Luka Itu Kkenanga

BAH, mereka-mereka itu memang bangsat, manusia berjiwa kerdil. Mereka sembunyikan kebusukan diri dengan melempar kesinisan terhadap orang lain. Mereka berpura-pura suci, lalu menyebar aib tentang orang lain. Anjing kurap, setan dekil, kalian sebenarnya siapa, he? Perangilah nafsu batil kalian, baru sebarkan tentang kesucian dan sorga pada orang lain.”

Tiba-tiba ada air jatuh, tepat di tengah kertas yang ada tulisan di atasnya. Merebak, makin besar, yang lama-lama hanya meninggalkan bayangan tulisan. Kata-kata kasar yang tertera dengan spidol merah itu mulai mengembang, kabur dan susah untuk dibaca. Kemudian terdengar isak tertahan. Lamat-lamat, tapi terasa begitu keras dalam malam sepi sunyi, yang suara jengkrik pun tiada lagi.

Kala isak terhenti, ada bantingan keras, seperti piring pecah. Diam sejenak, berlanjut lagi, hingga malam jadi hingar-bingar di rumah yang kecil tapi rapi itu. Suara bantingan lenyap. Sepi. Dalam kamar yang kini tampak seperti kapal pecah, Kenanga terduduk lemas. Tangannya menopang dagu, mata menerawang. Keliaran yang sejenak membuat kamar hiruk pikuk, sungguh tak berbekas. Kenanga lelah.

GORESAN garis-garis di atas kanvas dengan warna-warna berani, mendominasi dinding-dinding di ruang pameran. Merah, hijau, kuning ungu dan hitam, berpadu serasi. Selintas kelihatan keras, tapi perlawanannya adalah gejolak hidup. Di sudut, dekat lukisan merak yang menantang, Kenanga terpaku. Matanya tak hendak terpicing. Dia raup diam-diam dalam sanubari gejolak yang timbul karena lukisan itu. Betapa menyalanya sang merak, di tengah alam yang mengungkung.
Tiba-tiba Kenanga tersentak.

Seorang laki-laki, 30-an tahun, sudah berdiri di belakangnya. Kenanga amat kenal dan lelaki itu juga amat kenal Kenanga. Kawan lama. Malah boleh terbilang kawan akrab. Tapi kali ini tatapannya terasa begitu lain, asing dan penuh tanya. Tawa yang tadi menggantung di bibir Kenanga, lenyap dengan terpaksa. Ketika akhirnya laki-laki tersebut berlalu, Kenanga terluka. Tak ada tegur sapa, hanya sebuah tarikan sinis di sudut bibirnya. Kenanga berpaling ke belakang, tempat dia tadi meninggalkan Yalih, sang suami.

Kembali hatinya robek, laki-laki yang tadi telah meninggalkan sesungging senyum sinis buat Kenanga, begitu akrab dalam baur tawa bersama Yalih, di lokasi yang sama. Kenanga mencoba melupakan keduanya. Beranjak pada lukisan lain. Ada laut dengan bianglala senja. Seorang nelayan terkantuk-kantuk di atas sampan. Tapi kini tak lagi sepenuhnya Kenanga bisa menikmati lukisan itu. Nalurinya mengatakan agar segera pergi saja. Ketika Yalih melambai, Kenanga mengangkat bahu, menunjuk ke luar. Pulang.

PADA WAKTU LAIN, dalam gelap ruang pertunjukan, Kenanga masih duduk menunduk, seperti menyembunyikan muka dari tatap orang lain. Padahal, kalaupun kepala dia tegakkan, tak ada yang bakal tahu pasti bahwa itu Kenanga. Angan yang dia bawa dari rumah, menyaksikan pertunjukan teater dengan sepenuhnya, sirna seketika. Kala kaki Kenanga melangkah masuk, saat lampu masih menyala, tiba-tiba saja ada yang mendongak. Tatapannya segera lain, saat mata mereka bertemu. Ada yang menusuk dada Kenanga, perih dan sakit.

Tatap itu berisi tuduhan dan betapa sinisnya. Sekejap, wajah itu berpaling pada teman di sampingnya, berbisik dan terus begitu sampai empat kali, tiba-tiba saja kemudian keempatnya serempak menatap Kenanga. Dan dalam diam, kembali luka menganga di dada Kenanga.

Ada api yang menjalar, memanaskan dadanya. Tatap mereka, sungguh terasa lain. Ada tanya, ada curiga dan ada juga ketakmengertian. Kenanga terpukul. Dia cari kekuatan dengan memegang lengan Yalih, sang suami. Kehangatan yang menjalar dari sana, tak menyejukkan hati Kenanga. Diam- diam dia lumat wajah Yalih yang demikian dekat, mencari sesuatu. Tapi tak ada, selain kerinduan, kerinduan seorang Kenanga, pada Yalih, meski tangan lelaki itu ada dalam genaggamannya.

ADA tangisan yang mengantarkan bara ke dada Kenanga. Tangisan anak perempuan kecil, karena ditinggal ibu. Meski itu soal biasa, toh sebentar lagi dia akan diam, tapi kali ini Kenanga merasakannya amat luar biasa. Hentakan-hentakan yang memalu dada, seiring tangis itu, membuat Kenanga terkulai lemas.

Kemudian diam. Kenanga terpaku, tak jadi melangkah ke luar. Segera dia rebahkan badan di atas kasur. Ada yang menjalar, mula-mula di kepala, berdenyut, terus ke dada, perut dan kaki. Kenanga menggigil. Sebuah rasa lain, rasa yang diliputi kerinduan, berbaur dengan kepedihan yang menyayat. Kenanga memukul dada, coba menghilangkan ngilu yang menyerang. Kala terbebas dari rasa itu, dia terkulai, lemas.

“Buah hatiku, belahan jiwa…” Sayup-sayup bibir Kenanga bersenandung, sambil tangannya mengusap perut.

HUJAN yang turun makin deras, menggigilkan. Tak hanya raga tapi juga jiwa Kenanga. Dia terpaku, menatap titik-titik air. Lalu, perlahan, melangkah menyambutnya. Sekejap, basah kuyup semua. Tapi langkah kaki yang tersendat-sendat, terus berlalu. Pedih kuliat tertimpa hujan dirasakan Kenanga belum seberapa. Dia usap pipi, masih ada benjolan, bekas lima jari tangan. Dia usap, lalu menangis. Air hujan dan airmata pun bersatu.

Lalu lalang mobil, ketipak ladam kuda bendi atau cipratan air yang dengan sengaja dilakukan para sopir membuat kumal gaun Kenanga. Dan tatap aneh dari mata yang kebetulan berpapasan atau dari rumah-rumah pinggir jalan, tak menggoda Kenanga untuk menghentikan langkah. Dia susuri hujan, seperti kemarin, ketika sebuah kecemburuan meletupkan marah Yalih, Kenanga adalah korban yang tersudut. Telah dia tutup rapat pintu hati dari sibakan masa lalu, tapi kembali itu dibangkitkan. Kenanga terkulai, selalu begini dan begini juga.

SEPULUH tahun, memang tak singkat. Sejarah kehidupan putar berputar. Tapi bagi Kenanga, tak seperti roda, sekali di atas sekali di bawah. Seluruhnya hanyalah kelelahan dan kekalahan, setelah pasrah panjang yang tak berujung. Ketika terlahir sebagai perempuan, gurat nasib adalah jelas untuk Kenanga. Kelak, akhirnya sampai pada ujung. Menjadi istri, menjadi ibu dan menjadi makhluk nomor dua. Yang lebih parah lagi, menjadi hamba. Seperti ibunya, kakak-kakaknya atau tante-tantenya atau perempuan-perempuan yang pernah Kenanga kenal.

Tapi jiwa Kenanga yang selalu bergolak, tak suka itu. Pikiran Kenanga penuh warna, tak dapat menerima kondisi perempuan yang diciptakan entah oleh siapa itu. Pastinya cara berpikir patriarki. Pikiran yang datang dari masa lalu, pikiran yang datang dari keegoisan kaum laki-laki. Kenanga memang perempuan, tapi bukan makhluk nomor dua. Kelak dia akan jadi seorang istri, tapi bukan hamba.

Bagi Kenanga, persekutuan antara dua lawan jenis adalah persekutuan dua sifat, dua pikiran dan dua idealisme. Keduanya adalah mitra, tak ada yang tinggi dan tak ada yang rendah. Jika perempuan tak kenal lelah, mengabdi seharian, demi keutuhan sebuah rumahtangga, kenapa laki-laki harus dibiarkan bebas? Harusnya saling berbagi, saling mengisi. Bantah membantah adalah juga denyut kehidupan.

Tapi tak mungkin, kultur telah tercipta, memojokkan kaum wanita, juga bagi Kenanga, dalam sebuah keranda. Dia tetap perempuan. Ketika pikiran-pikiran itu Kenanga lontarkan, dia menjadi sebuah lelucon, lelucon baru, baik dari kaumnya, apalagi bukan kaumnya. Tapi Kenanga tak patah. Kemudian, ketika Kenanga harus bersanding di pelaminan, mengukuhkan diri sebagai seorang istri, harap itu tak pernah pudar. Dia telah siapkan diri sebagai mitra.

Kala jiwa yang bergolak, pikiran yang penuh warna itu harus tandas pelan-pelan dalam kenyataan, Kenanga melabuhkan diri dalam pasrah panjang. Tapi tak lama. Jiwa dan pikiran itu butuh muara. Ketika harkat keperempuanannya dilukai, salahkah kalau kemudian Kenanga mundur diri? Jalan yang ditempuh jelas, dan Kenanga memilih; kembali sendiri. Menekuni karir, bergulat dalam keras hidup, melontarkan pikiran dan memenuhi apa yang selama ini hanya jadi gejolak hati, itulah kemudian hakikat hidup Kenanga. Sejenak dia puas.

Hidup terus berputar dan tak ada yang tahu pasti, ke mana arah putar itu akan membawa diri. Sesaat, mimpi yang jadi nyata, hilang oleh gerhana. Tiba-tiba suara-suara itu datang, suara- suara yang memedihkan. Tak hanya sakit untuk didengar tetapi juga pedih untuk didiamkan.

Perempuan yang sendiri, maju dalam karir, siapa yang bisa meyakini kalau itu karena prestasi dan keteguhan diri sendiri? Suara-suara sumbang, sindiran-sindiran tajam dan tatapan-tatapan aneh, memporakporandakan segala keyakinan. Kenanga terkapar, ketika kata janda dihembuskan penuh benci oleh kaumnya, penuh birahi oleh lawan jenisnya.

Coba untuk tidak dipedulikan. Langkah kaki menyeruak di antara bilah-bilah kehidupan. Tapi kala semua tiba-tiba tutup mata, apa daya? Kenanga, kesendiriannya selaku makhluk masih punya rasa, apakah harus diam saja? Kerap, malam-malam, tanya mengapung pikiran dan jiwanya. Tuhan beginikah hidup? Jiwa Kenanga bergetar. Diakah yang telah menyalahi takdir?

Kembali lelah panjang menemani malam demi malam, pagi demi pagi, siang demi siang terpuaskan oleh gejolak jiwa yang terus mencari atau oleh gejolak pikiran yang terus memberi. Untuk apa semua ini? Untuk apa diambil, kala badai sampai pada puncaknya? Kadang hanyalah keputusan yang bersifat untung-untungan. Kesendirian, ternyata tak selamanya menyenangkan. Dan dalam badai yang menderu, ketika sebuah uluran tangan datang menawarkan damai, mungkinkah itu ditolak? Sebuah kasih tak bertepi, sebuah kasih dengan pemahaman, datang dari Yalih.

Gejolak jiwanya adalah gejolak jiwa Kenanga juga. Dan dia adalah mitra, tempat segala ide hendak dibagi, lalu dirumuskan dalam sebuah karya. Hadir di produk masa kini, Yalih adalah juga orang yang menggugat keadaan. Perempuan bukan hamba dan pria bukan dewa. Kenanga terbuai, kharisma dan simpati yang menggetarkan. Tak pula dia gugat hati, kala harus mengukuhkan diri sebagai istri. Dan layar yang terkembang adalah layar kokoh, untuk lautan maha luas. Tak Kenanga ragukan cadiknya, tak Kenanga ragukan gelombang. Bukankah dia juga gelombang? Dan putusan itu diambil, dia kembali menjadi istri, istri Yalih.

Ternyata dalam hidup yang terus berputar, kadang kita terlanda oleh putaran itu sendiri. Begitu juga dengan Kenanga. Adakah madu cuma manisnya sampai di bibir saja? Jika manisnya ternyata datang bersamaan dengan pahit empedu, apa daya? Pahit atau manis, akhirnya sama-sama menjadi sebuah kekalahan, kalau kita tak berdaya mendayungnya mencapai pulau cita.

Siapa duga kalau layar kokoh itu bisa sobek? Pertama, oleh Yalih sendiri. Sebagai lelaki yang masih lajang, penuh keberanian melompati pagar untuk hidup bersama perempuan yang pernah berdua dan kemudian sendiri lagi, akhirnya pertahanan itu luruh juga. Yalih dirasakan kenanga gagap setelah menjadi pendampingnya, gagap dengan sekitar, gagap dengan kata dan pandangan manusia lain.

Kenanga merasakannya, meski Yalih tak pernah berkata apa-apa. Ketika Yalih menolak mengatakan siapa Kenanga sesungguhnya kepada keluarga, bahwa istrinya adalah perempuan yang memiliki anak-anak, Yalih sudah menyimpan sebuah dusta. Cinta memang kerap terbawa emosi, tanpa mau menoleh agak sejenak, apa setelah itu yang akan terjadi. Dan cinta Yalih, mengalahkan seluruh perintang, sebelum ini. Tapi seperti emosi yang bisa reda, jika pelampisannya sudah tuntas, demikian pula cinta. Kalaupun tak musnah, kadarnya tak lagi sekental dulu.

Hari-hari yang penuh madu, keduaan yang menggairahkan Kenanga dan Yalih serta kemanisan yang seolah tak habis mereka reguk, pelan tapi pasti terkikis juga, oleh kenyataan. Pertanyaan tentang masa lalu yang tak perlu, kecemburuan yang tak perlu, kini muncul ke permukaan sebagai sebuah kendala yang tak pernah tuntas.

Dia teror kebersamaan yang awalnya bak madu, dia retas benang kasih yang awalnya bak nira, kemudian dia bangun pelan-pelan jaring keretakan. Retak itu makin makin lebar. Dan kembali Keperempuanan Kenanga tergugat. Mitra yang dia harapkan, ternyata berbalik pada kadar semula, lebih mengarah pada hamba. Dan bantahan sudah tak lagi ada artinya, karena dia harus menerima. Dia tak lagi kawan seiring, tapi hanyalah seorang penunggu rumah. Dalam kegalauan, sungguh, Kenanga tak tahu rimba mana lagi yang harus ditebas.

Beban lain, ketika gugatan alam juga harus hadir. Kenanga, sebagai perempuan yang rahimnya adalah tempat persemaian, mulai merasa kalau benih itu hidup. Tatkala tuntutan baru hendak disusun, ketika keberadaan baru hendak digugat, benih itu datang, nyata dan tak mungkin ditolak. Dalam gugatan demi gugatan, dalam gejolak demi gejolak, dalam tanya demi tanya, apa lagi yang harus dipertahankan? Kenanga, sendiri dan merasakan jentik-jentik benih dalam rahimnya sebagai sebuah tantangan lain. Dalam kegalauan, Kenanga tahu pasti dia tak ingin memisahkan benih ini, apalagi menguranginya kembali. Dia adalah nyata, dari bibit Yalih dan dirinya.

Demi sebuah kehidupan baru, jika benih ini kelak lahir, Kenanga kembali tata hatinya. Sungguh dia tak sanggup kalau kelak benih itu hadir, dewasa dan kemudian kembali menggugatnya sebagai ibu yang gagal. Kenanga, terlahir sebagai seorang perempuan dan segalanya harus dia tahankan.

Kenanga kembali menekuri lantai. Pecahan-pecahan kaca dan koran- koran yang berantakan, seperti memandangnya tak mengerti. Dia tak akan maklum, betapa sesungguhnya dia hanya lampiasan dari jiwa Kenanga yang tengah menjerit. Tak hanya keperempuanannya yang digugat, tapi keberadaannya di sisi Yalih pun digugat.

Perempuan-perempuan yang merasa aneh dengan pilihan Yalih terhadap dirinya, mulai menggoda. Perempuan yang sudah menjadi ibu pun ikut menyodorkan gadis pada Yalih, meski dalam samaran, tapi Kenanga amat paham arahnya. Masa lalu Yalih yang selalu datang menggoda, masa lalu yang mungkin juga merasa pilihan Yalih menikahi janda adalah salah, terus menerus menggempur hati Kenanga. Tidak ada hari tanpa gelombang dalam perjslanan Kenanga. Apalagi dunia dia dan Yalih sama, seniman, yang kerap harus bersamaan dalam karya atau kebersamaan saat bertemu teman. Kenanga patah, dalam jiwa. Tak bisa bersuara. Demi benih yang terus tumbuh dalam rahimnya.

Perih Kenanga jeritkan lewat nafas yang berhembus keras, bahwa dia, seorang Kenanga, tetaplah seorang perempuan yang telah kembali dari keduaan, kesendiriaan dan keduaan lagi. Itu cukup untuk sebuah status, tak bagus. Doa-doanya kepada Tuhan, kala sujud tengah malam, belum tuntas membukakan pintu. Tapi tak seperti masa lalu, kali ini tak mungkin membongkar sejarah lama, meninggalkan segalanya, meninggalkan Yalih dan sendiri lagi. Kenanga, seorang perempuan, harus arif untuk sebuah keutuhan. Dan dia terjebak dalam gelombang yang sama.

Kenanga kembali menatap kamar yang berantakan. Ini sudah pukul dua pagi dan Yalih belum juga pulang. Selalu begitu. Lelaki itu tiba-tiba menjadi asing. Mungkin dia meluapkan segala gundahnya dengan meninggalkan Kenanga sendirian pada malam-malam yang begitu panjang dan Yalih dengan leluasa bersama asap rokok, kopi dan tawa dengan teman-temannya. Kenanga bisa apa? Begitu ketat, begitu kuat, keperempuanan ini memeluknya. Yalih yang dia pikir cinta dan tawa, ternyata luluh juga oleh banyak tanya. Bagi Kenanga, kepergian Yalih tiap malam adalah bentuk pelarian, bentuk penyesalan, karena dia memilih istri seorang perempuan yang pernah berdua dan memiliki anak-anak, dalam tangungannya.

Kenanga tunduk, terduduk. Kertas-kertas putih yang berserakan dan catatan-catatan yang dia hancurkan, tidak mampu melerai gelombang luka dalam jiwa. Dia pelan bangun, mengambil segelas air, meminumnya hingga habis. Kamar ini, kamar yang sunyi dan hampa, penuh debu buku dan pengap oleh udara yang masuk tidak seberapa, tiba-tiba terasa seperti penjara.

Kenanga meraba perutnya, ketika pelan mulai ada gerakan. air matanya kembali tumpah, bukan oleh prahara tapi suka cita. Dia menyentuh payudaranya, mulai padat, cikal bakal kehidupan baru, penyambung nyawa untuk benih yang sedang dikandungnya. Kenanga pelan tapi pasti membatin, bahwa dia harus hidup untuk kehidupan yang sedang bergerak dalam dirinya.

“Aku akan belajar melupakan harapan bahagia bersamamu Yalih. Aku akan bangun bahagiaku sendiri dengan titisan darahku. Aku akan tetap hidup meski sebagian hatiku mati, hingga waktu akan menjawab, apa balasan dari semua ketidak pedulianmu ini.”

Kembali dia menulis dan kembali tulisan itu dalam sekejap menjadi sobekan kecil. Dalam perang jiwa, tiba-tiba matanya mengantuk, Kenanga tertidur dalam deru luka, dalam deru hidup baru, di rahimnya. Dia lelah dalam pasrah yang tidak jelas ujungnya.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *