah masam pemilik kedai sebelah pondok, ketika dia berusaha mengutang beras. Lok menunduk, menghindari bulan, karena di sana tergambar wajah Sapar yang tak sedap. Tapi sejenak, ketika kembali Lok tengadah. Lok ingin melanjutkan melihat wajah Sapar. Dan memang nyata, ketika Sapar pulang merentak-rentak, menyalahkannya, menyalahkan bapaknya yang telah tiada dan menyalahkan kemiskinan mereka.
“Duit habis, Lok. Saya kalah judi.”
Lok menyaksikan kembali wajah yang ternganga dan Sapar yang merentak turun dari pondok. Tapi Lok tak melihat airmata, padahal Lok yakin, saat itu dia pasti menangis. Ketika kembali rutinitas kehidupan dia jalani, Lok jadi akrab dengan bulan. Lok saksikan kembali percakapan tengah malam pertamanya dengan bulan, di atas kuburan Nar, enam bulan yang lalu. Betapa setelah itu dadanya lapang dan tawa Lok mengembang. Angin kembali membawa awan, bulan pun ditutupinya. Lok tercengang, kelam tak lagi menakutkan. Sesaat, ketika kembali bulan tersibak, Lok menghadiahi bulan dengan senyum.
“Bulan, kau benar-benar setia. Selalu kau tampilkan wajah Nar, Muchtar dan kau selalu terima ceritaku dengan dada lapang.” Lok menggumam.
“Loookkk…!”
“Loookkk…!”
Suara itu memecah malam, tapi Lok tak bergerak, dia tetap bercakap dengan bulan.
“Lok, sudah malam, pulanglah.”
Sapar sudah berdiri di sampingnya. Tapi Lok menepiskan tangan anak lelakinya itu. Kembali Lok menatap bulan. Dan malam pecah oleh tawa Lok, tawa yang mirip ratapan. Lok menghentak dan berlari.
“Aku mengejar bulan, aku mengejar bulan.”
Lok berteriak dan tak lagi peduli pada Sapar yang meratap, mengharap dan mengajak pulang. Dalam malam, ketika bulan tak seperti sabit, Lok berlarian, membawa tawanya.***
Padang, 1995.
* Mak Adang = Kakak laki-laki ibu
* Uda = kakak laki-laki
* Sanak = saudara
* Gilo = gila, tidak waras
Catatan: Ilustrasi Foto: Luzi Diamanda
