Madinah-Mekkah, Perjalanan Penuh Air Mata (4)

Madinah-Mekkah, Perjalanan Penuh Air Mata (4)

Tawaf, Tiba-tiba Duniawi Sirna

MALAM ini kami akan menempuh perjalanan panjang dari Madinah ke Mekkah, dengan bus. Waktu tempuh sekitar 6 jam. Rombongan akan mampir di Bir Ali, salah satu tempat miqat makani (batas tempat) yang penting untuk memulai ibadah umroh bagi jemaah yang datang dari arah Madinah.

Dalam bus yang sejuk hati terasa sendu. Tiba-tiba pikirku ingat pada percakapan dengan Bungsu, dua minggu sebelum berangkat umroh, saat hendak pulang ke Pekanbaru dari Jakarta. Kala itu Bungsu bertanya serius, mimiknya bikin aku terpana, seperti nelangsa.

“Mama jangan berdoa aneh-aneh di sana ya, janji ya,” katanya.

“Lho, doa aneh-aneh apa? Gak ngerti mama,” jawabku.

“Tah ngerti jalan pikiran mama,” lanjutnya.

“Apa itu?”

“Mama jangan minta sama Tuhan tidak kembali ke Indonesia, pulang nama,” tuturnya dan matanya merebak, seperti kaca, cepat dia hapus.

Aku tertunduk, diam, membisu. aku sangat paham maksudnya. Pelan aku merapat dan berkata lirih: “Tah, setiap umat Islam yang percaya Allah dan RasulNya punya keinginan meninggal di tanah haram, karena janji Allah mereka yang terkubur di sana diganjar sorga. Tentu begitu juga mama. Tapi mama gak berdoa kok,” kataku sambil menatap matanya.

“Tah pernah baca catatan mama. Mama tulis jika tanggungjawab mama sudah selesai, Bungsu udah sarjana, mama rela Tuhan memanggil mama. Iya kan?”

Aku diam saja. Lalu dia menyambung, “Mama jangan egois dong, Tah belum berbakti. Izinkan anak-anak mama dapat pahala dengan mengurus mama saat sudah tua,” dia begitu serius dan aku tertawa dibuatnya.

“Ya… pastinya mama juga mau umur panjang. Belum penuh nih taubatnya. Tapi karena kamu udah sarjana dan udah kerja, mama bisa fokus ke diri mama. Allah Maha Adil, Maha Baik, Maha Mengerti. Dia panggil mama ke tanah suci saat beban mama selesai. Memang masih belum menikah kamu dan kak Ye. Tapi mama anggap kalian udah bisa urus diri sendiri. Insya Allah Tuhan akan kasi waktu untuk mama lihat kalian lepas semua. Doa ya, umur mama panjang,” jawabku.

“Gitu dong ma. I love you, Ma,” dan kami pun berpelukan.

“Hallo jamaah, ayo bangun. Sebentar lagi kita sampai di Bir Ali,” suara Ustadz Dadang Purnama menyentak alam sadar dan kenang pada Bungsu pun sirna. Menatap lurus ke depan dan melihat-lihat, di mana gerangan Bir Ali berada, tempat untuk bersiap secara spiritual dan fisik. Bir Ali membantu jemaah memasuki kondisi suci yang diperlukan untuk beribadah di Tanah Suci.

“Nanti sampai di Bir Ali ambil whuduk, shalat dan niat umroh. Laki-laki akan berganti pakaian ihram. Sampai hotel kita cek-in, lalu makan malam, habis itu langsung ke Masjidil Haram, rombongan shalat isya berjamaah dan kita akan memulai tawaf, untuk umroh pertama,” kata Ustadz Mutowif kami ini.

Nawaitul ‘umrata wa ahramtu bihi lillahi ta’ala” (Aku niat melaksanakan umrah dan berihram karena Allah Ta’ala), lalu diikuti dengan ucapan “Labbaika Allahumma ‘umratan” (Aku menyambut panggilan-Mu, ya Allah, untuk berumrah).” Ustadz kembali mengingatkan lafas niat untuk umroh.

Setelah niat diucapkan, jemaah resmi memasuki status ihram dan mematuhi semua larangan ihram, termasuk tidak boleh memakai wewangian, memotong kuku, atau melakukan perbuatan yang dapat membatalkan ihram.

Tak lama, setelah shalat dan berniat, jamaah kembali naik bus dan mulai membaca talbiyah, kalimat yang menandakan ketundukan kepada Allah. Talbiyah terus dilantunkan selama perjalanan menuju Makkah hingga tiba di Masjidil Haram, menambah kekhusyukan dan memfokuskan hati untuk ibadah yang akan dijalani.

Labbaikallahumma labbaik, labbaika la syarika laka labbaik. Innal hamda wan ni’mata laka wal mulk. La syarika laka,” suata jamaah rombongan kami bergema selalu dalam bus.

“Jamaah, kita sudah hampir tiba di Masjidil Haram. Lihat, itu tiang-tiangnya mulai kelihatan,” suara ustadz memukul gendang hati, bukan cuma teliga. Dan saat mulut terus berucap Labbaikallahumma labbaik… air mata juga jatuh. tidak ada yang bergerak, semua diam, tapi suara itu bergetar, tanda tangis juga menyertainya.

Tak terhitung lama, bersama malam yang bercahaya oleh sinar lampu, saat yang kami tunggu tiba. Memasuki Masjidil Haram dan mengambil posisi untuk melaksanakan shalat isya, sebelum tawaf. Menampak Ka’bah terpampang di depan mata, jiwa serasa sirna, hilang entah menuju apa. Bergetar jiwa, bergetar raga.

“Allah, aku mau apa? Tidak ada kecuali petunjukMu, RahmatMu. Engaku telah bawa kaki sejauh ini, menempuh beribu-ribu kilo, dalam waktu begitu panjang, untuk sampai ke rumahMu, hanya taubat yang kuinginkan, taubat nasuha, tuntun aku ke jalan lurus dan Engkau ridhai. Allahummarzuqni taubatan nasuha qoblal maut (Ya Allah, berilah aku rezeki taubat nasuha (taubat sebenar-benarnya) sebelum maut), jiwa berbisik, sukma merintih, betapa kecilnya diri, betapa hina-dinanya diri, dalam besar rahmat yang telah Dia beri.

Usai mengucapkam salam, beberapa jamaah kembali terlihat berpelukan, penuh air mata, tentu jiwa mereka sama, penuh syukur sampai ke hadapan Ka’bah. “Alhamdulilah Bu, kita sampai di sini,” Siti, teman seperjalanan memelukku dan isaknya mulai terdengar. Aku balas memeluk dan menepuk-nepuk punggungnya, untuk menenangkan agar isak itu tidak berubah tangis kuat karena histeria. Aku seka air mata dengan ujung jilbab, pelan dan menguatkan hati, tangis ini boleh tapi tentu tak boleh lupa diri.

Berbaris memasuki Ka’bah kami akan memulai tawaf, mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh kali putaran, yang merupakan salah satu rukun penting dalam ibadah umrah, dimulai dari arah Hajar Aswad dan diakhiri di titik yang sama. Saat mengelilingi Ka’bah, jamaah disunnahkan membaca doa-doa khusus untuk setiap putaran, seperti “Subhanallah walhamdulillah walailahaillallah Allahu Akbar, wala haula wala quwwata illa billahil aliyyil adzim“.

Berdesakan, berhimpitan, saling sikut bahkan harus melewati bawah ketiak jamaah dari negeri lain yang tinggi besar tidak terasa melelahkan, rasa duniawi sirna, hanya ada fokus pada Ka’bah dan doa-doa yang dilafaskan ustadz dan diikuti rombongan, bagi mereka yang tidak terlalu hapal doa. Kami saling berpegangan dan jamaah laki-laki menjadi pagar di depan, samping dan belakang kami.

Jamaah padat dan tadi ustadz sudah menjelaskan, mungkin tawaf pertama ini kami tidak bisa menyentuh Ka’bah, karena di mana-mana manusia yang bertujuan sama, menyentuh Ka’bah. Tetapi pada umroh kedua esok malam, diusahakan jamaah akan menyentuh Ka’bah dan akan dicari waktu di mana jamaah mungin agak sedikit luang, setelah shalat subuh biasanya.

Ustadz Dadang juga menjelaskan, melambai dan mencium tangan saat tawaf hanya disunnahkan untuk Hajar Aswad di awal tawaf dan setiap putaran, bukan di seluruh bagian Ka’bah. Jika tidak bisa mencium Hajar Aswad, jemaah dapat menyentuh atau cukup dengan melambaikan tangan (isyarat) sebagai bentuk penghormatan.

“Saat ramai jangan memaksakan diri untuk mencium atau menyentuh Hajar Aswad karena dapat menyakiti diri sendiri dan orang lain. Mencium atau melambaikan tangan ke Hajar Aswad adalah amalan sunnah dan tidak akan membatalkan tawaf jika tidak dilakukan,” ujar Ustadz Dadang.

Kemudian Ustadz Dadang mengingatkan juga bahwa segala doa, segala pinta hanya pada Allah SWT saja, melalui Ka’bah yang disentuh, bukan pada Ka’bah. Bukan pada benda, tapi pada Sang Pencipta. Kami pun terus berputar.

“Ya Allah ampuni dosa-dosaku, ampuni dosa kedua orang tuaku, ampuni dosa anak-anak ku, ampuni dosa orang-orang beriman yang berjuang di jalanMu, ampuni dosa sahabat-sahabat yang telah berbuat baik padaku dan terus beribadah karenaMu. Berilah kedamaian pada negeri, tempat tumpah darahku.”

Usai 7 putaran ustadz menuntun jamaah ke pinggir, meminum air zam-zam dan melakukan shalat sunnah dua rakaat, sebelum melanjutkan ibadah Sa’i, berjalan atau berlari kecil sebanyak tujuh kali bolak-balik antara Bukit Safa dan Bukit Marwah. Perjalanan tujuh putaran yang juga akan melelahkan, tapi sangat dirindukan, sangat ingin dilaksanakan, agar ibadah umroh tuntas.**

●bersambung

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *