Kembali Hero, Menyentak Rindu ke Ngilu

Kembali Hero, Menyentak Rindu ke Ngilu

Menembus hujan, Cempaka membiarkan air memerihkan muka, terbawa angin motor Mio yang melaju 60 km/jam. Dia sengaja tak memasang kaca helm, agar perih itu bisa dinikmati. Perih raga, tak seberapa. Membiarkan kuyup menjadi teman. Hanya laptop, peralatan mencari makan, yang selalu dia lindungi dengan sempurna. Alat itu tegap di punggung dalam balutan plastik ransel dongker yang kokoh.

Mio tua itu, sudah lebih 15 tahun menemani dan dia tidak bandel, meski bodynya berantakan, karena beberapa kali bertabrakan. Bahkan kini, tangan kanan Cempaka tak bisa sempurna, karena ada tulangnya yang retak, ketika sebuah mobil jazz putih menyambar Mio, 7 tahun lalu. Cempaka dan Mio terpelanting berlawanan arah. Body Mio hancur dan tangan Cempaka patah. Lalu Cempaka dan Mio sama-sama harus direhab, Mio di bengkel Cempaka di rumah sakit. Tapi fisik mereka tak lagi sempurna, seperti dulu.

“Buah hatiku, belahan jiwa…” Cempaka berdendang bersama hujan, bersama kelam. Dendang kesukaannya. Sekejap melintas rindu, hanya sekejap saja, seperti sekelebat air yang menerpa tubuh, dari truk yang seenaknya berjalan kencang. Rindu tentang janji 12 purnama. Tentang seorang laki-laki yang menawarkan bahu untuk Cempaka.

Janji itu menguap dalam pikir yang berbeda, dalam gejolak jiwa yang tidak sama. Setelah mencoba membiarkan diri larut dalam janji laki-laki itu, Cempaka akhirnya berbalik arah. Tempatnya bukan di kota di mana bahu yang dia harapkan berada. Dalam lelah putusan itu Cempaka ambil, karena ada yang lebih hebat dari sekedar bahu untuk bersandar, kekuatan dirinya sendiri.

Kembali ke kotanya Cempaka kembali ke Hero. Ternyata belum tuntas, belum tunai, tugas. Ada tiga naganya, buah hatinya, masih belum terbang sempurna. Meski satu naga di antaranya sudah terbang tinggi, tapi dia masih sendiri, karena itu masih harus diindungi. Naganya perempuan semua.

“Bagaimana bisa harus 12 purnama? Kenapa tidak berbagi beban denganku, sekarang saja, sebelum purnama terus berlalu?” Percakapan ringan sebelum bus membawa Cempaka pergi, dari kota laki-laki itu kembali tergiang. Cempaka pun menghitung-hitung angka. Karena harus begitu. Sejak dulu. Meski dalam hati saja.

“Sanggupkah dirimu wahai laki-laki yang menawarkan bahu? Naga-nagaku, masih butuh banyak angka. Aku tak mau merampas angka yang menjadi hak anak mu. Kau, seperti aku, bukan pengusaha,” kata Cempaka.

“Selamat jalan. Hati-hati. Berjanjilah setia sampai 12 purnama,” laki-laki itu tidak menjawab tanya Cempaka, hanya melepas begitu saja. Tawa Cempaka masih merekah. Sejenak, tiba-tiba Cempaka menjadi perempuan, menanti pangeran yang akan membawanya pergi. Indahnya khayali.

“Ya, aku janji. Kau juga,” Cempaka menutup jendela bus, agar laki-laki itu tidak bisa menatap dan bicara lagi. Di kota dingin yang basah itu, mereka berpisah.

“Brakk….,” Mio itu tiba-tiba masuk lobang, karena jalan tak terlihat oleh genangan air, memutus khayal yang sejenak singgah di kepala Cempaka. Hujan mulai reda, tapi di mana-mana air. Inilah kotanya, kota penuh banjir oleh riol yang mampet karena sampah. Tapi kota ini juga Cempaka cintai, karena telah memberikan hidup dan kehidupan.

Di atas flyover, 5 kilometer menjelang rumah, Mio itu jalan berjoget, stangnya mulai mengatur Cempaka, bukan stang yang dia atur. Cempaka terkesiap, lobang tadi pastinya membocorkan ban Mio terkasih ini. Membiarkannya menuruni flyover, sebelum menepi dan menatap nanap. Benar. Bannya telah kempes.

Ini kota keras dan tiada yang akan menepi, membantu seorang perempuan di tengah malam untuk sekedar menolak motornya hingga bertemu tempel ban. Ini kota yang nyeri, masing-masing ditelan kehidupan sendiri. Ketidakpedulian ini tercipta karena kadang perempuan yang berdiri sendiri dalam hujan malah menakutkan. Kerap begal melakukan hal yang sama, untuk pancingan. Orang-orang memilih berlalu, dengan kencang.

“Tuhan, aku takut begal, ini gulita dan hujan. Izinkan aku menyelesaikan tugas. Biar letih biar lelah, selamatkan aku sampai ke rumah, bertemu gadis-gadisku,” Cempaka membatin dan membiarkan air mata bercampur hujan. Hak Cempaka untuk menangis. Di kota ini sekarang, banyak sekali begal. Ekonomi yang sulit karena Covid menyuburkan tumbuhnya begal.

Sebagai wartawan, setiap hari tugas Cempaka mengupdate berita tentang begal. Perempuan-perempuan yang jadi korban. Bukan hanya harta, nyawa juga taruhannya. Tadi sore pun Cempaka masih mengedit berita, seorang mahasiswi kehilangan nyawa karena begal dengan kejam menarik tas dan menendang motornya. Gadis itu berdarah-darah, dengan kepala pecah.

“Buah hatiku belahan jiwa…” Cempaka kembali berdendang lirih, mencari kekuatan badan, menghilangkan rasa takut, sambil mendorong Mio kecintaan. Dendang yang terus menjadi teman, saat perih, saat sedih. Pekerjaan memang menyebabkan dia kerap pulang malam.

Bahu kanannya yang pernah patah mulai sakit. Laptop ini terasa makin berat. Mendorong Mio dengan pelan, Cempaka sejenak lupa janji 12 purnama. Dia hanya ingat pulang. Hero itu, menuntun Mio malam-malam, menyentakkan rindu jadi ngilu. Mengejar mimpinya, mengejar harapannya, agar para naga mandiri sempurna dan hidup lebih baik dari dirinya, Hero itu melupakan patah. Melupakan rindu yang baru saja singgah.

Duduk jongkok di depan tambal ban, asam lambung Cempaka pun naik. Rumah, betapa indah. Dan tak bisa ditahan. Di riol pinggir jalan, dia muntahkan semua. Perih, pedih, ulu jantung dan tenggorokan. Dia bukan Hero, hanya perempuan yang letih, tersapih dari kehidupan yang harusnya dimiliki.

Cempaka membiarkan isak, membiarkan tangis, hujan akan menutupnya, tukang tambal itu tiada kan melihat. Tiba-tiba lelah, lelah sekali dan kaki kanan Cempaka serasa kram. Mungkin dingin hujan penyebabnya. Melirik jam, pukul 23.30 WIB. Sebentar lagi hari berganti.

“Udah Bu,” remaja tanggung, tukang tambal ban itu, terlihat menggigil, berdiri di antara Mio dan becaknya, tempat kompresor terletak. Dia hanya tukang tambal jalanan, tanpa atap tanpa tempat.

“Berapa?”

“Limabelas ribu.”

Cempaka pun memberi Rp25 ribu. Dia ingat anaknya, seusia tukang tambal ini.

“Banyak sekali Bu.”

“Tak apa. Belilah teh hangat di kedai depan itu. Nanti masuk angin, kamu bisa sakit.”

“Iya Bu.”

Dan remaja itu menundukkan badan, dalam, tanda berterima kasih. Cempaka lupa letih. Harusnya anak ini ada di kehangatan rumah, bukan di pinggir jalan. Usianya mungkin belum cukup 15 tahun.

“Terima kasih Tuhan, kau beri aku kekuatan dan anak-anakku lebih baik nasibnya dari remaja tukang tambal ban ini,” Cempaka berteriak, keras, bersama suara Mio yang melaju kencang.

“Hai jiwa, apa masih yakin dengan janji 12 purnama?” Cempaka hanya ingat ngilu bukan rindu.

*

Pagi yang terik di kota ini. Siang nanti tentunya matahari akan garang. Tragedi Mio pecah ban dan asam lambung semalam masih menggigilkan raga. Cempaka malas bangkit dari tempat tidur. Ini hari tak terlalu sibuk. Minggu. Usai subuh dia membukai tirai jendela, agar mata bebas memandang ke jalan raya, persis di depan rumah.

Pemandangan yang suka membuat Cempaka tertawa, selalu, setiap akhir pekan. Pasangan-pasangan menuju senja, mungkin seperti Cempaka, dalam balutan training olah raga, berjalan pelan, beriringan. Dari kamar tentu amat jelas. Tapi kaca film di jendela ini tidak akan mampu menembus pandangan dari luar, untuk melihatnya.

Pagi ini pun begitu. Cempaka menghitung. 1, 2, 3 … dan terus, sudah 7. Ada yang dia kenal, karena warga kompleks yang sama. Sesekali pasangan itu saling pandang, lalu tertawa bersama. Di belakangnya, pasangan lebih muda, saling berpegangan erat. Cempaka tertawa kecil. Entah apa maknanya. Sudah beratus purnama dia melupakan hal yang sama.

“Cempaka, mengapa harus 12 purnama? Semalam hatiku terguncang, kau, perempuanku memang kuat. Tapi mengapa harus lari dari bahuku yang siap kau sandari? Tangismu semalam kutangkap meski hanya dari balik android. Cerita tentang Mio itu menusuk jantungku. Jangan tunggu 12 purnama untuk kau mau menjadi tulang rusukku,” pesan whatsapp itu mengusik asyik Cempaka.

Cempaka terjeda dari igau jiwa, membolak balik pesan-pesan lama. Tentang cinta yang tertunda, tentang pokok cempaka hingga jalan kereta. Tentang tragedi, tangis dan air mata. Tetiba dia merasa hampa. Dia, perempuan yang merdeka, menapaki jalan terbiasa suka-suka, apakah bisa kembali berdua?

Cempaka ingat tentang membuatkan kopi pagi, memasak dan mencuci lalu mengantar lelaki yang disebut suami ke pintu depan saat hendak berangkat kerja. Mencium tangannya kala pulang dan memikirkan, apa hidangan yang terenak untuk makan malam. Dia tertawa sendiri. Itu biasa saja, peran istri, suatu kali temannya pernah berkata. Cempaka? Rasanya dia sudah sangat lupa.

“Mari berbagi beban. Aku hanya ingin melihat tawa bahagiamu. Kau tulus bukan, mau bersamaku? Katakan, apa ragumu,” pesan itu terus sambung bersambung.

“Ini terlalu cepat. Persiapkan pelan-pelan agar tak ada yang terluka. Datanglah, ziarahi dulu makam ibu anak-anakmu. Bicara dengan dia, meski hanya nisan semata, tapi ruhnya akan mendengarmu. Minta izin kau alihkan cinta. Minta izin anak-anak akan ada yang ikut menjaga. Minta izin bahwa hatimu tetap ada untuknya, meski ada cinta lain yang akan mengisinya. Kau yang harus mempersiapkan diri, bukan aku,” pesan itu pun dibalas Cempaka.

Setelah terkirim dia tergugu. Isi pesan itu, mengurai rindu. Satu satu, nyaris buhulnya ungkai. Terbiasa berpikir untuk kebahagiaan para naga, terbiasa memberi perintah karena dalam karir dia kepala, pesan itu dia seperti membaca perintah.
“Untukmu, dalam pesan itu. Kenapa tidak bicara aku, jiwaku dan lelahku?” Cempaka terdiam.

“Aku terbiasa luka, tak lagi sakit oleh luka. Anakku makanannya luka, tak perlu kukuatkan hatinya karena telah baja,” dia terus saja mengetik pesan, meski hatinya bilang jangan.

Lama terjeda dan Cempaka kembali menatap ke jalan raya. Daun matoa berserakan, ini musim gugurnya. Masih pukul 7.00 WIB dan pasangan yang tadi kembali muncul, dari arah yang terbalik. Mungkin hendak pulang. Dia mengumpati hati sendiri, kenapa tak iri? Kenapa tak bermimpi? Seperti pemandangan pagi ini?

“Ma, WiFi mati, ada kuliah online pagi ini,” telinga Cempaka menangkap suara bungsu, dari kamar tengah.

“Ma, token udah bunyi. Makan kucing dan ikan habis,” suara kakaknya dari kamar depan.

“Ya…..” Cempaka bergegas turun. Menyambar jilbab dan kunci Mio dari atas meja kerja. Terbang ke jalanan, mencari apa yang baru saja disampaikan para naganya.

Cempaka adalah ibu yang terlalu protektif. Entahlah. Banyak kejadian mengerikan tentang kekerasan seksual, perkosaan hingga begal payudara setiap hari dia edit, berita dari wartawan pos kriminal. Dari dulu-dulu selalu begitu. Dia pun melindungi gadisnya, dengan membiarkan diri mengurus seluruh keperluan mereka, yang akan berhubungan dengan keluar rumah.

Cempaka mengantar jemput mereka, bahkan hingga sang anak sudah duduk di bangku kuliah. Dia melakukan itu dengan bahagia. Dia merasakan, jauh di lubuk hati mereka ada yang kosong. Mereka tetap rindu sosok ayah. Cempaka tak mau mereka goyah. Biar dia saja yang payah. Ayah para naganya entah di mana, pergi begitu saja, melemparkan segala beban ke punggung Cempaka.

Tiba-tiba android itu berbunyi nyaring. Cempaka lirik, nama laki-laki yang menawarkan bahu untuk dia sandari itu muncul di sana. Cempaka mengangkatnya. Ini video call. Jantungnya tiba-tiba memompa cepat, tak tau arah. Di sana, dalam android itu, laki-laki itu duduk di balik stir mobilnya, memegang tisu dan terisak-isak. Cempaka ternganga, membiarkan waktu. Beberapa detik berlalu.

“Maafkan aku, terlalu cengeng sebagai lelaki. Tapi aku tak bisa menahan hati. Aku semalam sebenarnya sudah dari makam almarhumah istri,” laki-laki itu bicara dengan airmata yang terlihat jelas. “Oh…,” hanya itu jawab Cempaka. Tiba-tiba sejenak dia merasa bersalah.

“Aku katakan pada nisan istriku, 25 tahun perkawinan denganmu aku setia. Meski ada sudut hati yang tetap terisi perempuan lain, hanya dalam hati saja. Aku menjagamu, anak-anak, dengan segala tanggungjawab. Tak pernah aku melukai, mengkhianati. Kini, kau telah di rumah abadi, izinkan aku memberikan rusuk ini pada pengganti, pada perempuan lain, dari masa laluku. Maafkan, dulu, aku tak berani bercerita tentang dia,” laki-laki itu bicara, pelan.

“Menangislah jika itu membuatmu lega,” ah, Cempaka kutuki kembali diri. Masih saja dia berpikir tentang orang lain, bukan hatinya. Tak ada cemburu atau rasa terabaikan.

“Aku menangis ingat anak-anak yang telah kehilangan ibu. Aku menangis, ingat dirimu. Mungkinkah takdirku akan jadi jalanmu? Sambutlah tanganku, kita beriringan menuju senja. Jangan tunggu 12 purnama,” laki-laki itu berucap, mulai tenang.

“Tetap harus 12 purnama,” jawab Cempaka, memperlihatkan keras kepala.

“Kau mengenalku sudah sangat lama, Beratus purnama, apa yang masih meragukan hatimu? Sejak aku menjadi duda karena ditinggal mati, belum ada perempuan lain yang kulirik sebagai pengganti. Dalam hati, hanya kamu,” laki-laki itu terus bicara.

“Aku tak percaya kau sanggup menanggung bebanku,” begitu saja kalimat itu meluncur dari mulut Cempaka. Dia tepuk mulut itu.

Laki-laki itu tertegun, nanap menatap Cempaka, dari android itu. Cempaka melihat nafas laki-laki itu mengencang dan buku tangannya menonjol, menggenggam stir dengan kuat, mungkin hatinya tertusuk ucap Cempaka.

“Cem, aku memang tidak kaya. Soal tanggungjawab bukan hanya soal uang tapi soal hati. Sebentar lagi aku juga masuk masa pensiun. Seperti katamu, mungkin kita bisa buka gerai kuliner atau bertanam strawbery. Beternak ayam hingga itik, agar dua rumah terbiayai. Istirahatlah dari pulang malammu. Tubuhmu makin menua, saatnya jeda. Percayalah pada janjiku, atas nama cinta,” tutur laki-laki itu membuat kepala Cempaka mengangguk angguk saja.

“Hhmmm…, modalnya darimana?” mulutnya lepas begitu saja.

“Kita cari berdua. Aku bahagia sekali ketika dalam jumpa semalam kau sandari bahuku dengan kepalamu. Perempuan ini, yang amat kuat, kini ada di bahuku. Cem, ayo, menua bersama. Mari berumah di kaki Merapi,” suara itu terus bergema.

“Entahlah, aku terbiasa sunyi. Aku terbiasa senyap. Aku adalah kupu-kupu yang telah bermetamorfosa naga. Tak pernah merasa rapuh. Tetaplah tunggu 12 purnama, agar naga itu pelan tapi pasti kembali kupu-kupu, agar kekuatannya tak membuatnya angkuh dan menolak semua uluran cinta. Kau dari masa lalu, makanya sedikit demi sedikit aku kembali membuka hati. Tapi itu pun belum pasti. Sudah ah, aku mau beli paket data,” tutur Cempaka.

“Kau misteri, selalu misteri,” kata laki-laki itu.

“Oh ya, ada tanya yang selalu menggantung di pikirku. Kau desak aku untuk segera bersama, sebenarnya apa yang ada di lubuk paling dalam hatimu tentang kita?” Cempaka bersuara.

“Agar aku punya teman, agar ada yang memasak makanan enak kesukaanku, agar rumah ini tidak sunyi karena sudah ada yang urus tiap hari. Agar anak perempuan ku memiliki teman untuk bercerita, karena kalau cerita sama ayahnya malu,” suara lelaki itu masih ada, tetapi Cempaka sudah tak lagi mendengarnya. Tiba-tiba hatinya dipenuhi amarah.

“Oh ya. Artinya aku pindah ke kotamu, berhenti kerja. Lalu para nagaku makan apa?”

“Menurut agama kita Cem, agama Islam, meski telah berpisah, ayah tetap menjadi penanggung jawab anak-anaknya. Dia tetap harus memenuhi segala nafkahnya. Aku akan bantu tentunya, tapi tetaplah itu taggung jawab bapaknya,” suara laki-laki itu seperti palu yang menggedor ulu jantung Cempaka.

“Oh, begitu. Sudah, jangan hubungi aku lagi,” Cempaka menutup pembicaraan, memblokir nama itu dari daftar nama dan hatinya terasa sakit oleh amarah. Betapa egoisnya laki-laki itu. Mengemis akan cinta Cempaka, tapi hanya mau Cempaka.

Cempaka ingat lelahnya yang membahagiakan karena dia bisa membahagiakan anak-anaknya, yang dia sebut para naga. Karena anak-anak itu hebat dan kuat, oleh asuhannya yang sempurna. Dia tidak mengeluh meski kadang harus mencari uang untuk para naga dengan mengorbankan segala rasa hatinya, keinginannya. Jika kemudian ada rasa hendak kembali berdua, bagi Cempaka itu karena dia sudah lelah. Dia ingin berbagi beban. Bukan karena syahwat, bukan karena ingin bermanja-manja.

Jawaban laki-laki itu merubuhkan segala rasa yang pelan-pelan dia bangun, berharap ada sandaran dan di tengah kota yang garang ini agar dia bisa sedikit bernafas lega, tidak takut akan harga yang terus naik, tidak takut uang kuliah anaknya akan terlambat, tidak takut saat lebaran datang baju baru harus dibeli. Tidak takut jika ada yang melamar naganya karena sudah ada biaya untuk pesta. Karena Cempaka sadar, penghasilannya hanya habis bulan ke bulan saja.

Jawaban laki-laki itu kembali menguatkan jiwa raganya, pilihannya adalah kembali menjadi hero, melaju di tengah deru kota ini sendirian, dalam cahaya atau pun gelap malam. Kembali menjadi kunang-kunang, yang membuat cahaya dari kepaknya sendiri, bukan karena cahaya orang lain. Dia tutup buku untuk hal yang bernama cinta, cinta antara laki-laki dan wanita.***/2017

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *