Madinah-Mekkah, Perjalan Penuh Air Mata (1)

Madinah-Mekkah, Perjalan Penuh Air Mata (1)

“Labbaik Allahumma labbaik. Labbaik laa syarika laka labbaik. Innal hamda wan ni’mata laka wal mulk laa syarika lak.”

SAAT pramugari Lion Air yang membawa rombongan jamaah umroh dari travel umroh Maharatu mengumumkan bahwa sebentar lagi pesawat akan mendarat di Bandara King Abdul Aziz, saat kilauan lampu yang membuat Kota Jeddah benderang dari udara mulai terlihat dari kaca jendela, air mata tiba-tiba jatuh begitu saja. Hati penuh haru.

Alhamdulillah, Engkau telah panggil dan izinkan hambaMu ini datang ke tanah suci Mu. Sungguh Engkau Maha Kuasa, memberi segala yang diniatkan, mengabulkan segala yang dipinta dalam hati. Tidak ada yang lebih indah dibanding datang ke tanah suciMu ini, ya Allah.” Lirih mulut berbisik, mengiringi air mata, titik satu per satu.

Mendarat dan masuk ke ruang kedatangan Bandara, Ustadz Dadang Purnama, tour leader kami, memberi petunjuk tempat whudu dan ruangan shalat perempuan. Rombongan bergegas mengerjakan shalat. Usai shalat dan melihat rombongan lain, semua sama, menitikkan air mata, tentu oleh rasa syukur luar biasa. Ini perjalan jiwa, memenuhi panggilanNya.

“Kita akan tempuh perjalanan enam jam lagi dengan bus, untuk sampai di Hotel Royal Madinah tempat kita menginap dan bisa shalat Subuh di Masjid Nabawi. Rombongan kita ke Madinah dulu baru Makkah. Lima hari di Madinah, lima hari di Makkah,” kata Ustadz Dadang Purnama saat rombongan sudah di atas bus.

Di atas bus yang nyaman, sejuk dan wangi, jamaah hampir rata susah tidur, tentu karena ingin cepat-cepat sampai di Masjid Nabawi dan mengerjakan shalat di sana.

Masjid Nabawi menjadi salah satu mesjid yang mengandung sejarah penting bagi umat Islam. Masjid ini dibangun oleh Rasulullah SAW dan dari masjid inilah beliau mulai mengembangkan dakwah dan syiar Islam ke berbagai penjuru negeri.
Masjid Nabawi juga menjadi tempat makam Nabi Muhammad SAW dan para khalifah Islam awal. Masjid ini adalah masjid suci kedua bagi umat Islam, setelah Masjidil Haram, didirikan pada tahun 622 M.

Tak terasa saat sebagian jamaah tertidur, ustadz Dadang Purnama melalui pengeras suara menjelaskan bahwa rombongan hampir tiba di hotel dan menara Masjid Nabawi mulai terlihat. Kota Madinah terang benderang oleh lampu. Haru kembali datang. Jamaah ada yang saling berpelukan, sama-sama menangis.

“Ya Allah Bu, kita sampai di Madinah,” kata teman sebangku sambil memeluk dengan air matanya berderai.

Meski terpaku dan mata memandang ke kaca jendela untuk melihat Kota Madinah, air mata juga tumpah. Perasaan campur aduk, terharu, bersyukur dan ngilu, kenapa baru sekarang datang ke sini. Tapi itu memang Allah SWT yang telah menentukan.

Kota Madinah adalah kota suci kedua setelah Makkah, tempat hijrah Nabi Muhammad SAW sekaligus tempat makam beliau. Madinah dilindungi dari Dajjal dan penyakit menular. Keberadaan Masjid Nabawi dan Raudhah di Madinah memberikan keutamaan luar biasa, di mana shalat di sana dilipatgandakan pahalanya, seribu kali lipat.

Firman Allah: “Dan orang-orang (Ansar) yang telah mendiami kota (Madinah) dan telah beriman sebelum kedatangan mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka.” (QS. Al-Hashr [59]: 9)

Ayat ini menjelaskan peran besar Madinah sebagai tempat berlindung dan berkumpulnya umat Islam.

Tak lama, jamaah pun selesai chek-in, membersihkan diri dan berjalan kaki menuju Masjid Nabawi. Dari hotel sekitar 7 menit. Memasuki gerbang Masjid Nabawi, kami masuk dari pintu 327, rombongan laki-laki dan perempuan berpisah. Pintu masuk ke mesjid berbeda. Dan hari pertama, rombongan kami dapat dengan mudah masuk masjid dan disambut kenyamanan dan kesejukan ruang masjid khusus perempuan ini. Shalat pun segera ditunaikan.

Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (QS. An-Nisa: 103).

Dan jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.” (QS. Al-Baqarah: 45).

Rabbi, indahnya karuniaMu.

“Ya Allah, Engkau telah memilih, apalagi yang lebih dari ini? Izinkan hamba melaksanan perintahMu di masjid Nabi SAW ini, izinkan hamba bersujud memohon ampun, karena hamba hanyalah manusia yang tak luput dari salah, dari dosa. Janji Mu bahwa siapa pun yang berdosa lalu bertaubat dengan sungguh-sungguh, Engkau akan memberikan ampunanMu. Hamba benar-benar ingin bertaubat, hamba mohon tuntun hamba ke jalan lurus dan Engkau ridhoi,” jiwa berbisik, berharap menembus langit, sampai kepada-Nya, Allah Yang Maha Esa, Yang Maha Adil.

Alhamdulillah, hari pertama ini rombongan kami dapat melaksanakan shalat tahiyatul masjid, yakni salat sunah dua rakaat yang sangat dianjurkan untuk dikerjakan ketika masuk mesjid, sebagai bentuk penghormatan kepada rumah Allah, dan tidak boleh duduk sebelum melaksanakannya, kecuali ada uzur.

Kemudian shalat sunah taubat, yakni shalat dua rakaat yang dilakukan untuk memohon ampunan kepada Allah SWT atas dosa-dosa yang telah diperbuat.

Sesungguhnya Tuhanmu (mengampuni) bagi orang-orang yang mengerjakan kesalahan karena kebodohannya, kemudian mereka bertaubat sesudah itu dan memperbaiki (dirinya), sesungguhnya Tuhanmu benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang“. (QS. An-Nahl ayat 119).

Dilanjutkan dengan shalat sunah tahajud, yakni shalat sunah muakkad (sangat dianjurkan) yang dilakukan pada malam hari setelah bangun tidur, dan merupakan ibadah istimewa yang akan mengangkat derajat dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Dan pada sebagian malam hari, shalat tahajudlah sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhanmu mengangkat mu ke tempat yang terpuji.” (QS. Al-Isra: 79).

Tak lama azan subuh berkumandang dan shalat sunah fajar pun dilaksanakan. Kemudian yang dinanti datang, shalat fardu subuh pertama di Masjid Nabawi.

Tidak ada yang bisa menggambarkan campur-aduknya rasa. Beberapa jamaah berpelukan, bertangisan. Antara percaya dan tidak, bisa melaksanakan shalat di Medjid Nabawi, impian banyak orang, tujuan yang hendak dituju oleh mereka yang beragama Islam.

Tiba-tiba seluruh rasa pedih yang pernah ada di hati oleh pahitnya jalan hidup, sirna seketika. Rasa marah, rasa kecewa, rasa benci, hilang begitu saja. Berganti syukur tak terkira dan memaafkan semua hal yang pernah menyakiti atau pun menghalangi jalan kehidupan. Hati tenang luar biasa. Jika mata sembab oleh tangis, itu adalah tangis bahagia, tangis syukur, karena Allah sudah mengizinkan kaki menginjak tanah suci-Nya.

Hari Pertama

BERJALAN KAKI dari hotel ke Medjid Nabawi dalam panas terik dan suhu 46 derajat terasa nikmat. Panasnya tidak membakar kulit. Bahkan tidak menimbulkan keringat. Jadi meski panas, badan tetap bersih dan pakaian tidak bau, karena tidak ada keringat keluar. Ini keistimewaan Madinah. Angin selalu bertiup, menyejukkan badan saat berjalan. Dari hotel rombongan Maharatu menginap, hanya 7 menit jalan kaki sudah sampai di Masjid Nabawi.

Jika di tanah air saf saat shalat jarang penuh di masjid-masjid, kecuali saat Ramadhan dan lebaran atau ada acara khusus, di Masjid Nabawi jika tidak tiba minimal satu jam sebelum waktu shalat, jangan harap dapat space dalam masjid. Penuh sesak dan petugas sudah berteriak-teriak agar jamaah (perempuan) segera mencari tempat di luar, di pekarangan masjid.

Kelebihan dalam masjid selain sejuk dan full karpet yang nyaman dan tebal, juga tersedia air zam-zam di beberapa titik. Sebelum atau sesudah shalat jamaah bisa meminumnya. Bahkan bisa dibawa sebotol kecil untuk bekal di hotel. Jika mengambil dalam jumlah besar, petugas akan marah.

Sementara di pekarangan Masjid Nabawi yang juga penuh sesak meski ada beberapa titik, tidak tersedia air zam-zam. Tetapi tetap ada air untuk minum tapi itu bukan air zam-zam.

“Di Masjid Nabawi air zam-zam hanya ada dalam masjid. Kalau di Mekkah di semua tempat, bahkan di sepanjang jalan, tersedia air zam-zam,” kata Ustadz Dadang Purnama menjelaskan, karena ada jamaah yang buru-buru mengisi botol mereka di area lokasi air di luar Masjid Nabawi.

Di dalam dan di luar masjid terlihat bersih karena sangat banyak petugas kebersihan yang berkeliling dan mengambil sampah atau pun gelas plastik bekas minum. Ada beberapa perempuan Indonesia termasuk yang bertugas menjaga ketersediaan air zam-zam dalam masjid.

Jika cepat datang sebelum waktu zhuhur, kita bisa shalat sunah Tahiyatul Masjid, Shalat sunah Duha hingga shalat sunah taubat. Bisa membaca Al Qur’an yang tersedia di setiap tonggak-tonggak besar masjid.

Jika datang ke masjid sebaiknya sediakan uang kecil, baik uang rupiah mau pun riyal, untuk sekedar berbagi dengan para petugas ini. Karena jasa mereka masjid bersih dan air minum selalu tersedia.

Mereka menerima juga pemberian dalam uang rupiah. Karena di Madinah, kita bisa belanja dengan rupiah, tidak harus mata uang riyal. Berbuat baik di Madinah akan diganjar pahala berkali-kali lipat. Jika ada uang lebih sebaiknya bersedekah dan tahan diri untuk berbelanja.

Saat azan berkumandang, terasa badan ini merinding karena suara dan lantunan azan begitu indah, jauh lebih indah dari yang didengar di tanah air. Ribuan jamaah diam dan tertib, hampir tidak ada yang bicara. Hanya sesekali terdengar suara tangis anak kecil, karena jamaah di luar Indonesia banyak yang umroh membawa keluarga dengan anak-anak yang masih balita, bahkan ada yang masih bayi.

Hati bergumam, ternyata mereka lebih memahami makna umroh dan mencintai Islam. Mereka tidak marah, tidak merasa berat, meski membawa anak-anak yang tentu sebagian besar masih rewel. Saat ditanya mereka dari mana, ada yang menjawab dari Bangladesh, Pakistan, Irak, Iran hingga Afrika. Tentu saja perawakan mereka lebih tinggi dan lebih besar dari jamaah Indonesia, sehingga kerap kita kalah dari mereka saat berebut tempat shalat.

Saat malam misalnya habis magrib, bahkan ada yang dari ashar, tidak pulang ke hotel adalah pilihan baik agar dapat tempat di dalam masjid. Atau sekedar tiduran di lokasi shalat di luar masjid dan saat jamaah ada yang pulang ke hotel, kita bisa masuk ke dalam dan duduk berzikir menjelang azan.

Kamar mandi dan tempat whudu tersedia di beberapa lokasi di luar masjid. Itu pun masih harus antri jika kita ingin whudu. Jadi whudu lebih baik selalu dilakukan di hotel, lebih nyaman dan tidak berdesakan. Juga lebih bersih tentunya.

Untuk shalat subuh banyak jamaah yang sudah pergi ke masjid mulai pukul 03.00 dini hari dari hotel. Selain agar bisa dapat tempat di dalam Masjid Nabawi juga agar bisa melaksanakan shalat sunat tahajud lebih banyak. Jamaah terlihat diam, khusyuk dan tafakur.

Di sini di kota suci Madinah, hati dan pikiran hanya fokus ingin ibadah. Tiba-tiba semua terlupakan, apakah itu masalah pekerjaan atau pun soal lainnya, tiba-tiba hilang. Yang ada hanya kehendak untuk beribadah, minta ampun dan bertaubat.

Dialah (Allah) yang menerima taubat dari hamba-hamba-Nya dan memaafkan kesalahan-kesalahan. Allah Maha mengetahui apa yang kalian lakukan“. (Asy-Syura Ayat 25).

Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat nasuha (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Tuhanmu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai…”. (At-Tahrim Ayat 8).

Lalu, apalagi yang dicari? Ini tempatnya. Inilah waktunya. Di sini ada makam Rasulullah SAW dan makam dua sahabat dekat beliau yaitu Abu Bakar Ash-Shiddiq di sisi kanan (sejajar) dan Umar bin Khattab di sisi kiri. Ketiga makam ini berada di area yang sama, yang dulunya merupakan kamar Sayyidah Aisyah RA, dan kini menjadi bagian dari Masjid Nabawi.

“Allaahu Akbar, Allaahu Akbar… Allaahu Akbar, Allaahu Akbar…” dan air mata kembali titik, mendengar merdunya lantunan azan tersebut.

“Tuhan, apalagi yang kuinginkan? Hanya ampunanMu. Terima taubat ku seperti janji Mu. Aku manusia sudah pasti banyak salah, banyak dosa, tapi Engkau tetap memanggil ku ke sini ke tanah suciMu, sungguh Maha Pengampun Engkau. Engkau memilih, Engkau memulihkan maka pulihkanlah jiwa ku seperti saat bayi dulu, suci bersih tanpa noda. Pelihara jalanku, pelihara langkahku setelah kembali ke negeri asalku. Jika waktu ku tiba, panggil aku dalam keadaan Husnul Khatimah.”

“Bahkan jika saat ini pun Engkau anggap waktu yang tepat dan ampunanMu telah kudapat, dan jika kembali ke tanah air hanya akan kembali terulang salah, aku ridho, aku ikhlas jika harus kembali pada Mu. Aku berserah sungguh-sungguh. Jika belum waktu ku, izinkan aku kembali ke tanah suciMu. Panggil aku lagi. Engkau Maha Mengerti. Maha Pengasih.”

Tidak ada hari tanpa tangis di sini. Tangis penyesalan karena telah berbuat salah dan mohon ampunan. Tangis syukur karena diberi kesempatan datang ke tanah suci dan tangis bahagia, Allah memberi ruang memberi tempat sangat baik untuk bertaubat.

“”La haula wala quwwata illa billahil aliyil adzim.” (Tiada daya dan upaya kecuali dengan kekuatan Allah yang Maha Tinggi lagi Maha Agung).**

21/9/2025 ● bersambung

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *