RUANG TENGAH itu masih menyisakan bau khas kembang pengantin. Pelaminan pun masih berdiri kokoh membelit dinding-dinding beton. Mestinya di sini masih ramai, penuh tawa ria, diselingi lelucon “porno” ibu-ibu tua. Dan si anak dara akan tertunduk malu-malu. Tapi, tidak. Bau kembang sayup-sayup ditelan bau lain. Menyebarkan kengerian. Bau anyir darah. Lihatlah, bercak-bercaknya masih bersisa, mulai mengering.
Lihat juga ke kamar, sang anak dara telentang. Matanya yang menatap langit-langit, tak lagi bercahaya. Binar kehidupan di mata itu seperti pudar, tertelan prahara pahit. Tubuhnya pun makin menyusut, memperjelas tulang-belulang. Sang ibu, duduk bersimpuh di sisi pembaringan. Pelan-pelan mengusap rambut sang anak. Mata tuanya yang mulai mengabur, tak henti-henti menderaikan air.
“Ning, inilah takdir hidup. Kita tinggal menjalani apa yang telah disuratkan. Bangkitlah Nak, esok masih ada harapan buatmu.”
Sang anak, tak bergeming. Tak juga hendak menepiskan tangan ibunya yang mengusap-usap rambutnya. Seperti mati, Ning beku. Sesungguhnyalah dia ingin sirna, sesirnanya dari muka bumi. Dan airmata yang terasa perih kala semburat dari bolanya yang kabur, kembali menderas. Meski tak hendak menangis, toh si ibu tak kuasa menahannya. Belahan jiwanya, kini harus menanggung siksa, karena dera kehidupan yang maha hebat. Dia pandang kamar itu, kamar pengantin yang belum dijamah.
Bunga-bunga segar, mulai layu. Malah ada yang telah mengering, gugur dari jambangan. Warna merah jambu kelambu, tak membiaskan keceriaan.
Malam merangkak pelan
Di langit tak ada bintang
Gelap, di mana-mana
Begitu juga hatiku
Ibu, maafkan.
Aku hendak berlalu
Air susumu, adalah darah dagingku
Kasih sayangmu adalah pelitaku
Tapi aku harus pergi ibu, pergi membawa lara panjang.
Anakmu, Lara Hening.
*
Raung panjang memenuhi pagi. Sang ibu yang telah dihimpit duka berhari-hari, tersungkur kini. Dia raup bau tubuh sang anak yang tertinggal di kasur, memulunnya dalam satu hentakan. Anaknya, si anak dara yang tak jadi, di mana kini?
“Inikah yang kau maui? Tak ada yang bersisa, tak ada. Kenapa tak kau musnahkan seluruhnya? Bunuh aku, bunuh aku,” teriak wanita itu memenuhi pagi.
Di matanya, terbayang tubuh kurus sang anak dengan wajah pucat, tak bercahaya. Ke mana langkah hendak dia bawa? Menganga dalam angan wanita tua itu jurang dalam, menelan tubuh anak terkasihnya itu.
“Ibu, tenanglah. Kita akan cari Ning, sampai dapat.”
Suara anak lelaki menenangkannya. Lalu ada tangan kekar memeluknya. Dan kembali tangis tumpah.
“Inilah yang diingini bapakmu, inilah! Tiar, jika adikmu tak bertemu, aku juga akan pergi. Tinggallah segala tirani di sini, di rumah ini.”
“Baik ibu, aku aka cari Ning. Percayalah, dia pasti akan kembali. Dia amat mengasihi ibu.”
Masih tersisa isaknya, pelan. Di ruang mata si ibu terbayang Ning, memohon pertolongan: “Ibu, tolonglah Ning, tolonglah. Kenapa ibu tak bisa menggagalkan rencana ayah?”
“Anakku, percayalah. Apa yang dilakukan ayah, seluruhnya demi kebahagiaanmu. Tak mungkin ayah menjerumuskan anaknya. Dia amat mengasihimu, Ning.”
“Ibu, yang mau menikah adalah Ning. Ini masa depan Ning. Jika sejak awal Ning sudah tak suka, bagaimana jadinya?”
“Belajarlah menyukai sesuatu, meski belum kau kenal. Demikian juga calon suamimu. Ibu yakin, kau akan bahagia di sisinya.”
“Ibu, Ning mencintai Tedi. Ning hanya ingin dia jadi pendamping Ning, selamanya.”
“Nak, tak selamanya kata hati sama dengan kenyataan. Ibu mengerti, tapi percayalah. Suatu saat kelak, kau akan melupakannya.”
Terbayang pula Tedi yang tegap, dengan kulit kecoklatan. Matanya mencorong tajam, mata yang amat disukai Ning.
DI KAMAR lain, seorang lelaki duduk bersandar. Asap rokok memenuhi ruang, meninggalkan bau sangit. Dia tak peduli. Matanya nanar, gerahamnya gemeretuk.
Dialah Komar. Tampak di matanya Ning, sang anak gadis menangis pilu, memeluk bantal, kala malam pengantinnya. Betapa putus asa wajahnya, matanya, seluruh yang ada di tubuhnya. Setelah itu, hari-hari sepi.Ning bak mayat, beku dan bisu. Terbayang juga istrinya, yang memohon-mohon, menyembah ke kakinya.
“Ning anak perempuan kita satu-satunya. Tegakah kau menghancurkan masa depannya? Kalaupun dia ikut katamu, itu karena takut. Pak, setelah ini hari-hari akan menjadi lama bagi Ning, hari-hari akan dijalaninya dengan kosong. Demi ayahnya, dia korbankan perasaan, kebahagiaan dan harapan-harapannya. Tegakah kau?”
“Anak adalah hakku. Di rumah ini, aku raja. Tak satu pun yang boleh menentang, kau dengar?”
Dalam sekali hentak, tubuh istrinya terlempar ke belakang. Dengan sekali hentak dia hempaskan pintu, dan itu adalah vonis. Berarti tak satu pun yang boleh diubah, oleh siapapun.
Tampak pula masa lalunya, masa lalu yang pahit. Komar kecil, berjualan goreng pisang. Tanpa alas kaki, dengan baju kumal, dia berteriak-teriak. Masuk gang keluar gang, masuk kampung ke luar kampung.
Di sekolah, tak jarang dia jadi bahan ejekan. Karena tubuhnya yang amis, tak mandi. Atau juga ejekan Maman, anak kepala desa yang selalu memanggilnya dengan si Goreng. Kepahitan demi kepahitan dia telan sendiri, pelan-pelan meninggalkan kesumat panjang.
Bapaknya, hanya tukang kayu. Penghasilan bapaknya tak cukup untuk makan, apalagi untuk jajan beli baju. Ibulah yang kemudian turun tangan, menjadi penyelamat ekonomi keluarga. Dengan tekad bulat, dia manfaatkan halaman rumah yang diteduhi batang nangka, sebagai tempat memasak dan memajang goreng pisang. Itupun belum cukup. Sebagai anak sulung Komar harus turun tangan, memajukan usaha ibunya. Maka tiap pagi, sebelum berangkat sekolah dan tiap sore jika hendak mengaji, dia junjung nampan goreng di kepala.
Jika lewat di belokan jalan arah ujung desanya, Komar kerap nanar menatap bangunan di depannya. Sebuah rumah bercat putih, dengan pagar besi dan dua buah Honda nongkrong di halamannya. Dia bayangkan, dialah kini pemilik rumah itu.
Berbaju harum dengan warna cerah, bersepatu kulit dan tas tangan. Pagi-pagi, ada seorang pembantu membawakan minuman, sementara istrinya yang cantik, sibuk mencat kuku jari. Itu yang sering dia lihat, dalam film-film televisi di kantor kepala desa. Tapi Komar segera berangkat, kecewa. Angannya harus pupus kala seorang ibu memanggilnya, hendak membeli goreng.
Angan itu melecut tekadnya agar tak malu dan putus asa. Dia terima ejekan sebagai kelumrahan. Meski dadanya bergolak, dia hanya tertunduk, dengan mata rebak. Untung dia dikaruniai otak cemerlang. Sekolahnya tak pernah terlantar. Malah, berkat kekerasan hatinya, dia jadi sarjana. Meski untuk itu dia harus rela, jadi calo di bioskop.
Setelah itu, kesumatnya tak padam. Rumah papan tak berlantai, dia tukar dengan rumah batu. Adik-adiknya dia belikan sepeda, lambang keberadaan di desanya. Dia belikan sang bapak bertumpak sawah, mengalirkan padi tiap tahun. Dia belikan sang ibu emas permata yang melilit badan. Itulah lambang kejayaan. Dan dialah raja kini, menguasai daerah yang pernah menghinanya.
Jika pulang dari rantau, dia akan disambut dengan hormat berlebihan. Rekan-rekan yang dulu mengejek, kerap datang minta bantuan. Dia akan senang menghamburkan uang, atas nama bantuan. Itulah pembalasan atas ejekan yang dia terima, dulu.
Tak ada yang tahu, dari mana uang itu mengalir ke kantongnya. Jangankan ibu atau bapak, istri dan dua anaknya pun tak tahu pasti. Mereka hanya tahu, Komar bekerja sebagai pegawai negeri di kantor Bea Cukai. Kesumatnya dia bayar dengan banyak dusta. Tak hanya bapak, ibu, anak dan istri, tapi banyak orang telah dia kelabui.
Sebagai pegawai negeri, berapalah gajinya? Tapi dia lihai, licik bak belut. Dengan kedudukannya, ternyata dia bisa melindungi beberapa barang yang hendak diselundupkan. Itulah ladangnya, mengalirkan rupiah demi rupiah, ke kantongnya.
Lihatlah rumahnya yang megah, hasil kerja kerasnya. Lihat pula dua mobil dan kekayaan lainnya. Siapa sangka jika tukang jual goreng itu bisa jaya? Dia bahagia, sekaligus didera rasa takut. Kesumatnya akan hidup, akan kemiskinan, telah terbayar lunas. Tapi akankah bertahan apa yang dia dapatkan kini, selamanya?
Kerap, kala malam matanya tak terpicing. Gemerincing borgol, sayup-sayup sampai di telinga. Jika itu terjadi, kiamatlah hidupnya. Apa yang telah dia dapatkan dengan banyak pengorbanan, akan sia-sia? Harapannya tumbuh pada Tiar, anak sulungnya. Dia berharap Tiar jadi pengusaha, selagi dia masih punya kuku mencari mobal. Dan jika Tiar sukses, dia segera minta pensiun, sebelum belangnya terbongkar.
Apalagi Tiar, anak sulungnya juga sarjana ekonomi. Tapi Tiar memilih jalan lain, jalan yang jadi kata hatinya. Tiar memilih mengabdi di desa.
Anak gadisnya yang cantik, mewarisi seluruh kecantikan sang ibu, adalah harapan terakhirnya. Dia sadar jika tutur lembut sang anak, ditambah jiwanya yang bersih dan tak banyak membantah, menjadi sebuah daya tarik, bagi banyak kaum lelaki. Dia amat mengerti, jika banyak rekannya, sesama pengusaha melirik anaknya.
Ada memang yang karena dasarnya buaya. Tetapi ada juga yang hendak menjadikan anaknya sebagai menantu. Ketika Ning telah tingkat IV Fakultas Hukum, Komar pun mulai melirik sang rekan, mana yang punya anak lajang. Bagi Komar, tak selesai pun kuliah Gita tak apa, bukankah kelak dia akan jadi nyonya dari salah seorang pengusha kaya?
Tatkala Murad melamar Ning, untuk menantu, kontan Komar terlambung. Siapa tak kenal Murad? Pengusaha dengan berpuluh perusahaan. kekayaannya tak lagi jutaan, tapi telah hitung miliaran. Anak lelakinya cuma satu, jelas dia kelak pewaris harta itu. Bagai dapat durian runtuh seribu pohon, Komar meluap-luap bahagianya. Hari itu juga dia bawa anak gadisnya, dan diperkenalkan pada anak Murad. Mukjizat bagi Komar, karena anak Murad ternyata amat setuju.
Berundinglah mereka, mencari hari baik bulan baik, melangsungkan pesta pernikahan sang anak. Ketika semuanya telah selesai, baru.lah dia bawa berunding sang istri. Bagi Komar, ini sebuah kejutan buat si istri. Dia yakin, sang istri akan baha.mgia dan sang anak pun tentu bersuka cita.
Alangkah kagetnya Komar ketika mengetahui sang gadis menolak pilihannya, karena telah punya pilihan sendiri. Geram dan sakit, itu perasaan Komar. Sejak itu, sang anak masuk pingitan. Apapun yang terjadi, pilihannya tetap. Ning harus menjadi menantu Somad.
DALAM waktu yang sama, Ning tercenung di bawah pohon kelapa, di tepi sebuah pantai. Gemetar badannya, menahan dingin angin, tak dia pedulikan. Ombak yang bergulung, lalu menghempas, adalah juga jiwanya. Dia tak meratap, juga tak mengeluh. Pandangannya yang lurus ke lautan adalah pandang putus asa. Di sana, bermain-main seluruh kenangan, memupus hapuskan seluruh hasratnya.
Dia tak cuma anak dara yang tak jadi, tapi sekaligus manusia yang terkikis kepercayaan. Jika dulu dia begitu mengagungkan Tedi, mencintainya dan rela berkorban untuknya, tiba-tiba di matanya kini Tedi menjadi kerdil. Dia manusia tak bermoral, yang hanya mementingkan diri sendiri.
Jika selama ini Ning yakin kalau mencintai berarti siap berkorban diri untuk kebahagiaan sumber cinta, kini tak lagi. Bagi Ning cinta adalah bentuk lain kemunafikan. Dengan alasan cinta manusia memenuhi hasrat batinnya sendiri. Cinta hanya alasan, bukan lagi sumber kehidupan.
Cinta sang ayah bagi Ning juga perampasan akan hak-haknya. Dia besarkan Ning, dia penuhi seluruh kebutuhan hidup dan dia letakkan Ning pada sebuah derajat terhormat, tujuan cuma hendak menuai hasil. Kelak, apa yang dia tanam haruslah berbuah. Tujuan membela sang anak, tak lagi demi kebahagiaaan dan masa depan sang anak, hanya demi menaikkan derajat sang bapak. Malah tak jarang anak hanya jadi tumbal, akan sebuah hasrat orang tua yang tak tuntas.
Ning merasakan kerongkongannya kelat. Di sini dulu dia mohon agar Tedi maklum akan keadaan dirinya. Memang Ning mencintai Tedi, tapi dia harus mengabdi pada bapak. Sumber hidupnya adalah bapak, maka wajar jika pengabdiannya juga pada bapak.
“Ning, aku paham. Tapi pernahkah kau pikir, jika karena itu kau telah membabakbelurkan kehidupan seorang lelaki? Jika kau terima lamaran itu, sama artinya kau membunuh aku.”
Dia tatap Tedi, mata elang itu jadi sayu. Tapi Ning tak mungkin mundur. “Ted, mengertilah posisiku. Cinta tidak segalanya bukan? Hanya sekali ini aku memperlihatkan pengabdian pada bapak. Kau selalu katakan hanya ingin aku bahagia. Maka lepaslah aku dengan suka rela, aku akan bahagia.”
“Tidak Ning,, tidak. Aku tak akan melepasmu. Kau ingat sumpahku? Hanya aku yang boleh memilikimu. Ning, kenapa kau tak mau mengikutiku?”
Tiba-tiba Ning yang lembut dan penurut, berubah jadi Ning yang tegar. Dia tolak mentah-mentak kala Tedi mengajaknya kawin lari. Bagi Ning itu adalah pengkhianatan terhadap orang tua dan dia takut akan karmanya. Dia tahu jika bapak terluka karena Tiar. Haruskah dia tambah luka itu? Ning ingin seperti ibu, yang tabah menerima takdir. Ibu ternyata bahagia, karena kepasrahannya.
Ning juga telah melihat, betapa banyak kawan-kawannya yang gagal dalam rumah tangga, hanya karena memperturutkan hati. Kawin lari karena cinta, akhirnya bercerai juga. Bagi Ning, itu adalah karma.
Berdarah hati ibu bapak mereka, karena terluka. Di atasnya masih bisakah dibangun sebuah mahligai? Ning tak yakin. “Ted, jika kau mencintai aku, lepaslah aku. Jika kau paksa, itu sama dengan menyiksaku. Dalam penyiksaan, yakinkah kau akan bisa bahagia?”
“Tapi kau tak berusaha agar akulah yang jadi pendampingmu. Kau tak pernah melunakkan hati bapak.”
“Seluruh jalan telah kucoba. Ibu juga ikut melunakkan hatinya. Tapi bapak kokoh, pendirian dan pilihannya tak boleh dibantah.”
“Jika kau menikah dengan orang lain, darah akan tercecer di muka bumi.”
Tedi membalik dan pergi. Ning menangis sendiri. Itulah akhir pertemuannya dengan Tedi. Setelah itu dia siap sebagai calon pengantin, meski bukan Tedi suaminya.
*
Binar mata bapak adalah pelipur duka Ning. Ketawa khas bapak yang menggelegar adalah obat lukanya. Ibu yang setiap menghibur, menjadi sebuah kebahagiaan lain bagi Ning. Rumah itu penuh canda, penuh tawa dan semuanya tampil penuh pesona, menanti hari perkawinan Ning.
Malam telah jadi milik Ning yang abadi. Pada malam dia kadukan lara. Tapi Ning berdoa, kuatlah dia pada jalan yang telah dia putuskan.
Ning merasakan perutnya melilit-lilit. Bayangan tadi pelan punah. Hari menjelang malam. Ning tak peduli. Jalan terbaik menurutnya, ternyata adalah jalan yang kelak akan menggoreskan luka, teramat panjang. Terbayang kembali saat dia bersanding di pelaminan. Bapak dan ibu tertawa-tawa, menyambut tamu. Dia juga tersipu malu, di samping sang mempelelai.
Tiba-tiba Ning pucat ketika Tedi muncul, membawa kado kecil. Karena putih hatikah? Perlahan dia salami Ning, lalu berbisik, “Kau hanya untukku…”
Tak ada yang menduga, tak ada pula yang bisa mencegah. Tiba-tiba mempelai pria menunduk, memegang perut. Darah merah merembes dari sana. Tedi terpaku, masih memegang pisau berlumur darah. Ning menjerit dan kemudian kelam.
*
PAGI itu Ning terjaga dari mimpi panjang. Dia lihat putih sekeliling. Ibu bersimpuh di sisi pembaringan, pucat dan cekung. Bapak tertunduk lemah, memegangi kepalanya. Tiar masih bisa menyisakan senyum.
“Ning, masih ada ibu, bapak dan aku. Kenapa kau siksa dirimu? Tiga hari yang lalu kau ditemukan pingsan di pinggir pantai. Demi ibu, kau mau bangun bukan?”
Tiar yang kekar kini luluh, menangis. Ibu meraupnya dalam peluk ketat dan bapak tertunduk dalam, di ujung kakinya. Ning hanya diam. Mata itu masih seperti kemarin-kemarin, kosong dan hampa.**
