Hanum, air mataku tak terbendung
6 tahun, keceriaan harusnya kau rengkuh ketika maut berkata ikut
aku ratapi, aku rutuki
negeri yang memberimu hidup
juga negeri yang memberimu maut
aku baui harum sorga sepanjang jalan pulangmu, pulang yang abadi
mataku nanar pada kalimat;
“Muhanum Anggriawati (6 tahun), kesulitan bernafas akibat kabut asap yang semakin pekat. Hanum tumbang saat bermain dan tak sadarkan diri lagi, hingga siang ini Hanum pergi”
Hanum, martir apalagi yang diinginkan negeri ini??
dari hutan-hutannya mengalir bencana, dari gambut-gambutnya keluar bala
pekik elang ataukah erangan gajah hanya singgah di telinga mereka
Hanum, aku ratapi engkau dari jauh
membiarkan air mata ku tumpah bersama Al-Fatihah
aku terkapar dalam perih jiwa
kanak-kanakmu, kanak-kanak abadi, di makan petaka negeri sendiri
Siponggang mengguguh hati
masihkah kita akan diam, berjawab kata?
anak-anak negeri, anak-anak pemilik hutan dan lahan itu
mengapa dibiarkan pergi?
Hanum
dengan caraku aku sampaikan juga, kata per kata
meski mereka marah
aku sebarkan duka alam kita
aku tagih janji-janji penguasa
aku ketuk hati wakil rakyat kita
cukuplah engkau saja sayang, Hanum, jangan ada yang lainnya juga
Tidurlah Hanum dalam sorga, rumah abadimu
tanpa asap atau jerebu
pastilah di sana hanya ada kesejukan
peluk ibumu telah berganti bidadari.
selamat jalan Hanum
aku akan tetap bersuara, biar serak, biar habis kata.***
Pekanbaru, 2019
