LELAKI itu membuang muka di ujung sendat kata. Tetapi perempuan yang duduk di hadapannya terlanjur sudah melihat, ada air yang menggenang di pelupuk, meski coba ditahan si lelaki. Entah perih apa entah letih apa, yang sedang menguasai jiwanya.
“Begitu banyak perempuan, begitu banyak pelukan, tapi hati tak bisa didustai, hanya kamu, jiwa.” Suara lelaki itu lirih, seperti desau pohon bambu yang diadu angin, menggigilkan belulang, perih, ngilu.
“Mengapa tidak mencari damai? Berlabuhlah pada satu hati, Ago.” Perempuan itu menatap dan lelaki itu tersenyum, pahit.
“Bagaimana aku bisa berlabuh? Aku masih saja melayari jalan yang sama, tempat yang sama, jalan dan tempat di mana ada jejak kita. Aku tapaki terus, selalu. Sakit sekali, Runi, Seruni, Seruniku yang hilang.” Lelaki yang dipanggil Ago itu menghela nafas, panjang.
“Oh…” Hanya itu ucap, seperti keluh, mendesah, dari mulut Seruni.
“Bahkan diam-diam aku juga kerap mengikutimu dari belakang, saat malam kamu lalui sendirian.” Lelaki itu benar-benar menangis. Menatap nanap Seruni, yang tiba-tiba memainkan jari tangannya, resah.
“Jalan kita sudah berbeda. Tidak lagi sama. Aku akan bisa tetap ada, tapi bisakah seperti bersaudara? Anggap aku adikmu saja.” Suara Seruni makin lirih. Dia terjebak dalam situasi yang tidak dimaui.
Seperti berada dalam palung, panas, perih. Rasa kasih lelaki yang sedang terluka di hadapannya, tak perlu dia ragu. Cinta lelaki itu padanya, tak perlu dia tanya. Tetapi jika kasih dan cinta itu justru membelenggunya, merampas hak hidupnya dan menyia-nyiakannya, untuk apa? Cinta yang tidak bertanggungjawab. Cinta yang menyengsarakan. Dan Seruni memilih lari dari cinta aneh itu.
Seruni telah merasa cukup berjalan sendirian di garis yang bara api hidup membakar hatinya, menghanguskan jiwanya. Dia terseok-seok berjalan untuk menjadi tulang punggung kehidupan yang banyak nyawa harus dipertanggungjawabkan. Sementara lelaki itu sibuk dengan dunianya yang halu, menyanjungnya dengan cinta tapi tidak berbuat apa-apa.
“Bukankah kamu harusnya bersyukur kita tidak lagi bersama? Kini kamu bisa memiliki lebih banyak harta. Kamu bisa pergi ke mana kamu suka. Kamu bisa beli apa yang kamu mau. Berbahagialah.” Seruni tertawa, sambil menyeruput bandrek susu yang hangat.
“Bahkan cinta juga bisaku beli. Tapi aku juga tahu, perempuan-perempuan itu mau hanya karena duit ini. Aku terlambat menyadari bahwa hidup butuh uang. Aku sibuk dengan duniaku, bersenang-senang dengan caraku. Ya sudahlah. Aku sakit, sakit sekali, di sini, di dada ini. Andai aku bisa lupakan kisah kita.” Lelaki itu berdendang pelan, mengikuti petikan gitar pengamen yang terdengar fals.
“Kau membunuhku. Pelan. Tapi pasti. ” Sago menatap lekat Seruni, dengan air yang menggenang di kelopak mata.
Ah, andai Seruni paham, betapa lelaki itu ingin mendekapnya erat, tidak melepas lagi, sekejap jua. Jiwa lelaki itu terus menyaru, sepanjang detak sadar hidupnya. Menyaru yang pilu. Menyaru yang ngilu. Menyaru nama yang tiada mungkin kembali. Nama Seruni.
“Tiap malam dugem teruslah ya.” Tanpa sadar Seruni nyeletuk, nyeletuk yang salah.
“Ya. Aku telah kembali pada jahanam dunia. Pada semu hiburan semata. Pada dekapan perempuan-perempuan yang butuh uang. Tapi tidak bisa mereka miliki hatiku. Aku hancur dalam kekalahan yang kamu ciptakan. Kau bunuh aku.” Suara Sago seperti mengerang. Pedih, rindu, benci, berbaur dan dia tidak bisa memilah yang mana harus dikatakan.
“Kau yang membunuh dirimu sendiri Aku telah memberimu waktu. Sudah sangat cukup. Kamu sia-siakan. Bisakah sekarang kita lupakan saja kisah? Aku ada untukmu, sebagai saudara.” Dan dengan berani Seruni menatap nanap mata si lelaki. Menguji kekuatan hatinya sendiri. Dia telah melupakan benci.
“Hanya ada kamu di siang dan malam hidup ku. Hanya ada kamu di sadar dan mabuk diriku.” Sago memalingkan wajah dan berdendang, tentang hati yang patah.
“Kamu megang barang itu lagi kan? Makanya duitmu banyak sekarang. Kenapa tidak bertaubat?” Seruni mengalihkan pembicaraan.
“Untuk apa? Bertahun aku memohon pada Tuhan, aku ikuti saranmu, taubat. Tapi istri, cinta sejatiku, yang kuharap kembali, Seruni ku, justru makin jauh pergi. Aku benci miskin. Jangan peduli.b ” Sago tiba-tiba menyentuh tangan Seruni, menggigil.
Seruni menarik tangan dan menjauh pandang dari lelaki yang dulu dia jumpai dalam hitamnya kehidupan, menikmati dunia dari indahnya minuman keras, narkoba hingga pelukan perempuan-perempuan yang menjajakan diri untuk uang. Lelaki yang dia jumpai saat penelitian untuk tesis pasca sarjana, tentang dunia malam yang hitam kelam.
Lalu cinta datang begitu saja. Cinta yang dipertemukan oleh sepi jiwa, dan lelaki itu memberinya janji, meninggalkan segala kemaksiatan, bertaubat dan mencari jalan halal, untuk kehidupan, jika mereka bisa bersama. Janji yang membuat perempuan itu hanyut dan merasa sebagai pejuang, hingga ijab kabul dilakukan.
Perempuan itu lupa, jalan yang telah ribuan minggu dijalani tiada kan gampang ditinggalkan. Apalagi jika jalan itu memberikan uang, kecukupan, kesenangan duniawi, meski salah.
“Aku sudah tidak lagi memiliki hati, Ago. Hangus, kelam, karena kamu juga. Marilah kita berjanji tetap ada, sebagai saudara. Bisa kan Ago? Pasti bisa. Atau kita benar-benar saling membenci dan tak perlu bertemu, meski sekali saja?”
“Jangan membenci. Jangan. Kucoba menganggapmu, Seruniku yang hilang, sebagai adik, izinkan aku tetap bertemu, sesekali saja. Panggil aku, jika sedang perlu bantuan. Kamu kan sendirian di kota buas ini,” lelaki itu menawarkan opsi.
“Baik Ago. Mungkin lebih baik begitu. Bagi aku duit dong, duitmu kan kini banyak. Anggap adikmu yang sedang meminta duit.”
Seruni coba mencairkan suasana dalam waktu yang terasa lambat berputar. Dia ingin tertawa dan lepas dari situasi aneh ini.
“Kamu selalu suka bercanda, Runi. Aku tau kamu tidak kekurangan uang, hanya ingin mengajuk aku. Bak katamu dulu, duitku duit haram. Bagaimana bisa aku memberikannya padamu? Kau cahaya bagiku, tiada kan ku nodai, juga dengan duit ku yang kamu tau darimana asalnya.”
“Mana kunci motormu Runi? Biar aku bantu keluarkan dari parkir yang sempit itu. Terimakasih sudah mau menemuiku. Kamu bawa jaket hujan ‘kan? Jika kamu bisa bawa mobil, pulanglah dengan mobilku. Biar aku berbasah-basah dengan motormu. Tapi kamu masih juga belum bisa mengemudi kan?”
Mereka sama berdiri dan laki-laki itu duluan untuk membayar di kasir. Seruni tertawa dalam hati. Dulu, saat mereka bersama, jika makan di luar begini, pasti Seruni yang akan ke kasir dan membayarnya.
“Adik, hati-hati di jalan. Aku lanjut mabuk dulu. Minuman dan perempuan pelipur lara kehilanganmu,” lelaki itu mengusap kepala Seruni dan matanya kembali basah.
“Jangan panggil aku dalam mabukmu, Ago,” ujar Seruni saat mulai menghidupkan motor. Ada sedu jatuh ke jiwa. Benarkah sayang itu telah sirna?
Memacu motor 60 km per jam, Seruni bersenandung kecil di antara rinai gerimis, pada malam saat jalanan kota tidak juga lengang. Motor kesayangan, yang sudah 15 tahun menemaninya. Seruni selalu ditertawakan teman-teman, kenapa dia tidak beli mobil, hilir mudik dengan mobil, karena secara keuangan, paling tidak dengan cara kredit, Seruni akan mampu memiliki sebuah mobil. Tapi Seruni tak hendak. Baginya mobil hanyalah penjara borjuis yang akan memasukannnya dalam kerangkeng lebih lanjut. Dia tidak ingin terlihat kaya atau gaya, hanya karena sebuah mobil. Dia ingin terus bersahaja, hidup dalam tatacara sederhana tetapi penuh makna.
“Belilah mobil Runi. Biar tidak berhujan berpanas. Masak menejer tak punya mobil. Tu anak buah mu bermobil semua,” kata seorang temannya suatu ketika.
“Untuk apa?”
“Ya, selain aman dari hujan panas, juga untuk gengsilah. Seruni, perempuan sukses dalam karir, masak ngak punya mobil.”
“Ahh, itu aku tidak peduli. Aku senang dengan motor mengitari kota ini, menyatu dalam deru, bahkan dalam hujan dan panas, aku merasa riang, bernyanyi bersama laju motor di jalanan. Saat aku bernyayi kecil, atau saat aku berzikir, dalam balutan jas hujan atau kaca mata hitam, saat panas terik datang. Keren kan?”
“Kamu memang aneh, perempuan karir yang aneh.”
Percakapan Seruni dan temannya akan berhenti saja sampai di situ, karena sang teman tidak kunjung bisa mempengaruhi Seruni dalam gaya hidup hedon yang selalu dijalani wanita-wanita karir di kota mereka. Pakai baju bermerk, sepatu brand. Mobil, perhiasan yang kadang hanya imitasi tapi berkilauan, membohongi yang melihat dan tentu saja di balik itu hutang di mana-mana.
Demi gaya menggadaikan SK, sungguh Seruni tak bisa menelaah, kenapa mereka, teman-temannya bisa begitu. Tiap bulan pusing dengan cicilan. Sementara Seruni, dengan tenang melenggang tiap bulan, bisa berbagi dengan banyak orang kurang mampu, meski sedikit saja, tetapi dia bahagia. Baginya memberi adalah cinta pada kehidupan itu sendiri, tentu setelah untuk dirinya cukup, karena gaya hodup sederhana tidak memusingkan kantongnya.
Sebuah mobil melaju kencang, memercikan air cukup banyak ke arah Seruni. Celana jeansnya basah, sepatunya basah. Tapi Seruni tidak marah. Ini resiko berjalan dalam hujan dengan motor di kota yang jalannya masih banyak lobang. Dia juga tidak mengumpat, karena itu tidak akan ada gunanya. Seruni menikmati saja rasa dingin yang mengaliri betisnya oleh percikan air tadi, membiarkan hujan yang mulai melebat, ikut membasahi tubuhnya.
●
“Ago, kenapa engkau tak bisa pada jalan yang lurus?” tiba-tiba batinnya mengeluh.
Dulu Seruni merasa bangga bisa membawa Sago dalam hidupnya. Cinta yang meneggelora. Lelaki itu menurut, baik dan pelan mulai terlihat meninggalkan dunianya. Mengantar Seruni ke mana saja Seruni akan pergi, untuk lobi atau pertemuan unit usaha. Seruni yakin Sago sehabis mengantarnya akan pergi ke sebuah bengkel mobil yang Seruni telah lobi pemiliknya agar menerima Sago sebagai sopir untuk tes ketika mobil tersebut selesai diperbaiki bengkel. Seruni sangat yakin Sago menjalai hidupnya dengan tenang, dalam naugan cinta dirinya dan kasih yang membuat mereka selalu terlihat seperti sepasang kekasih, sehingga banyak yang merasa iri.
Tapi ada Seruni yang tidak mengertti, tidak mengetahui. Pecandu susah disembuhkan, jika tidak dari hati sanubarinya sendiri yang ingin berubah. Tahun berjalan dan Seruni pelan tapi pasti mengetahui juga, Ago kembali ke dunianya. Menikmati narkoba, minuman keras dan juga judi. Kerja di bengkel mulai tidak konsentrasi. Hingga saat kenyataan itu nyata, Seruni pun bertanya.
“Kamu kembali lagi ke duniamu?”
“Iya. Teman-teman selalu mengajakku. Tapi tidak ada perempuan Seruni. Aku menjaga setia meski dalam balutan narkoba dan minuman keras.”
Seruni terpukul, hancur dan jatuh dalam rasa sakit luar biasa. Tapi dia memaafkan setelah Sago berjanji tidak akan mengulangi dan kembali bekerja dengan serius. Seruni memaafkan. Satu, dua hingga tiga kali kejadian yang sama dan Seruni mulai merasa Sago dengan dunianya akan menghancurkan integritas, harga diri dan karir Seruni. Dia tidak bisa lagi memberi maaf. Hingga talak itu pun jatuh.
Seruni tidak paham, selama pernikahan mereka Sago tetap dengan dunianya. jika dia bisa memberi Seruni sedikit uang itu justru dari hasil menjual narkoba. Seperti kata temannya, kecanduan itu butuh biaya besar dan Sago memenuhinya dengan menjadi kurir, berrkeliaran di pub-pub atau club malam, mwmenuhi kemauan pria-pria dan wanita-wanita yang bahagia saat berjingkrak-jingkrak dalam dentuman musik keras. Seruni juga tidak paham, bagaimana Ago akan sangat romantis setelah dia menghisap narkoba yang bernama sabu. Seruni berpikir itu karena cinta, padahal dipengaruhi halusinasi, akibat asap narkoba yang dihirupnya.
●
Perpisahan Seruni dan Sago bagi Seruni adalah melepaskan belenggu dirinya dari dunia hitam kelam, karen dia tidak mau terlibat. Seruni merasa lega, lepas dan kembali sibuk dengan dunianya. Dia tidak merasa sepi, karena pekerjaan mengharuskannya berkeliling ke banyak kota, bahkan antar provinsi juga antar negara. Seruni menikmati itu semua. Apalagi pernikahannya dengan Sago tidak memberinya anak. Pernikahan singkat, dua tahun saja.
Banyak juga yang memberi kabar ke Seruni jika Ago sukses, dalam ukuran memiliki mobil, hilir mudik di dunia malam dan berfoya-foya dengan banyak wanita. Tapi bagi Seruni itu biasanya saja. Malah dia lega lepas, karena pelan tapi pasti Seruni juga mengetahui, segala uang Ago berasal dari narkoba. Kerap Ago masih menghubungi, mengiriminya bunga saat ulang tahun atau mengajak makan malam, tapi Seruni tidak bergeming. Baginya Ago sudah tamat bersama kehidupan jahanamnya.
-●
Sementara bagi Sago, jalan yang dia pilih tidak bisa ditinggalkan, bertahun-tahun, narkoba dan miras telah mempengaruhi otaknya, sarafnya. Dia tidak lagi berpikir logis, tentang hidup yang harus dijalani dengan kerja keras. Bagi Sago, uang adalah segalanya. Dengan uang dia bisa memuaskan hawanya akan kenikmatan narkoba, akan minuman keras dan wanita. Ya, dia kembali berpetualang dengan wanita-wanita muda di klub-klub itu, melerai perihnya ditinggal Seruni. Bahkan dia tidak mampu berpikir, jika jalan lurus yang dia tempuh Seruni tidak akan pergi dari sisinya.
Bertahun-tahun mengisap narkoba jenis sabu telah melumpuhkan sarafnya untuk berpikir logis. Kepalanya akan sakit jika mulai diceramahi Seruni tentang hidup yang lurus dan baik. Kerongkongannya terasa pahit jika tidak menenggak minuman keras, bahkan yang paling keras sekali pun, adalah penawar resahnya. Rasa takutnya hilang dan Sago tampil gagah berani, bahkan berjalan di antara pub ke pub, dengan narkoba di kantongnya.
Dari sedikit, naik, naik dan naik terus. Dari pemakai ke kurir dan dari kurir menjadi bandar, Ago jalani tanpa takut. Semakin banyak uang semakin terasa hidupnya senang. Bahkan saat dia ingat Seruni, isapan narkoba membuat Seruni hilang dari khayal, berganti pelukan wanaita-wanita muda berbau menyengat karena parfum. Dari berjingkrak didiskotik hingga cek-in di kamar hotel. Pagi akan membuatnya lelah. Lalu Ago tidur oleh kenikmatan duniawi, sebelum malam datang dan kembali berkeliaran dengan cara yang sama
Wajahnya yang ganteng, sikapnya yang romantis, menjadikannya bintang di pub-pub mana pun di kotanya. Apalagi Ago tidak pelit. Uang yang gampang dia dapat dari menjual narkoba membuatnya menjadi incaran banyak wanita muda di pub itu. Mereka merayu dan menyanjung Ago. Lelaki itu makin dalam terpuruk dan merasa bisa melupakan Seruni. Bulan berganti, tahun berlalu dan ternyata dia tidak bisa melupakan Seruni. Bagi Ago, perempuan itu adalah cinta sejati. Kenyamanan, keriangan dan kebahagiaan bersama Seruni sungguh berbeda dengan yang dia dapatkan dari bilik-bilik karaoke atau kamar hotel, bersama perempuan muda yang selalu menggelayut manja.
Gaya hidup Sago butuh uang banyak dan dia pun makin nekad. Jika dulu hanya dalam kota, Sago pun makin berlanjut terlibat jaringan narkoba internasional. Melaju di jalan tol dengan kecepatan luar biasa sudah menjadi makanannya, dengan berkilo-kilo narkoba di dalam b.agasi. Bahkan adakalanya dia berpikir, jika polisi mengejar dia akan tetap ngebut dan memilih ditembak mati daripada menyerah. Sago dalam otak yang sudah dirusak narkoba berhalusinasi, dengan mati dia akan melupakan Seruni.
●
Malam mulai larut saat Seruni sampai di rumah, rumah kecil yang asri dan disambut kucing-kucing kesayangan. Anak-anaknya sudah berpencar, kuliah di luar provinsi. Tapi itu bukan anak-anak Ago, karena saat menikah dengan Ago dia janda dengan tiga anak dan Ago meninggalkan keluarganya demi Seruni, demi cinta yang katanya suci.
Seruni membersihkan diri di kamar mandi, menelpon anak-anaknya satu per satu, tertawa dan bahagia. Pertemuan dengan Sago tadi tidak membekas di hatinya, karena rasa takut terlibat dalam gaya hidup Ago lebih menguasainya. Seruni tetap mendapat informasi seperti apa gaya hidup Sago dan apa yang dilakukan lelaki itu. Dalam pertemuan tadi pun Seruni kukuh, tidak luluh oleh air mata atau pun tatapan nelangsa Ago. Seruni sudah membentengi dirinya, kehidupan Ago tidak akan bisa merusak kehidupannya. Lebih baik tanpa dicintai daripada dicintai dengan cara yang salah.
Sudah pukul 02.00 WIB dinihari, mata Seruni belum bisa tidur. Dia masih harus menyelesaikan beberapa laporan untuk rapat tahunan esok hari. Ini akhir bulan dan selalu akan banyak pekerjaan. Seruni menghidupkan notebook, duduk di meja kerja dan menyalakan televisi. Kebiasaannya, sambil bekerja membiarkan suara-suara dari televisi menjadi penghiburnya. Begitu juga malam ini. Hingga satu jam berlalu.
Lalu Seruni terbelalak, di depannya, dalam breaking news di televisi swasta, dia melihat kejar-kejaran mobil polisi. dan dia tidak bisa melihat mobil siapa di depan, karena sangat kencang. Ini mungkin rekaman CCTV jalan tol. Sampai kemudian penyiar menjelaskan terjadi kejar-kejaran dengan mobil kurir internasional jaringan narkoba. Seruni serius. Membesarkan suara televisi dan duduk ke depan televisi. Reflek hatinya berdetak, jangan-janagan Sago.
Tak lama muncul juga wajah itu, wajah Sago, tapi masih terlihat liar. Seruni yakin, Ago masih dalam pengaruh narkoba. Tangannya diborgol dan kakinya diperban, masih mengeluarkan darah, dia di-dor setelah pengejaran polisi berhasil memepetnya. Tapi polisi tidak menembaknya mati, hanya melumpuhkan saja. Bersama Ago ada perempuan cantik, menunduk, juga diborgol. Ada empat lelaki lain, ada paruh baya seusia Ago, ada juga anak muda, malah masih remaja.
“Sago adalah kurir internasional paling dicari, sudah dibuntuti dari pelabuhan saat mengambil narkoba dari boat yang datang dari tengah laut, diperkirakan dari negara tetangga Malaysia. Tapi saat diminta berhenti mereka tetap melaju dengan kencang. Lalu aparat melakukan penembakan terukur. Sago, kurir paling licin dan tidak pernah bisa ditangkap meski namanya berkali-kali muncul dalam kasus narkoba, malam ini berhasil kita ringkus. Bravo tim lapangan,” suara Dir Narkoba Polda di provinsi tempat Seruni tinggal menggema, menerjang jantung hati Seruni, ngilu, kelu.**
●Agustus 2024
