Jika Waktu Itu Hampir

Setiap hari aku petik bunga luka
hingga ke putik sarinya
agar tak terus berbiak sempurna
lalu menyimpan dengan rapi
di bilik terdalam jiwa
membuhul tanpa tanda
agar tak bisa dibuka

Lalu purnama berlari
purnama berganti
sayangnya dia bersama bayu senja
membawa putik baru luka
menyemai lagi
di beberapa titik kisah

Lalu aku mengulang hal serupa
memetiknya lagi
menyimpannya lagi
kini bersama tawa
karena meski terus berbunga
luka tak mampu bertahta
dia luruh, tunduk,
meski terus berganti rupa

Aku bertutur pada senja
“seperti aku lahir seperti aku pergi
disambut azan diantar azan, lalu takut apa aku pada sunyi?”

Aku melihat purnama menari-nari
aku juga menari-nari
jiwa yang kembali basah
karena menemukan kata kunci
lewat bunga luka
yang terus mengelana
“Kuatlah, jangan berharap ke sesiapa, hidup hanya pengulangan-pengulangan kisah.”

Aku kini berkelana
bersama segala keheningan rasa
dalam bahtera batin
di antara zikir di antara takdir

“aku siap jika waktu itu hampir
tak lagi takut pada akhir
karena kisah telah terukir
bahkan sejak sebelum lahir”**

●Oktober 2024

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *