Kisah yang Pupus
Engkau sunyi
sesekali mendebar
di relung hati
engkau sepi
sesekali melintas
di ruang angan
hanya hulu kisah, tidak memuara
aku makamkan sansai
pada senyum mu yang beku
di ujung kenang.
●2020
■■
Ananda
memiuh perih pada gabak yang menaungi hari
jantung hati tertikam beling
membekukan darah di ujung isak
meski bulir tak jatuh, tak ruah
menyusut dalam selarik tarikan nafas
–nyawa pun akan kuberi sayangku–
darahku darahmu, darahmu darahku
kau aku aku kau
pada pucuk jiwa kerinduan menyibak perih
aku tempuhi jelaga meski memerihkan luka
agar jalanmu tak sendat, tak ragu
kelak,
jangan bunga kau tabur di pusara ku
cukuplah do’a
ketika engkau telah tinggi menjadi bintang kemilau
saatnya aku ingin pergi
membawa sepi
pada lara panjang dunia
aku titip engkau
bersama do’a bersama cinta.
●2014
