Madinah-Mekkah, Perjalanan Penuh Air Mata (2)

Madinah-Mekkah Perjalanan Penuh Air Mata

Raudhah, Tempat Segala Tangis Pecah

MUTHOWIF atau pembimbing perjalanan kami ke Raudhah yang dipanggil Ummi, perempuan baya warga negara Indonesia tapi bermukim di Madinah, sudah menunggu di pintu 327 menjelang masuk Masjid Nabawi, usai pelaksanaan Isya berjamaah. Malam ini kami akan mendatangi Raudhah, tempat yang sangat diimpikan jamaah saat melaksanakan umroh.

Saat berkumpul, terlihat wajah sekitar 16 anggota rombongan yang perempuan sudah sendu, hanya sedikit tawa. Mereka, mungkin membayangkan sejenak lagi akan sampai di Raudhah, tempat yang sejak dari tanah air diimpikan, untuk bisa mengerjakan shalat sunat dan berdoa di Raudhah.

“Rombongan harus bersatu, kompak, serius dan ikut instruksi saya. Nanti berbaris di belakang saya. Tidak mudah masuk Raudhah. Ribuan orang antri. Mudah-mudahan malam ini kita bisa masuk, shalat dan berdoa di Raudhah,” kata Ummi.

Raudhah ini terletak di dalam Masjid Nabawi di Madinah, di antara makam Nabi Muhammad SAW dan mimbar beliau. Area ini dikenal sebagai “taman surga” dan ditandai dengan karpet berwarna hijau,  berbeda dari warna karpet di area Masjid Nabawi.

Apa yang ada di antara rumahku dan mimbarku adalah salah satu taman dari taman-taman surga” (HR. Bukhari dan Muslim).

Sabda Rasulullah SAW ini menjadi landasan utama yang menjadikan Raudhah sebagai tempat yang diistimewakan oleh umat Islam. Dan merupakan tempat di mana doa-doa dipercaya diijabah oleh Allah SAW.

Tiang Raudhah mulai terlihat, berkilau oleh cahaya lampu. Di mana-mana manusia, jumlahnya membludak. Beberapa lokasi tempat antri penuh dan rombongan berbaris satu per satu ke belakang. Ada juga yang saling memotong sehingga menimbulkan sedikit kericuhan.

Teriakan Srikandi Seksus Nabawi, petugas-petugas perempuan yang membantu mengatur jamaah yang ingin masuk ke Raudhah dengan sistem Tasreh atau surat izin masuk, serta memastikan ketertiban dan kelancaran selama kunjungan jamaah, terdengar lantang.

Dengan ketat mereka mengatur antrian. Tapi tetap saja ada yang bandel, menyusup di antara rombongan, padahal mereka bukan anggota rombongan

“Padatkan barisan, saling memegang bahu, sebentar lagi kita masuk. Berdoalah kita bisa shalat dan berdoa dengan waktu cukup di dalam Raudhah. Ingat, harus cepat dan sigap. Waktunya sebentar, nanti kita sudah diusir keluar. Begitu masuk kerjakan shalat lalu perbanyak doa. Fokus pada tujuan,” kata Ummi.

“Begitu masuk ke area Raudhah, kerjakan shalat sunnah tahiyatul masjid dua rakaat sebagai bentuk penghormatan. Kemudian shalat sunnah lainnya sesuai kemampuan dan waktu yang tersedia, seperti shalat Taubat atau pun shalat Hajat,” kata Ummi, sayup-sayup sampai ke telinga. Dengungan suara manusia membuat telinga susah menangkap instruksi.

Akhirnya, waktu yang dinanti itu tiba. Dengan lancar, tanpa hambatan, rombongan kami masuk satu per satu. Tentu diselingi teriakan Srikandi Seksus Nabawi karena ada yang menyusup masuk rombongan kami, dari kostum, postur tubuh dan pakaiannya jelas beda dengan rombongan kami.

Assalamu ‘alaika ya Rasulullah, Assalamu ‘alaika ya Nabiyallah. Assalamu ‘alaika ya Abu Bakar, wa ‘ala khalifata rasulillah. Assalamu ‘alaika ya ‘Umar, wa ‘ala amiral mukminin.

Lalu rombongan masuk agak ke dalam dan mengambil tempat di  antara dua tonggak besar yang kokoh, mengerjakan shalat sunnah tahiyatul masjid di karpet hijau. Kiri kanan dan muka belakang kami dijaga petugas. Tentu saat shalat tetap menghadap kiblat.

Begitu mengucapkan salam, Isak tangis mulai terdengar. Beberapa orang mulai berpelukan. Ada yang larut dalam tangis hingga mulai terdengar kuat, sehingga Muthowif kami mengingatkan untuk segera shalat sunnah lagi, jangan larut dengan perasaan.

Lalu shalat sunnah taubat pun dilaksanakan. Dan inilah shalat taubat penuh air mata. Meski kerap melaksanakan shalat taubat di tanah air, di sini sungguh berbeda. Setiap ayat yang dibaca menerbitkan air mata.

Inna shalati wanusuki wamahyaya wamamati lillahi rabbil alamin,” (Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam) tercekat kerongkongan melafazkannya. Betapa banyak sebelum ini waktu yang telah terlalaikan. Air mata turun ke pipi menderas. Di kiri kanan dan belakang isak tangis lirih masuk ke telinga.
Dan doa pun dipanjatkan menuju Illahi.

Allahummar-zuqnii taubatan nasuuha qoblal maut.” (Ya Allah, berilah aku rezeki (karunia) taubat nasuha (taubat yang sebenar-benarnya) sebelum mati (wafat).”

Tubuh serasa melayang, dalamvg doa sekaligus meyakini bahwa saat ini benar-benar sedang berada di makam Rasulullah SAW dan dua sahabatnya. Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq RA, dan Khalifah Umar bin Khattab RA. Berharap Ridho Allah dan bersalawat.

Tak ada yang bergerak. Tak ada suara. Rombongan tafakur dalam doa. Sesekali tetap terdengar isak tangis. Dalam snesaknya manusia, di tengah teriakan suara Srikandi Seksus Nabawi, alam terasa sunyi, sepi, jiwa sendu, Tuhan telah memanggil sampai ke Raudhah.

“Allah memulihkan (segala rasa sakit, sedih atau pun putus ada) Allah memuliakan, (dengan memanggil datang ke sini).”

Sungguh, inilah perjalan spiritual yang membuat diri merasa tenang, bahwa manusia tempatnya salah tapi Allah selalu memberi ruang pada mereka yang ingin bertaubat.

“Percayalah, setiap langkah kecil menuju Allah selalu berharga, selalu didengarNya.” Tentunya tidak pernah terlambat untuk meyakini bahwa Allah menuntun mereka yang mencariNya.

Dan ternyata cukup lama rombongan kami diberi waktu. Bisa menyelesaikan tiga shalat suhɓnnah. Kemudian berdoa. Doa pertama tentu untuk diri sendiri. Kemudian untuk anak-anak dan keluarga. Doa untuk teman-teman baik yang tetap berada di jalan Allah. Termasuk doa untuk negeri agar dijauhkan dari angkara murka.

Tentu tak lupa bershalawat, bertasbih, takbir, tahlil, dan doa dicukupkan rezeki, ampunan, serta memohon agar dipanggil lagi ke Tanah Suci ini.

Pastinya hati akan ingin kembali ke sini, baik umroh khususnya Haji, ini adalah panggilan hati, perjalanan batin menuju rumah Allah. Setiap langkah di tanah suci adalah doa yang melangkah, harapan yang terucap, dan air mata yang tak tertahan.

Lalu waktu kami habis dan petugas mulai menyuruh kami bergerak, karena rombongan lain segera mengisi posisi kami. Rombongan kembali berbaris, menuju arah luar, sambil terus bersalawat.

Ada juga yang histeris, menangis, ada juga yang berdoa dengan berteriak. Tapi semua tujuannya sama, mengambil janji Rasulullah SAW dalam sɓunnah bahwa “Apa yang ada di antara rumahku dan mimbarku adalah salah satu taman dari taman-taman surga.”

Sambil berjalan ke luar mata tetap tertuju ke Raudhah. Kami saling berpegangan tangan bagi yang jalan berdampingan dan saling memegang bahu bagi jalan yang di belakang. Meski sudah menuju arah luar tetap saja penuh sesak, karena semua jamaah dari belahan dunia mana pun seperti enggan pergi dari tempat ini. Tak heran sepanjang jalan ke luar kita masih kena sikut kiri kanan.

Sebelum menuju pintu keluar ada pembagian sebotol air zam-zam, entah mengapa di sini kembali penuh sesak, berdesakan dan saling sikut, untuk mendapatkan satu botol (kira-kira 250 mm) air zam-zam, yang sekali minum habis. Konon katanya karena air zam-zam di sini, yang dibagikan sudah didoakan, sehingga khasiatnya juga lebih. Wallahualam.

Usai dapat air zam-zam tersebut rombongan kamu pun terus jalan menuju luar Raudhah. Sampai di luar kami pun saling berpelukan, begitu bersyukur mampu menjalankan ibadah di Raudhah dengan lancar. Ini pengalaman batin yang tidak akan terlupakan seumur hidup. Jiwa terasa lapang, badan terasa ringan. Tidak ada yang dipikirkan kecuali Ridho Allah.*”

●Bersambung

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *