Madinah-Mekkah, Perjalanan Penuh Air Mata (3)

Madinah-Mekkah, Perjalanan Penuh Air Mata (3)

Quba, Aku Datang

“Kita sesaat lagi sampai di parkir bus Masjid Quba. Shalat di sini setara ibadah umroh, sesuai Hadis Nabi Muhammad SAW: “Barangsiapa yang bersuci di rumahnya, kemudian datang ke Masjid Quba dan shalat di sana, maka baginya pahala seperti pahala umrah,” (HR. Ibnu Majah).”

Suara Ustadz Dadang Purnama, tour leader kami terasa bening masuk gendang telinga, mengalirkan linu dan sahdu ke dalam jiwa. Tak dipinta, mata kembali memanas. Dua bulirnya titik ke pipi. Di depan, berdiri megah dalam cat putih Masjid Quba, masjid pertama yang didirikan Nabi Muhammad SAW.

“Tuhan, segala puji bagiMu. Sampai juga langkah kaki ke sini. Allahumma sholli ala Muhammad.”

Jiwa berbisik lirih, merindu keridhaan Allah Sang Pemilik Nyawa. Pemilik raga. Dari balik kaca mata hitam, mata sembab tersembunyi. Beruntungnya bisa shalat di Masjid Quba. Terik matahari sedikit pun tak terasa menghanguskan kulit, oleh sepoi angin yang terus berembus. Negeri tandus yang begitu sejuk.

“Itu ada buggy car, boleh naik dan itu gratis, jamaah akan diantar sampai muka pintu Madjid Quba. Siapa yang ingin jalan kaki silahkan,” kata Ustadz Dadang.

Lumayan jauh memang jarak dari parkiran ke pintu Masjid Quba, bisa sekitar 10 menit jalan kaki. Tapi buggy car, kendaraan yang biasa digunakan untuk mengantar pengunjung dari parkir bus ke Masjid Quba tidak selalu ada, karena terus mobile.

Beruntung sangat, begitu kaki menginjak tanah turun dari bus ada buggy car yang baru terisi dua penumpang. Berlari kecil kami, ada 4 orang segera menaikinya. Dan mata takjub melihat putih bersih dan megahnya Masjid Quba. Jamaah haji atau umroh pasti berkeinginan kuat datang dan shalat dalam mb ɓnasjid ini.

Keutamaan shalat di Masjid Quba berlaku untuk shalat fardhu maupun sunnah. Masjid Quba adalah masjid pertama yang dibangun oleh Rasulullah SAW di Madinah setelah peristiwa hijrah dari Mekkah pada tahun 622 Masehi. Masjid ini dibangun di kawasan desa Quba dan menjadi simbol awal peradaban Islam serta tempat penting dalam sejarah Islam.

Saat Nabi Muhammad SAW tiba di wilayah Quba dalam perjalanan hijrah, Beliau bersama para sahabat membangun masjid ini dengan tangan mereka sendiri. Mulai dibangun pada 8 Rabiul Awwal atau 23 September 622 Masehi, di atas kebun kurma seluas 1. 200 meter per segi.

Konon, Rasulullah SAW bahkan ikut membawa bahan bangunan, hingga dmebu dan pasir menempel di tubuhnya. Setelah selesai dibangun, Rasulullah SAW memimpin shalat terbuka bersama para sahabat.

Sebagai masjid pertama yang dibangun dalam Islam, tempat ini menjadi simbol ketakwaan dan persaudaraan umat Muslim. Awalnya, masjid ini dibangun dengan bahan sederhana seperti batu dan tanah liat, dengan atap dari daun kurma. Kini, Masjid Quba memiliki bangunan megah dan dihiasi dengan arsitektur Islam modern hingga mencapai luas 5.860 meter per segi serta mampu menampung puluhan ribu jamaah.

Masjid Quba disebut dalam Al-Qur’an sebagai rumah ibadah yang didirikan atas dasar ketakwaan. Dalam Surah At-Taubah ayat 108, Allah SWT berfirman yang artinya:

“… Sungguh, masjid yang didirikan atas dasar takwa, sejak hari pertama adalah lebih pantas engkau melaksanakan shalat di dalamnya. Di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Allah menyukai orang-orang yang bersih.” (QS. At-Taubah: 108)

Pintu untuk jamaah perempuan dan laki-laki berbeda. Jamaah perempuan masuk dari pintu arah belakang. Begitu meletakkan sandal di rak yang tersusun rapi di pintu masuk Masjid, hati berdebar kencang.

“Ya Rasulallah sampai juga aku ke dalam masjidmu. Cari kelak aku di akhirat agar bisa bersama mu,” jiwa terus bergumam.

Di sini jamaah tidak terlalu padat seperti di Masjid Nabawi. Karena sehabis shalat sunah, berdoa sebentar, jamaah akan berlalu. Waktu kami sampai di Masjid Quba juga belum saatnya shalat Zuhur, sehingga jamaah yang ada hanyalah mereka yang ingin shalat sunah saja.

Usai shalat kami keluar dari masjid, berjalan kaki menuju sumur Aris (atau sumur Khatam) di bagian depan sebelah barat Masjid Quba. Sumur ini dikenal sebagai tempat jatuhnya cincin Nabi Muhammad SAW di masa kekhalifahan Utsman bin Affan, sehingga sumur ini juga disebut sumur Khatam.

Ustadz Dadang Purnama menjelaskan, Nabi Muhammad SAW sering duduk di tepinya dan menjulurkan kaki ke dalam sumur tersebut. Lalu Abu Bakar, Umar, serta Utsman juga mengikutinya.

Cincin yang digunakan Rasulullah SAW berfungsi juga sebagai stempel untuk mencap surat ke berbagai negara, mengajak memeluk Islam. Cincin ini turun ke Khalifah Abu Bakar kemudian ke Khalifah Umar dan Khalifah Utsman.

Saat Utsman jadi khalifah dan dia juga duduk di pinggir sumur seperti yang dilakukan Rasulullah SAW, tiba-tiba cincin peninggalan Nabi Muhammad SAW tersebut jatuh ke dalam sumur. Sudah dicari berkali-kali, cincin tersebut tidak pernah bertemu. Hingga saat ini.

Saat ini fisik sumur tersebut tidak terlihat lagi, sudah disemen. Tapi pada bagian lokasi sumur ada tanda dengan warna keramik yang berbeda dalam bentuk lingkaran. Banyak jamaah juga memanjatkan doa di sini atau bersalawat dalam hati.

Quba yang megah, Quba yang indah, Quba yang penuh berkah, aku ingin kembali ke sini jika Allah mengizinkan. Memandangmu adalah takjub akan sosok pendiri Quba yang selama ini hanya dibaca dalam buku Sirah Nabawiyah dan Biografi Rasulullah SAW. Perjuangan penuh kepedihan untuk menegakkan agama Allah.

Karena itu, sebaiknya mereka yang hendak pergi haji atau umroh, bacalah dulu riwayat perjuangan Nabi Muhammad SAW, agar hati benar-benar tunduk, patuh dan takluk pada kisah perjuangan Nabi Muhammad SAW. Jiwa merasa ngilu merasa sendu, ingin selalu di sini tapi itu tidak bisa, karena keterbatasan waktu sebagai jamaah umroh.

Quba adalah cinta, Quba adalah nikmat, Quba adalah kerinduan akan kisah hijrah yang membuat Islam berkembang pesat, hingga saat ini. Berada di sini, di M asjid Quba benar-benar khusyuk dan lupa akan duniawi yang selama ini dikejar.

Sambil berniat benar-benar hijrah, mata memandang Quba untuk terakhir kali sebelum bus berangkat, menuju tempat di mana jejak Rasulullah SAW tertinggal, jejak yang membawa cahaya bagi umatNya.

“Ya Allah Ya Rahman, bukakan pintu ampunanMu. Aku benar-benar ingin hijrah, ingin bertaubat. Hapus segala duniawi dari jiwa ganti dengan hanya syukur dan zikir saja padaMu.” Pelan, air mata dihapus.

“Quba panggil aku lagi tentu atas izin dan RahmatMu, ya Allah SWT.”

●Bersambung

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *