Kota yang Rasis

Aku ingat laut dan engkau
ketika merasa
kota ini mengintimidasi
adakalanya rasis
lalu aku menangis

Aku ingat surut
ketika kota ini seolah menerkam
mencabik dan menguliti tubuh

tapi kaki tetap melangkah
karena di sana kau tiada juga
kan memberi teduh

Di kotaku,
orang-orang tergerus hedonisme
berkejaran untuk tahta,
untuk harta
membangun citra
bersama kemunafikan
terus menari
di atas pentas yang camping

aku berkelit di antaranya

aku ingat janji yang pupus
juga kisah tentang hati
bahwa aku akan jadi ratu
dalam istirahat indah
dari terik dari hujan dari kencang badai
tapi itu fatamorgana

Aku berbalik arah
kembali ke kota ini
kota yang memberi hidup
meski menjerat kaki
dalam kejaran waktu

kota ini telah memakan jantungku
hingga megap-megap
tapi aku harus hidup
untuk tanggungjawab
karena tidak ada
yang menyediakan bahu

Ah, entahlah
mungkin aku sedang risau saja

Kadang aku ingat laut, ingat cemara
mungkin di sana lebih bahagia
tapi aku tak beranjak
tetap di kota ini
mengukur jalan
dari subuh ke senja
mengejar rupa warna
bernama rupiah

Aku kuat bertahan
memakan intimidasi
melahap rasis
mengunyah marah

karena kota ini memberi ruang
hingga aku bisa tetap bertahan
hingga datang masa
saat akan menuju pulang
pulang yang tenang
hingga tinggal kenang.

●2021

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *